
Setelah Evan sadar, Eri masih melanjutkan sanjiwara kecilnya. Eri sedikit melunak kepada Anita agar Evan tidak terlalu menyadari tindakannya selama ini. Eri tidak ingin membuat Anita di bully untuk sekarang karena Evan baru saja bagun dari koma yang panjang.
“Untuk saat ini aku biarkan kamu bernafas lega. Berterimakasihlah pada ku karena mood ku lagi bagus. Namun setelah semuanya sudah kembali normal… disitulah akhir bagi mu” pikir Eri
Sepertinya Eri terlalu lama membiarkan Anita merasa nyaman dengan ketenangannya selama ini. Eri hampir membiarkan Anita mencium Evan yang tak sadarkan diri karena tenggelam di pantai. Eri mulai geram dengan tindakan Anita yang sudah mulai berani melawannya.
Eri selalu mengawasi Anita, dia mengikuti Anita kemanapun Anita pergi. Hingga suatu hari, Eri mengikuti Anita hingga sampai di taman kunang-kunang. Eri berdiri cukup lama karena mengawasi Anita yang sedang duduk sendirian ditaman itu.
“Cih! Siapa sih yang lagi ditunggu sama cewek ini?” gumam Eri kesal
Setelah beberapa lama, Anita tiba-tiba menghubungi seseorang. Setelah menghubungi orang itu, wajah Anita tampak sangat sedih. Eri mencoba berpikir keras siapakah yang tadi dihubungi oleh Anita.
“Mungkinkah Evan yang tadi dihubungi oleh Anita?” pikir Eri
“Kalau benar begitu…berarti ini masuk akal. Evan tidak bisa bertemu dengan Anita karena hari ini Evan sedang pergi keluar kota untuk menemani Putri mencari Ayahnya” pikir Eri
“Oh… jadi kamu mau membeberkan rahasia ku ya~” kata Eri kesal
“Okay… kamu telah menyia-nyiakan kesempatan terakhir mu. Akan kubuat kamu sekali lagi merasakan neraka” kata Eri senang. Setelah itu, Eri pun pergi meningalkan taman itu
Didalam kamarnya, Eri berjalan kesana kemari dengan wajah yang sangat bingung. Eri kehabisan ide untuk memulai pembullyan-nya terhadap Anita. Eri berpikir keras cara apa yang cocok untuk memulai aksinya ini. setelah sekian lama berpikir, dia teringat masih memiliki foto Anita yang hanya menggunaka bra.
“Bisa…! Bisa…! Bisa…! Ini bisa dipakai!” kata Eri girang
“Ada untungnya rupanya aku waktu itu meng-foto Anita” kata Eri memuji dirinya sendiri
Eri pun mengirim foto itu ke dalam grup kelas di sekolahnya dan juga di internet menggunakan akun palsu dan nomor palsu. Seperti yang Eri perkirakan, gossip menyebar luas dan mereka semua percaya dengan foto itu.
Selanjutnya, Eri mengerahkan pion-pionnya untuk membully Anita. Eri tidak ingin mengotori tangannya sendiri hanya untuk melihat mainannya tersiksa. Dia lebih suka melihat Anita menderita dari balik layar. Pada hari dimana dilaksanakannya lomba membuat madding kelas, Eri mencoba meyakinkan Evan untuk meninggalkan Anita. Eri mencurahkan semua hatinya pada waktu itu, namun dia tetap gagal untuk meyakinkan Evan.
Kesal dengan usahanya yang gagal, Eri secara pribadi menemui Aanita setelah sepulang sekolah. namun, tanpa Eri sadari mereka berdua ternyata sudah di awasi oleh Putri. Putri menguping pembicaran Anita dengan Eri di turunan tangga itu.
“Aku sudah bilang kalau kamu gak boleh dekat-dekat dengan Evan kan?!” kata Eri kesal
“Sudah cukup! Aku enggak akan menuruti mu lagi!” balas Anita marah
“Hah?! sekarang kamu udah mulai berani ya?” Eri mulai naik pitam
“Aku gak butuh persetujuan mu untuk melakukan apa yang kuinginkan” kata Anita
“Dan satu lagi… aku ingin memberikan kabar gembira padamu. Sekarang aku sudah resmi pacaran dengan Evan~” kata Anita tersenyum
“Hah!” Eri terkejut
“Dasar cewek sialan!” Eri menampar Anita dengan sangat keras
Eri yang kesalpun menyeret Anita masuk ke dalam salah satu kelas untuk memberikan pelajaran kepada Anita. Setelah sampai di dalam kelas, Eri menatap mata Anita. Mata Anita memancarkan cahaya, kini dia sudah tidak takut lagi dengan Eri. Eri yang melihat tatapan seirus Anita merasa sangat kesal hingga membuat wajah Eri sangat merah. Eri pun mencoba mengambil Cutter yang ada di dalam saku jaketnya, namun saat dia hendak mengeluarkannya Putri tiba-tiba datang membuatnya mengurungkan niatnya. Eri pun pergi meninggalkan kelas itu dengan perasaan marah.