
Aku duduk dibangku panjang seorang diri jauh dari keramaian. Aku hanya merenung dan
menundukan kepala disana. Tiba-tiba minuman kaleng dingin ditempelkan di pipi ku hingga
membuat ku terkejut.
“oh…rupanya kamu toh” wajah ku tampak begitu murung
“ngapain sendirian disini?” tanya Putri sembari duduk di dekat ku memberikan minuman
kaleng itu
“enggak, aku cuman lagi pengen aja” jawab ku mengelak
“oh… dasar anos” kata Putri sembari meminum minuman kalengnya
“kukira kamu lagi patah hati, makanya lari kesini” kata Putri menyeringai
“egh…” kata-katanya langsung menusuk dada ku. Rupanya dia tahu perasanku terhadap
Anita. Aku memang menyedihkan, aku hanya bisa lari dari kenyataan.
“Anita pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dari pada diriku” kata ku sedikit
tersenyum
“lagian Aldi orangnya baik dan dia juga cukup populer. Mereka akan jadi pasangan hebat
kalau mereka pacaran nanti” kata ku sedikit lega
“siapa dirimu yang menentukan pantas tidaknya kamu berada disisinya!” teriak Purti kesal
Putri tampak begitu kesal setelah mendengar kata-kata ku. Aku begitu terkejut kenapa dia
bisa marah-marah begitu. Wajahnya memerah, dia menggengan kaleng minumannya begitu keras. Namun disisi lain wajahnya juga tampak begitu sedih.
“yang berhak memutuskannya adalah Anita” sambung Putri
“yang kamu lakukan cukup berusaha mendapatkan hatinya” Purti menatapku dengan serius
“Kenapa kamu tetap murung? Apa karena kamu kena tikung teman sendiri?!” ejek Putri.
Wajahnya tampak begitu merendahkan membuatku sangat kesal
“aku tidak di tikung oleh siapapun. Hanya saja dari awal aku tidak ada niatan untuk
melanjutkannya” balas ku kesal
“Bohong! Kamu aja yang terlalu pasif dan membiarkan semuanya berlalu begitu saja” Putri tambah kesal setelah mendengar jawaban ku
Aku pun tersulut amarah mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Putri. Tanpa pikir
panjang aku mengeluarkan semua isi pikiran ku.
“kenapa kamu begitu peduli sama aku? Kamu kira aku enggak berusaha? Kamu kira aku
ingin berakhir begini? Kamu kira aku ingin berada di posisi ini?” teriak ku kesal pada Putri. Dia tampak terkejut saat aku berteriak di depannya
“enggak! Tapi keadaan memaksa ku… “ teriak ku kesal. Wajah ku begitu memerah
“Aldi…dia teman ku, aku gak bisa merebut Anita darinya” kata ku murung sekaligaus
“tapi, perasaan ku terhadap Anita bukanlah kebohongan!” kata ku yakin
“akhirnya…kamu jujur pada dirimu sendiri” kata Purti tersenyum
Putri kembali meminum minuman kaleng itu. Dia tampak lega melihat ku setelah aku
mengeluarkan semua isi hati ku. Aku sadar tindakannya sangat membantu ku, dia mencoba membuat diriku terbuka dan meringankan beban didalam diri ku dengan mengeluarkan isi hati ku.
“hah~” Putri menghela nafas sembari menutup mata
“kalau aku jadi Anita, aku pasti lebih memilih dirimu dari pada si Aldi” Purti keceplosan.
Seketika Putri terkejut karena dia sadar kalau dia tidak sengaja mengatakan hal itu.
“eh?” aku terkejut sekaligus bingung
“bu bukan berarti aku mengatakan itu sebagai diri ku loh!” Putri mengelak. Wajahnya
merona dan dia tersipu malu setelah mengatakan itu.
“ah! Itu… anu…itu cuman perandaian-perandaian~ hehehehe” katanya cannggung malu-
malu
“arghhh….” Putri tampak kesal sendiri karena keceplosan tadi
“intinya kamu harus tetep semangat. Jangan murung terus karena Anita ditembak orang
lain. Kamu masih punya aku- eh maksud ku, kamu masih punya kami sebagai teman-teman mu” Purti tampak begitu bersemangat sembari menunjuk wajah ku
“masih banyak cewek diluar sana yang gak kalah cantik dengan Anita. Jadi jangan hanya
terjebak dalam masa lalu, okay~” kata Putri tersenyum manis pada ku
“terima kasih ya… kamu dah mau jadi teman anak ansos kayak aku” kata ku tersenyum
pada Putri
Seketika wajah Putri memerah dan tersipu malu setelah melihat aku tersenyum padanya.
Dia langsung membalikan badan, dia berusaha keras menutupi wajahnya yang tersipu malu. Dari
kejauhan, tampak Eri berlari menuju ke arah kami. Dia berlari sembari melambaikan tangan dengan ceria.
“loh rupanya Evan disini toh. Aku tadi nyari-nyari kamu gak ketemu loh~” Eri menggerutu.
Wajah bulantya yang kesal sangatlah imut. Meskipun dia kesal sekalipun dia tetep imut dan selalu tampak ceria di situasi apapun.
“hehehe…maaf” kata ku bersalah sembari mengusap-usap kepala ku
“humpf” Eri yang cemberut imut banget
“kalau gitu aku pergi dulu ya…” Purti berjalan pergi meningkalkan kami
“ah, ya….makasih ya!” teriak ku senang
Putri hanya melambaikan tangan dengan membelakangi kami. Aku melihat punggungnya dari belakang, Berjalan mewetai lorong pengubung dunia abu-abu ini dengan dunia penuh warna itu. Dia berjalan melewati batas dunia itu, seketika aku terkejut. Aku dapat kembali melihat warna yang kukira tidak bisa melihatnya lagi. Aku bersyukur punya teman seperti dia, aku merasa sangat bersalah telah melupakannya beberapa kali, lain kali aku harus meminta maaf padanya.