Love And Despair

Love And Despair
Hanyut Dalam Penyesalan



Langit hitam mewarnai pemakaman hari itu. Awan pekat seakan ikut bersedih atas kematian anak perempuan itu.


Ungkapan yang mengatakan bahwa jika ingin menyembunyikan daun maka sembunyikanlah di dalam hutan dan jika engkau ingin menyembunyikan air mata maka sembunyikanlah di tengah hujan, itu adalah ungkapan yang sangat cocok untuk menggambarkan keadaan ku saat ini.


Aku berterimakasih kepada hujan ini yang telah membantu ku untuk menyembunyikan kesedihan ini ditengah orang-orang yang berkumpul untuk menghadiri pemakaman orang yang mereka anggap paling berharga. Aku hanya bisa terdiam membisu melihat makam anita di depan mata ku.


Isak tangis yang begitu kehilangan terdengar tepat di sampingku. Terduduk sembari memegangi batu nisan anaknya.


Perlahan…orang-orang satu demi persatu meninggalkan pemakaman itu. Aku hanya berdiri tak bergeming ditengah hujan, berdiri di depan makam yang basah itu. Tangan seseorang tiba-tiba menggenggam erat tangan kanan ku.


Aku mengarahkan pandangan ku ke arah pemilik tangan lembut itu. Wajah Eri tampak begitu sedih melihat ku begitu depresi tak berekspresi. Air mata yang kupikir tak mungkin aku bisa melihatnya, menetes perlahan membasahi pipi


anak perempuan yang periang itu. Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Langkah kaki sesorang yang terdengar mamalui percikan air mendekat perlahan dengan perasaan sedih tak tertahankan di setiap langkahnya.


“apakah kamu teman dekat anak ku, anita….?” Tanya ibu Anita


“teman dekat….”kata ku terputus


“bahkan kami baru bertemu kemarin….apakah itu bisa disebut teman dekat?!” batin ku


“sebenarnya, untuk apa aku bersedih karena kematian anita? Toh dia bukan siapa-siapa bagiku” sambung ku


“tapi….perasaan apa yang sangat menyesakkan hati ini?” tanya ku


“aku tahu…ini adalah perasaan penyesalan karena kelalaian ku” pikir ku


“aku bukan teman dekat anak ibu… aku hanya teman sekelasnya saja, tidak lebih” jawab ku


“kalau begitu kami permisi dulu bu…” kata eri sambil menarik tangan ku.


Kami berdua berjalan perlahan menjauh dari makam itu ditengah hujan. Aku hanya mengikuti langkah kaki orang yang menarik dan menggemgam erat tangan ku. Bukan hanya aku saja yang merasa sedih disini. Aku harap dia bisa ceria lagi seperti biasa.


Rumah Evan


Tidak ada perubahan yang berarti setelah aku menghadiri pemakaman itu. Kegelapan memenuhi kamar ku. Hampir tak ada secercah cahaya yang bisa masuk kamarku karena aku menutup rapat-rapat jendela kamarku dengan tirai. Hanya penyesalan yang tersisa di dalam diriku.


“andaikan aku mengantarnya dengan benar waktu itu, kejadian seperti ini tidak mungkin terjadi” pikirku


“apa yang harus ku lakukan saat masuk sekolah nanti?!” tanya ku


Pikiran ku dihantui oleh perasaan bersalah tiada henti.


Perkataan-perkataan yang menghantui itu muncul di pikiran ku tanpa henti dan serasa membuatku gila.


“dasar sampah…” kata teman sekelas ku


“dasar pembunuh…” kata teman sekelas ku


“dasar anak pembawa sial…” kata teman sekelas ku


“aku kecewa pada mu Van…” kata Eri sambil pergi meninggal kan ku


Namun…di tengah-tengah kata-kata mengerikan itu menyerang pikiran ku, Satu kalimat penuh makna dan lembut di ucapkan oleh Anita. entah dari mana ia muncul di hadapn ku. Aku pikir mungkin sekarang aku sudah gila sampai-sampai bisa melihat anita di depan mata ku.


“Evan…ini bukan salah mu kok” kata Anita lembut


“a apa kamu benaran Anita?” tanya ku gugup


“ya…menurut mu siapa lagi? Masa kamu lupa sama wajah ku sih?” kata Anita