
“aku memilih Evan karena aku sudah jatuh cinta dengannya saat pertama kali bertemu
dengannya. Dia baik sekali pada ku padahal kami baru pertama kali bertemu. Dia menyelamatkan ku berulang kali saat aku dalam kesusahan. Dia selalu ada saat aku membutuhkan pertolong” jawab
Anita tersenyum. Anita mengangis dan tampak begitu lega setelah mengatakan perasaaanya
sesungguhnya
“lalu….kenapa kamu menerima ku waktu itu?” tanya Aldi
“itu…aku tidak bisa menjawabnya” wajah Anita begitu ketakutan
“kamu cuman mempermainkan ku kan?!” teriak Aldi
“bu bukan! Bukan begitu…tapi…aku tidak bisa menjelaskannya” jawab Anita gugup
“sudah kuduga, kamu ini hanya cewek murahan yang mau bermain dengan siapa saja” kata
Aldi
Aku yang merasa tak terima dengan ucapan Aldi langsung berlari ke arahnya dan memukul
wajah bajingan itu. Tapi sayangnya, karena fisik ku yang lemah, pukulan ku tidak menimbulkan
efek apapun padanya.
Aldi terlihat sangat marah setelah menerima satu pukulan telak di pipinya. Dia pun kembali
menyerang ku membabi buta. Dia tidak main-main kali ini, sepertinya dia benar-benar ingin membunuh ku.
“he hentikan!” teriak Anita
Anita yang ketakutan melihat Aldi yang begitu beringas, mencoba menghentikan Aldi
untuk kedua kalinya. Saat dia mencoba mendekat, dia tidak sengaja menerima salah satu pukulan dari Aldi yang membuatnya terjatuh di lantai.
Seketika Aldi langsung berhenti memukul ku saat dia sadar tidak sengaja memukul Anita.
Darah mengalir keluar dari hidung Anita, wajah Anita tampak begitu ketakuan. Aldi yang melihat
Anita mimisan merasa sangat bersalah.
Aku memanfaatkan keadaan ini untuk memukul wajah Aldi. Aku kumpulkan semua
kekuatan di tangan kanan ku dan aku arah kan pukulan ini tepat di bawah dagunya. Seketika dia terpental jauh hingga tersungkur dilantai. Dia tampak tak sadarkan diri. Aku dan Anita pun bergegas pergi meinggalkan kelas itu.
“ini tidak benar! Mustahil aku bisa kalah dengan cowok menyedihkan sepertinya. Tidak
ada hal yang tidak bisa aku dapatkan! Jika aku tidak bisa mendapatkannya, maka akan aku
***
Kupukir wajah ku tidak akan berbetuk lagi setelah menerima semua pukulan-pukulan
dengan nafsu membunuh itu. Aku sempat kebingunan untuk mencari alasan wajah ku yang memar begini, tapi untungnya ibu ku dapat menerima semua alasan ku.
Sudah dua hari setelah kejadia itu dan hari ini adalah hari terakhir liburan sekolah. grup
chat begitu sepi, tidak ada yang ribut di grup seperti biasanya, Bahkan Aldi keluar dari grup. Di saat aku sedang asik menonton video konyol di instasam, tiba-tiba saja Anita mengirim pesan pada ku.
“Van? Kamu sibuk gak?” tanya Anita
“enggak” jawab ku datar
“kita bisa enggak ketemuan hari ini? ada hal yang ingin ku katakan pada mu” balas Anita
“mau ngomongin apa lagi?” balas ku agak kesal
“kamu marah ya?” Anita sedih
“gak” balas ku singkat
“aku ingin mejelaskan semuanya pada mu. Alasan kenapa aku menerima Aldi waktu itu
dan semua rahasia yang “Dia” miliki” Anita sangat serius
“kenapa gak dijelaskan lewat chat aja?” jawab ku malas.
“enggak bisa. Aku harus ngomong langsung sama kamu” jawab Anita
“terserah deh…” jawab ku malas
“emangnya mau ketemuan dimana?” tanya ku
“gimana kalau kita ketemuan di toko kue ibu mu?” jawab Anita
“bisa aja” jawab ku
“ya udah, aku berangkat kesana dulu ya” chat Anita
“ya, aku tunggu di toko” balas ku
Aku telah sampai di toko kue ibu ku duluan. Aku menunggu Anita di depan toko ibu ku.
Sebenarnya aku sedikit kesal dengan gadis itu, tapi karena dia sangat serius dengan hal ini maka aku putuskan untuk mendengar penjelasannya. Setelah berselang tiga puluh menit, aku melihat dari kejauhan Anita sudah datang.