Love And Despair

Love And Despair
Studi Tour Bersama Gemerlap Bintang (3)



Disaat aku hanyut dalam permainan musik yang dibawakan oleh grup mucik itu, mata ku


tak sengaja melihat Budi dan Siska yang sedang bergandengan tangan menonton pertunjunkan musik jalanan itu juga. Aku tidak menyangka mereka berdua juga melakukan hal sama. Aku pun menarik tangan Eri dan Anita keluar dari kerumunan itu.


“A-ayo kita lanjut jalan-jalannya” ajak ku gugup


“Eh eh… iya” jawab Anita bingung


Kami pun melanjutkan jalan-jalannya. Setelah cukup lama kami menyelurusi jalan kota,


aku melihat jam di hp ku. Aku pun terkejut, ternyata sudah larut malam. aku pun mengajak para gadis untuk kembali ke penginapan.


“Udah jam segini nih, ayo kita balik yuk” ajak ku


“-iya” jawab mereka bertiga


Kami pun berjalan kembali menuju penginapan. Di tengah perjalan kami melewati


kerumunan pertunjukan music itu lagi. Setelah sekian lama berjalan aku baru sadar ada sesuatu yang kurang. Saat aku menoleh kebelakang aku Cuma melihat Eri dan Putri.


“Lah! Mana Anita?” tanya ku panic


“Hah? Dia dari tadi dibelakang ku kok…” kata Putri terputus


“Loh! Kemana dia?” Putri juga ikut panic


“Hadehhh… anak itu hilang lagi. Baru lengah dikit aja udah ngilang aja tuh anak” Eri kesal


“Duh, udah jam segini lagi” batin ku panic


“Kalian pulang aja dulu. Aku mau cari Anita” kata ku


“Enggak! Kami juga ikut cari dia” tolak Eri


“Enggak! Kalau kalian juga ikut mencari nanti


kita semua bakal kena hukum kalau sampai


lambat pulang. Aku gak pengen kalian kena hukum, biar aku aja yang cari Anita” kata ku


“Tapi…” Eri sangat khawatir


“Udah…santai aja. Bentar aja nih” aku mnegusap-usap kepala Eri


“Ayo kita jalan, aku percaya sama Evan kok. Jangan sampai telat ya” kata Putri menarik


tangan Eri


“Siaap!” aku mengacungkan jembol ku


***


Anita tampak begitu ketakutan dan berjalan pelan di tengah trotoar itu. Sesekali dia melihat kesekeliling, jalan sepi dan hening itu membuatnya sangat takut. Saat dia sedang berjalan pelan, tiba-tiba datang beberapa orang yang menghampirinya.


“Halo neng~ sendirian aja nih?” kata salah seorang laki-laki


“Mau kemana nih jalan sendirian kayak gini?” sambung temannya


Anita sangat ketakutan dan dia tidak berani menjawab pertanyaan mereka. Anita yang takut pun lari dari orang-orang yang berniat jahat itu, Sontak orang-orang itu pun mengejar Anita. Anita terus berlari tanpa tahu tujuannya. Dia melihat kesekeliling dan tidak ada tempat yang aman. dia sudah berlari cukup jauh dan hal itu membuatnya ngos-ngosan dan berhenti sejenak.


Tiba-tiba dari belakangnya muncul tangan yang menutupi mulutnya dan menyeretnya


masuk kedalam sebuah gang kecil. Anita yang terkejut pun langsung merontak-rontak. Tangan dan mulutnya di pegang sangat kuat. Anita sangat ketakutan dan dia hampir ingin menangis.


“Sssshhh… diem. Nanti ketahuan” kata Evan pelan. Anita yang sadar dengan suara itu pun


“Woi! Dimana dia?” teriak seorang laki-laki


“Gak tau, cewek itu kenceng banget larinya” jawab temannya


“Cih! Ayo cari lagi! Kayaknya dia belum jauh dari sini” perintah laki-laki itu


Evan dan Anita bersembunyi dibalik tong besar yang ada digang sempit itu. Mereka duduk


disana sambil menunggu orang-orang yang mengejar Anita pergi agak menjauh dari gang itu. Ketika sudah dirasa aman, Evan melepaskan gemgamannya dari tangan Anita.


“Fyuh…untunglah mereka sudah pergi” Evan melepaskan tangannya dari mulut Anita


“Ma-makasih ya…sorry aku kira kamu tadi salah satu dari mereka” kata Anita masih


ketakutan


“Hah? Ahahaha…gak papa, santai aja” jawab Evan canggung


Mereka berdua duduk saling berhadapan didalam gang kecil itu. Suasana canggung


dirasakan oleh mereka berdua. Disatu sisi, Evan sangat gugup karena duduk berduan dengan Anita di dalam sebuah gang, disisi lain Anita sangat sedih dan bersalah atas tindakaknya itu.


“Rasanya seperti déjà vu ya…” kata Anita


“Eh…” Evan terkejut


“Dulu… kayaknya kita juga seperti ini, kamu datang menyelamatkan ku dari orang-orang


jahat” kata Anita malu


“I-iya…” jawab ku gugup


“Sudah kuduga, Dari dulu kamu memang cahaya bagi ku. Selalu datang disaat aku sedih, selalu datang menyelamatkan ku dan selalu ada untuk ku” ungkap Anita tersipu malu.


Wajahnya sangat merona Setelah mengungkapkan perasaannya, Anita tiba-tiba memejamkan mata didepan Evan. Evan pun gugup dan bingung harus berbuat apa di situasi seperti ini. Evan akhirnya terbawa


suasana dan mendekatkan wajahnya pada Anita. Perlahan, bibir mereka berdua saling bertemu. Bibir Evan menyentuh lembut bibir Anita yang basah.


Ciuman mereka semakin dalam, mereka berdua hanyut dalam ciuman penuh makna dan


manis itu. Evan memeluk pelan Anita dengan kedua tangannya. Anita semakin terbawa suasanan, kini kedua tangan Anita meremas pelan baju Evan.


Setelah beberapa saat, mereka berdua melepaskan ciuman mereka. Wajah mereka berdua sangat merona dan malu-malu. Sekali lagi mereka berciuman, ditengah malam yang dingin dan berembun namun mereka berdua merasa sangat begitu hangat, baik itu didalam hati mereka ataupun tubuh mereka.


Waktu seloah terhenti dan hanya milik mereka berdua, Anita meneteskan air mata saat


berciuman dengan Evan. Air mata kebahagiaan jatuh diantara mereka, bagaikan mutiara yang jatuh didalam dinginnya malam. Evan menggengam Erat tangan Anita yang mungil itu.


Setelah selesai berciuman, mereka berdua bangkit dan berdiri. Mereka berdua pergi


meninggalkan tempat itu dan kembali kepenginapan sembari saling bergandengan tangan. Anita menggem erat tangan Evan, Evan pun juga menggemgam erat tangan mungil milik Anita.


Sesampainya dipenginapan, mereka berdua disambut oleh beberapa guru yang tengah


berdiri didepan loby. Mereka pun dimarahi habis-habisan karena menyelinap keluar penginapan tanpa ijin. Evan tidak melihat Putrid an Eri, Evan berpikir bawaha mereka tidak ketahuan dan kembali dengan aman. Evan merasa sangat senang tentang hal itu.


“Karena kalian telah melanggar peraturan sekolah, kalian akan kami berikan setumpuk


tugas setelah studi tour ini selesai” kata pak Agus


‘-ya pak…” jawab Evan dan Anita menyesal