Love And Despair

Love And Despair
Pak Agus vs Budi



“siapa yang bisa menjawab soal kependudukan di depan ini?” tanya pak Agus


Suasana kelas begitu hening, tak ada yang berani maju menjawab soal di papan tulis yang mengeluarkan aura menyeramkan itu. Semua orang melirik satu sama lain dan saling tunjuk.


“hem….gak ada yang mau maju ya~” kata pak Agus kesal


“Budi!” panggil pak Agus


“ya pak!” jawab Budi


“sebelah kanan mu maju kedepan!” perintah pak Agus


“fyuhh… selamat~” Budi lega


“untung bukan aku tadi~” kata Budi sambil mengusap-usap dadanya


“setelah Rendy, Budi! Kamu kerjakan soal berikutnya” perintah pak Agus


“I iya pak…” jawab Budi kecewa


“heh… kamu pikir kamu lolos hahaha” gumam pak Agus tertawa sinis


“guruuu kamprettt!” Budi kesal


Saatnya giliran Budi tiba, langkahnya begitu berat dan keringat gugupnya bercucuran. Saat


spidol yang dibawanya menyentuh papan tulis, tiba-tiba dari arah pintu kelas bu Suti lewat dan tersenyum pada pak Agus dan Budi. Secara spontan pak Agus dan Budi membalas senyuman bu Susti.


“heh! Ngapain kamu senyum-senyum terus! Cepat kerjakan soalnya” pak Agus memukul


kepala Budi pakai buku


“iya iya… gak sabaran banget sih~” kata Budi kesal


“dasar! Giliran ada Bu susti aja dia berlagak sok baik” batin Budi


“dasar! Giliran ada bu Susti aja nih anak sok alim” batin pak Agus


TRINGGG TRINGGG TRINGGG


Bel tanda pergantian jam


“AHLAHDULILLAH YA ALLAH!” Budi sujud syukur


“baiklah kalau gitu, pelajaran hari kita lanjutkan minggu depan~” kata pak Agus kesal


Pak Agus dan Budi saling menatap satu sama lain dengan tatapan kesal. Mereka berdua


adalah rival abadi dalam merebutkan hati bu Susti, tidak heran jika keduanya saling tidak


menyukai.


Pelajaran dilanjutkan dengan plejaran olahraga, pelajran yang paling ku benci. Berlari


kesana kemari dan melakukan aktivitas fisik yang menguras tenaga seperti berolahraga adalah kegiatan yang paling ku benci. Aku bukan tipe orang yang suka melalukan aktivitas fisik yang berlebihan hingga mengeluarkan keringat.


“hei, Van~ kamu gak penasaran kah dengan apa yang ada di balik pintu itu~” tanya Budi


“eh, enggak tuh~” jawab ku dingin


“ayolah~ bayangkan ada surga di balik pintu itu” rayu Budi


“emm…” aku bimbang


“baiklah! Akan abang tunjukan pada junior ku, bagaimana caranya menikmati hidup” Budi


tampak percaya diri


“wooo!” kawan-kawan sebejat Budi kagum


“ayo tunjukan pada kami Bud!” kawan bejat Budi mendukung


“kalahkan pintu itu!” kawan bejat Budi mendukung


Budi pun mendekatkan kepalanya di depan pintu itu, perlahan tapi pasti dia membuka pintu itu. Sedikit demi sedikit pintu itu mulai terbuka. Cahaya terang pun keluar melalui celah pintu itu yang membuat silau para kawan-kawan bejat Budi. Akhirnya, mata Budi pun melihat apa yang ada di balik pintu itu. Namun tiba-tiba mata Budi di colok saat dia mengintip di balik pintu itu.


“SAKITTTT! ARGHHHH MATA KUUUUU!” teriak Budi kesakitan


“itulah akibatnya jika kalian macam-macam mengintip kami ganti baju!” kata Siska kesal


“jadi siapa aja yang tadi mengintip? Sini! Biar kubuat buta kalian seperti Budi!” ancam


Siska


“hiiihhh!” kawan-kawan bejat Budi lari


“apa! Kamu juga ikutan ngitip ya?” tanya Siska ngegas


“eh! Enggak enggak!” aku membela diri


“sialan kamu Sis!” kata Budi menahan sakit


“oh… rupanya mata mu masih bisa berfungsi ya~ sepertinya aku meleset beberapa centi.


Apa aku buat buta aja ya kali ini” kata Siska murka


“tuanggu tunggu tungguuu! Aku khilf! aku khilaf!” kata Budi bersujut di depan Siska


“huh… baguslah” Siska tenang


Siska pun kembali masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan mengganti pakainya. Teman-teman Siska tampak tertawa melihat Ssiska yang begitu marah kepada Budi.


“hehehe kalian kayaknya akrab banget sih” kata Wulan


“iya nih. Kalian cocok banget~” sambung Meli


“aku? Cocok sama si mesum itu? Idih~ amit-amit!” kata Siska kesal


“hahaha kami bercanda aja~” tawa Wulan dan Meli