Love And Despair

Love And Despair
Reuni (3)



Setelah melalui perjalanan yang panjang, Akhirnya kami sampai di Yogyakarta kota


pelajar. Setelah turun dari bus, kami langsung mencari hotel terdekat. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh dengan berjalan kaki akhirnya kami menemukan sebuah hotel. Setelah memesan sebuah kamar, kami menaruh semua barang bawaan kami.


“Aaahhhh…. Akhirnya kita sampai juga” kata ku pegal-pegal. Aku langsung berbaring di atas Kasur yang empuk itu


“Aku mau cuci muka dulu. Habis ini kita langsung cari makan” kata Putri mencari handuk didalam tasnya


“Siap!” aku mengacungkan jempol


Kami berniat untuk mencari rumah makan terdekat untuk makan siang kami. Kami pun


memutuskan untuk makan bakso yang ada didekat hotel. Setelah selesai makan, kami pun langsung memulai mencari alamat rumah Ayah Putri.


Hari sudah semakin sore, tapi kami masih belum menemukan rumah Ayah Putri. Setelah


menelusuri beberapa tempat dan bertanya-tanya pada orang-orang sekitar, akhirnya kami menemukan rumah Ayah Putri.


Butuh perjuangan keras untuk menemukannya dan sudah hampir Maghrib. Saat Putri hendak mengetuk pintu rumah itu, dia tampak sangat ragu-ragu. Dia menjauhkan tangannya yang sudah hampir menyentuh pintu kayu itu.


“Sudah terlambat kalau mau kembali” kata ku


“Aku tahu!” kata Putri gugup. Dia pun memberanikan dirinya untuk mengetuk pintunya.


“Assalamuallaikum!” salam Putri


“Waalaikumsalam” jawab seseorang. Terdengar suara yang menjawab seperti suara seorang wanita. Pintu itu pun terbuka dan munculah seorang wanita.


“Ya… ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu


“Anu… a-apa benar ini rumahnya pak Habibi?” tanya Putri gugup


“Ya, benar. Ada keperluan apa ya dengan suami saya?” tanya balik Istrinya


“Hiks…hiks… sebenarnya saya adalah anak suami anda” ungkap Putri menangis


“Astaga…” sang istri terkejut


“Ayo mari masuk dulu…” sang istri mempersilahkan kami masuk


“Silahkan duduk dulu” kata sang istri


Kami duduk dan menunggu dengan perasaan gugup. Putri terlihat sangat gugup, aku pun


mencoba menenangkannya dengan menggenggam telapak tangannya. Putri membalas genggaman ku dengan sangat erat.


Tak berselang lama, orang yang kami tunggu-tunggu akhirnya muncul. Ayah Putri yang terlihat cukup tua menatap Putrinya dengan perasaan rindu yang mendalam. Putri tak berkedip sedikitpun saat melihat sosok ayahnya. Seketika air mata Putri mengalir, dia langsung berlari memeluk ayahnya itu.


“AYAHHHH! huhuhu hiks….” Putri menagis tersedu-sedu didalam pelukan Ayahnya


“Pu-Putri…” Ayah Putri mengusap-usap kepala anaknya dengan pelan


Aku merasa terharu dengan pertemua anak dan ayah itu. Aku pun keluar sebentar duduk di


menggosk-gosok telapak tangan ku karena kedinginan, tiba-tiba istri dari ayah Putri membawakan ku the hangat.


“Cuaca di Yogyakarta selalu dingin ya…kamu asli mana?” tanya sang istri


“Ah, hehehe… saya asli Malang tante. Di Malang juga sama aja dinginnya kayak disini”


jawab ku cangguang.


“Kalian datang kemari cuman berdua?” tanya sang istri


“Ya tante…kami cuman berdua datang kesini” jawb ku canggung. Aku pun meminum teh hangat yang diberikan pada ku


“Hem… jadi kalian berdua ini pacaran?” tanya sang istri


“Buuuufffsss” aku menyeburkan minuman ku


“Anu…enggak tante. Kami gak pacaran, saya cuman temannya aja” jawab ku


“Hem…teman ya?! kok teman sampai mau ngantar temanya jauh-jauh datang kesini ya?” sang istri mulai curiga


Aku mulai berkertingat dingin. Tiba-tiba Putri memanggilku masuk kedalam dan mengajak


ku masuk kedalam. “Untunglah… aku selamat” batin ku. Putri memperkenalkan ku pada ayahnya dan Kami semua mengobrol santai. Kami makan malam bersama dengan ayah Putri dan istrinya. Malam sudah semakin larut, kami pun hendak berpamitan dengan ayah Putri dan istrinya.


“Loh… udah mau pulang aja” kata Ayah Putri


“Iya… udah malam” jawab Putri


“Sementara ini kalian sekarang tinggal dimana?” tanya Ayah Putri


“Kami tinggal di hotel om” jawab ku


“Kenapa gak nginap semalam disini?” Ayah Putri menawari


“Emm….” Putri tampak bimbang


“Gak papa kali. Kita menginap disini semalam” kata ku pada Putri. Putri pun terlihat senang setelah mendengar perkataan ku.


Pada akhirnya, kami pun menginap di rumah ayah Putri. Tak kusangka aku bakal tidur


sekamar dengan Putri. Karena aku merasa tidak enak padanya, aku memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu. Saat aku sudah tertidur, tanpa kusadari ternyata Putri memberikan selimut pada ku.


Saat dia hendak pergi meninggalkan ku, Putri melihat kearah bibir ku. Wajahnya sangat


merona dan jantungnya berdegup dengan kencang. Timbul perasaan aneh pada hatinya saat menatap ku tertidur pulas. Putri perlahan mendekatkan wajahnya padaku. Dia menatap bibir ku dengan sangat dalam. Putri yang sudah tidak tahan dengan perasaannya pun langsung mencium ku yang sedang tertidur. Setelah merasakan ciuman manis dengan ku, Putri langsung lari kembali ke kamarnya dengan wajah mau-malu.


“Apa yang sebenarnya telah ku lakukan?” kata Putri gemas. Jatungnya masih berdegup


dengan kencang dan dia masih mengingat kejadian tadi. Dia mengusap-usap pelan bibirnya sambil membayangkan wajah ku. Sangkin gregetannya, akhirnya dia melompat kekasurnya dan langsung mencoba untuk tidur.