
Jam sekolah telah usai, seperti biasa aku bergegas pulang untuk bisa menghindari Rendy lebih awal. Aku berjalan begitu cepat melewati kelas-kelas yang ramai itu. Di dalam kerumunan itu aku sadar, aku melihat orang yang sepertinya ku kenal. Kenapa Eri malah berbalik pergi ke kelas? Penasaran menghantui ku dan firasatku mengatakan akan terjadi hal buruk.
Aku pun memutuskan untuk mengikutinya dari belakang, Saat aku mengikutinya aku terkejut karena kelas yang di datanginya adalah kelas Rendy. Mau apa dia kekelas bajingan itu? Aku sedikit mendekat dan mendengarkan percakapan mereka dari luar kelas.
“hei, nama mu Rendy kan?!” tanya Eri kesal
“HAH….kalau iya kenapa?” balas Rendy kesal
“jangan ganggu evan lagi, dia itu bukan pelayan mu!” teriak Eri
“wah wah wah….bocah kecil seperti mu mau memerintah ku ya?!” wajah Rendy tampak
begitu kesal Tanpa basa basi, Rendy mengayunkan tangannya ke arah wajah Eri.
Eri yang tidak siap seketika menutup mata dan melindungi wajahnya dengan kedua tangan mungilnya. Sesaat sebelum pukulan itu mendarat di wajah eri, tangan Rendy dihentikan oleh seseorang. Tak disangka-sangka, rupanya dia adalah cowok yang ditabrak Evan saat jam istirahat lalu.
“woi! Kau kira Bagus kah mukul cewek seperti itu?!” kata cowok itu kesal
“HAH…” rendy marah
Dengan sekejap pukulan keras menghantam Rendy, Rendy tidak bisa berbuat apa-apa. Itu
adalah perkelahian satu arah, Rendy bahkan tidak bisa membalas satu pukulan sama sekali. Dia sangat kuat dan tinggi, pasti dia memiliki kekuatan untuk mempertahankan diri dari orang-orang jahat seperti Rendy. Rendy hanya terkapar dilantai tak bergerak.
“apa kamu gak papa?” tanya cowok itu
“I iya” jawab Eri
Tanpa berkata apa-apa lagi, dia pergi meningkalkan Eri dan Rendy yang sedang terkapar. Tapi eri menghentikan cowok itu dan menggengam tangan cowok itu untuk menghentikan langkahnya.
“a anu…terimakasih ya, otw nama mu siapa?” tanya eri gugup
“otw? Gak salah denger nih?” batin si cowok
“nama ku Eri” kata Eri malu
“ok. Kalau gitu aku mau pergi dulu” Aldi pergi
keluar kelas itu bersama Eri yang mengikutinya dari belakang. Aku yang melihat mereka berdua keluar dari kelas rendy tidak bisa apa-apa. Aku begitu malu pada eri yang tidak bisa apa-apa saat dia sedang membelaku, cowok macam apa aku ini? Eri
melihat ku begitu khawatir tergambar jelas di wajahnya. Aku yang merasa malu dengan diri ku ini, hanya bisa lari meninggal kan mereka berdua. Begitu badohnya aku!
***
Di SMA X
Aku berjalan menuju pintu masuk sekolah, tiba-tiba ada seseorang yang merangkul ku dari belakang. Saat aku mengarahkan pandangan ku pada orang itu, senyum lebar dan wajah cerah dan ketampanan yang bisa meluluhkan cewek manapun itu ditujukan pada orang seperti ku.
“hei! Kenapa murung pagi-pagi gini?” tanya Aldi
“hah? A anu…engggak papa” jawab ku dingin
“yeyy!” teriak Eri sembari memukul punggungu dengan keras
“aduh…!” aku mengaduh kecil
Kami bertiga entah mengapa sepeti sahabat. Tapi hanya aku seorang yang berpikir, apakah aku pantas mendapat semua perlakuaan ini? Kenapa mereka mau berteman dengan orang macam aku? Aku cuman pecundang, pengecut, dan orang lemah. Tapi kenapa?
Waktu terus berlalu dan entah mengapa aku sedikit demi sedikit membuka hatiku pada
Aldi.
Selama ini aku tidak pernah memperdulikan orang lain selain ibu ku sendiri dan Eri. Namun untuk pertama kalinya aku membukakan hati ini kepada orang lain. Dia begitu baik pada ku dan eri sepertinya menyukai dia. Karena aku dekat dengan Aldi, akhir-akhir ini aku sudah lama tidak mejalakan rutinitas ku sebagai hewan peliharaan.
Aku begitu berterimakasih padanya karena isu anak terkuat dan suka membuat onar ini dikalahkan oleh seorang Aldi, membuat Rendy dkk tidak lagi berani mengusik ku.