Love And Despair

Love And Despair
Kobaran Api Kebencian



Seketika api menyala dan dengan cepat menyebar keseluruh ruangan itu. Eri berdiri di tengah kobaran api dengan tertawa seperti orang gila, dia menikmati detik-detik terakhirnya ini. Anita tidak ingin membiarkan semuanya berakhir sesuai keinginan Eri. Anita berkali-kali mencoba melawan Eri namun tetap saja gagal. Dan berakhir kepalanya dipegang oleh Eri, Eri pun langsung menghantamkan kepala Anita ke papan tulis hingga kepala Anita berdarah dan membuatnya tergeletak di lantai.


Eri mulai kelelahan dan batuk-batuk karena terlalu banyak menghirup asap kebakaran. Ruangan mulai tertutup api dan api berkobar dengan sangat ganas. Eri perlahan menghampiri Evan yang tak sadarkan diri. Dia berjalan pelan dengan menangis melihat orang tercintanya tergeletak tak sadarkan diri.


Saat tangannya hampir mencapai Evan, tiba-tiba kepala Eri dihantam oleh kursi kayu dari belakang. Eri membalikan badannya pelan, dia melihat wajah Anita yang sangat marah tengah memegangi kursi sambari menangis.


“Da-dasar…cewek sialan…” Akhirnya Eri pun pingsan karena menerima hantaman kursi tadi


“Jangan… jangan coba-coba menyentuh Evan!” kata Anita marah


Setelah itu Anita bergegas membopong Evan menuju pintu keluar. Bangunan hampir terbakar semua dan beberapa puing-puing berjatuhan. Saat Anita sampai didepan pintu keluar Anita langsung mebuka pintu itu. Anita terkejut, pintu itu tidak mau terbuka, rupanya pintu terlah di kunci oleh Eri dank unci dibuang entah kemana. Anita mulai kehabisan tenaga dan batuk-batuk.


***


Diwaktu yang sama saat Putri mencari satpam Putri berlari kesana kemari untuk mencari satpam sekolah. setelah berkeliling akhirnya dia menemukan satpam sekolah tengah tertidur. Putri sempat kesal pada satpam itu dan dia membangunankan satpam itu dengan kasar. Putri mencoba membangunankan satpam itu berkali-kali, namun satpam itu tak kunjung bangun juga.


“Ini satpam kok gak bangun-bangun sih!” kata Putri kesal


Putri melihat ada secangkir kopi didekat satpam itu. Putri menduga bahwa kopi itu telah dicampur dengan obat tidur. Disaat Putri sedang sibuk membangunkan satpam itu, tiba-tiba Putri mencium bau asap.


Putri mencoba mencari tahu dari mana asal bau asap tersebut, setelah melihat ke sekeliling dia melihat ada sebuah cahaya dari ruang lab. Dia pun bergegas menuju ruang lab. Sesampainya diruang lab, betapa terkejutnya dia melihat kobaran api yang besar.


“VAN! JAWAB! Ah sial!” Putri sangat khawatir


Putri dengan paniknya mencoba membuka pintu lab itu, tapi tidak berhasil. Pikiran Putri campur aduk dia mencoba mencari cara untuk membuka pintu itu secara paksa. Putri melihat ada batu besar di dekat lab, dia pun mencoba menghantamkan batu itu kea rah gagang pintu. Dan untungnya usaha Putri berhasil. Dia pun mendobrak pintu itu dengan sangat kuat.


Betapa terkejutnya ketika dia melihat Anita dan Evan sedang tergeletak ditengah kobaran api. Putri mencoba menyadarkan Anita dan Evan. Namun Evan tak kunjung sadar, untungnya Anita dapat tersadar. Dengan keadaan kehabisan tenaga dan setengah sadar, Anita membantu Putri membopong Evan keluar dari lab.


***


Keesokan Paginya


Anita dan Putri sedang berdiri menatap sedih Evan yang sedang terbaring koma di atas kasur rumah sakit. Ini kedua kalinya mereka melihat Evan terbaring koma dirumah sakit, hati kedua gadis itu terasa sangat perih melihat orang mereka cintai terus-terusan berjuang demi mereka.


Terlihat sekujur tubuh Anita penuh dengan perban. Mulai dari kepala hingga kaki tidak luput dari luka yang diakibatkan oleh pertarungannya dengan Eri. Bagi Anita itu adalah sebuah bukti dari usahanya untuk melawan rasa takut yang selama ini diberikan oleh Eri.


“Bagaimana dengan Eri?” tanya Anita datar


“Dari kabar yang ku dengar, Eri sudah meninggal karena terbakar didalam gedung lab itu” jawab Putri


“Oh… begitu ya” kata Anita datar