Love And Despair

Love And Despair
Kunci Memaafkan



Itulah yang kupikirkan, tapi suatu hari Rendy menantang aldi bertemu dengannya di suatu


tempat. Aku mengikutinya diam-diam. Ternyata aldi telah dikepung dengan anggota Rendy yang siap menghajarnya kapan pun. Kaki ku gemetaran, aku ingin membantunya tapi tidak tahu harus berbuat apa. Aku sempat berpikir untuk lari dari tempat itu, namun…


“kau kira aku menyesal telah menggagu hewan peliharaan mu hah!” kata Aldi


“dia bukan hewan peliharaan! Dia adalah teman ku yang sangat berharga!” kata Aldi dengan keren


“banyak bacot juga anak ini!” Rendy kesal


Teman-teman rendy mulai menghajar Aldi secara sepihak.


Kata-kata Aldi berdenging di kepala ku. Apa yang aku pikirkan, dia rela di pukuli demi aku! Sementara si pengecut ini mau lari meninggalkan temannya dihajar begitu saja. Dengan bodohnya aku terjun kedalam kekacauan itu dan menjingkang bajingan-bajingan itu dari belakang. Namun dengan kehadiran ku tidak mengubah apapun.


Kami berdua tetap dihajar habis-habisan oleh bajingan-bajingan itu. Setelah puas memukuli kami, kami ditingalkan begitu saja tergeletak di sana.


“ma maafkan aku…karena aku kamu sampai begini” kata ku menyesal


“santai aja kali. Toh mereka juga harus dihajar” kata Aldi tersenyum


“yang dihajar itu kita kan. Kenapa malah menatakan hal sok keren gitu?!” kata ku


mengejek


“-hahahaha” kami berdua tertawa bersama


Hanya tawa itu saja sudah cukup buat kami untuk menghilangkan rasa sakit di sekujur


tubuh kami. Semenjak saat itu, kami menjadi sahabat dekat dan selalu pergi bersama kemanapun.


Aku ingin sekali memukul wajah Rendy


dengan tangan ku, tapi apa yang bisa dilakukan oleh ku? aku lah yang akan berahir mengenaskan jika tetap memegang kuat rasa balas dendam ini, tapi aku mencoba melupakannya meskipun berat.


Memaafkan adalah kunci memutus rantai kebencian, itulah yang dikatakan oleh seorang karakter fiksi dari komik favoritku! Tapi aku bukan seorang yang naif yang akan memaafkan mereka. perasaan kesal ini mungkin akan selalu ada dalam diriku.


***


Kembali ke time line utama, 3 tahun setelahnya di SMA X


Kami berempat sampai di tempat yang selalu ramai dikunjungi siswa-siswi yang datang


dengan perut kroncongan. Tempat dimana bau minyak dan bau-bau lainnya berkumpul menjadi satu.


Aku tidak ingin menyebutkan satu-satu bau-bau apa saja yang tercium oleh ku, tapi satu hal yang pasti, bau yang paling kubenci pasti tidak pernah absen meramaikan perbauan di tempat ini, ya… benar! Bau ketek.


“hallo bu! Dah lama nih gak makan disini!” kata Aldi senang


“wah…! Nak aldi dah pulang. Mau pesan seperti biasanya kan?!” kata ibu kantin


“iya bu, seperti biasa” katanya sembari tersenyum


Mereka berdua sangat dekat. Tapi tidak hanya ibu kantin itu saja yang terpesona dengan


ketampanan kapten tim futsal itu, ibu-ibu kantin lainnya juga kagum dengan ketampanan anak itu. Dengan kepopulerannya, bukan hal yang sulit untuk mendapatkan pacar, pikir ku. Tapi kenyataannya dia masih jomblo tulen dari lahir sama seperti ku. Aku tidak tahu apa yang membuatnya tidak memiliki pacar, apakah dia homo? hahaha gak mungkin kan Ya….kan?!