Love And Despair

Love And Despair
Syukurlah



aku yang memiliki sedikit tenaga berusaha sekuat tenaga untuk bergerak. Rasa sakit yang bukan man ini terasa sangat menyiksa. Kaki kiri ku terasa sangat berat, namun aku gak boleh diam aja. Aku menggeretkan gigi ku dan menahan rasa sakit di paha ku, aku berlari sekencang yang aku bisa untuk sampai pada Anita.


“Syukurlah… aku masih sempat” kata ku memegang tangan Eri


Aku berhasil mencegah Eri menusuk Anita dengan cutter, namun aku tidak bisa menghentikan serangan Eri dengan baik. Perut ku tertusuk oleh cutter milik Eri. Seketika darah muncrat dan mengenai wajah Eri. Eri sangat terkejut dengan apa yang saat ini terjadi.


“KYAAAAAA!” Eri berteriak histeris


Aku memanfaatkan keadaan ini untuk memukul wajah Eri. Eri pun terpental jauh dan tersungkur di lantai, untuk beberapa saat Eri tak sadarkan diri. Tangan ku yang gemetaran karena menahan rasa sakit mencoba memegang cutter yang tertancap di perut ku. aku mengambil nafas panjang dan menguatkan mentalku untuk mencabut cutter ini.


“ARRGGGG!” aku berteriak karena kesakitan


Darah menyembur keluar saat aku mencoba menarik cutter itu. Anita yang melihat ku kesakitan menangis dan dia terlihat sangat ketakutan. Akhirnya cutter itu bisa ku cabut. karena rasa skit yang luar bisa dan juga aku banyak mengeluarkan darah, membuat ku hampir pingsan tak sadarkan diri. Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran ku, aku mencoba membuka ikatan tali Anita. Setelah berhasil melepaskan ikatan tali Anita, Anita pun langsung memeluk ku dengan sangat erat.


“EVAN! EVAN! KAMU GAK PAPA? Hiks…” Eri menangis dan mengoyang-goyangkan badan ku.


“Ayo…kita harus keluar dari sini” kata Anita panik


Anita menguatkan dirinya dan membopong ku keluar dari lab itu. Saat Anita sedang membopong ku menuju pintu keluar, tak disangka-sangka Eri telah bangun dan dia kini tepat berdiri dibelakang kami berdua. Dia sangat marah dan dari wajahnya tergambar jelas nafsu membunuhnya. Dia mengangkat sebuah kursi kayu yang ada di lab itu dan menghantamkan kepada Anita.


Aku yang sadar dengan kehadiran Eri pun langsung mendorong Anita menjauh. Sebagai gantinya akulah yang mendapat hantaman keras dibelakang kepala ku hingga membuat ku tidak sadarkan diri.


“Enggak… enggak…enggak…! Evan!” Eri merasa menyesal karena tak sengaja menhantam Evan


“ERI!!!” Anita yang marah pun langsung menerjang Eri


Anita memukul wajah Eri dengan sangat keras, namun sayangnya hal itu tak berdampak apa-apa pada Eri. Hal itu hanya membuat Eri tambah semakin marah, Eri membalas pukulan Anita dengan tinju keras tepat mengenai perut Anita.


Anita yang memiliki fisik lemah dan tidak memiliki pegalaman berkelahipun menjadi samsak tinju oleh Eri. Anita berulang kali di tendang dan dipukul hingga tersungkur di lantai beberapa kali. Namun Anita tidak diam saja dipukuli oleh Eri, Anita melawan Eri mati-matian meskipun dia tahu dia tidak memiliki kekuatan lebih untuk mengalahkannya. Dia mencoba melawan sekuat tenaga meskipun tidak ada satupun pukulannya yang mengenai Eri.


Karena merasa sudah lelah memukuli Anita, Eri pergi meninggalkan Anita yang hampir sekarat itu untuk mengabil suatu barang yang telah dia sembunyikan. Rupanya Eri mengambil sebuah jerigen yang berisi bengsin. Eri menungkan dan menyebarkan bengsin itu kepenjuru ruangan. Setelah selesai menuangkan bengsin itu, dia melempar jerigen itu lalu mengambil korek api kayu yang ada disaku jaketnya.


“Kalau sudah begini, aku bunuh saja semuanya. Kalau aku gak bisa mendapatkan Evan, lebih baik aku mati bersamanya” Dia menyalakn korek api itu


“Tentu aku gak bakal mati sendirian, aku akan membawa mu ikut bersama ku hahaha” kata Eri stress. Dia melemparkan korek api itu


“Ah… padahal aku berniat menggunakan ini untuk membakar mu hidup-hidup…” kata Eri kecewa