
“mau coba masuk kesana?” tanya ku sambil menunjuk ke arah rumah hantu
“eh masuk? Ki kita bukan anak-anak lagi kan? Aku gak tertarik sama hal begituan” kata
Eri menutupi rasa takutnya
“bagaimana menurut mu Al?” tanya ku
“eh! Hem… k kalau aku ter serah aja sih” kata Aldi tak meyakinkan
“ka kalau aku sih-“ kata Putri terpotong
“kalau kamu Ani, mau coba masuk?” tanya ku
“hemmm” Puteri kesal
“eh hehehe sebenarnya aku agak takut sih, tapi…” kata Anita terpotong
“yo! Kalian semua mau masuk rumah hantu juga ya?” tanya Budi yang mendatangi
kami
“hum… kayak anak kecil aja main ke wahana ini” kata Siska sok berani
“hemmm, kalau gitu kenapa kamu gak masuk aja buat membuktikan kalau kamu bukan
anak kecil?” tantang Budi
“bo boleh, siapa takut! Ayo kita masuk Eri” kata Sisaka sembari menarik tangan Eri masuk ke rumah hantu
“eh eh eh… tu tunggu“ kata Eri melawan, tapi usahanya sia-sia
“hey Bud… Budi kamu kok bisa barengan ama Siska sih? Kalian lagi pacaran ya?” tanya Aldi kepo
“enggak kok~ kami cuman kebetulan ketemu aja, trus lihat kalian disini. Kami memutuskan buat ngumpul sama kalian” Budi menjelaskan
“lagian, bu Susti masih tetap di hati!” kata Budi dengan percaya dirinya
Pada akhirnya, kami pun memutuskan untuk memasuki wahana itu. Di dalam sana sangat gelap dan dipenuhi hantu-hantu yang menakutkan. Aku akui, orang-orang ini cukup
menakutkan. Nuansa horror dan menyeramkan sangat begitu nyata. Teriakan dimana-dimana,
banyak hantu menyeramkan di sepanjang lorang kami berjalan. Budi yang awalanya terlihat paling berani pada akhirnya ketakutan juga setelah memasuki rumah hantu ini.
“HUAHHHHRGGG” tiba-tiba mbak kunti muncul dihadapan kami
Sontak Anita dan Eri langsung menggenggam erat kedua tangan ku sambil munutup mata. Sedangkan Siska sudah lari terbirit-birit duluan karena ketakutan. Putri pingsan di belakangku karena sangat terkejut.
“HUWAAA” teriak Budi sambil menggenggam erat tangan kanan Aldi
“HUWAA! LEPASIN WOIII!!” terik Aldi
“nyamannya hehehe…” pikiran kotor
Setelah melewati masa-masa menyenangkan- eh maksudku menyeramkan itu, kami pun memutuskan untuk istirahat sejenak dan duduk di sebuah stand minuman. Muka para cewek-cewek sangat pucat, tak kusangkan kalau mereka sangat ketakutan.
“hahaha tadi itu menyenangkan ya” kata Budi tak berdosa
“tadi kemana kamu Siska? Kok tadi aku gak lihat kamu ya? Ah…aku lupa kamu kan
lari paling kenceng tadi hahaha” ejek Budi
“padahal sendirinya tadi ketakutan banget” sindir Aldi kesal
“…” Siska tak bisa berkata apa-apa dan dia kesal sekali
“tak kusangka, rupanya Evan berani juga ya” kata Anita memuji
“hehehe… enggak juga kok, tadi aku juga sedikit takut” kata ku senang
“padahal sebenarnya aku gak bisa focus sama hantunya sama sekali gara-gara tangan ku dipegangi dua cewek hehehe… dan tadi aku sepertinya sedikit merasakan sesuatu yang
empuk menekan kedua tangan ku hehehe” pikiran ku kotor
“hei kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Lagi mikirin hal mesum ya?” tuduh Eri
“hah! Eng enggak kok” kata ku membela diri
“…” Eri melirik tajam kearah ku
Setelah perut terisi penuh, kami memutuskan untuk melanjutkan jalan-jalan kami dan melihat-lihat beberapa stand yang belum kami datangi. Dalam keramaian itu aku baru saja
sadar, bahwa Anita tidak ada bersama dengan kami. Anita hanyut dalam lautan manusia ini.
Anak itu belum hafal betul dengan tempat ini, aku takut kalau dia kesasar dan tidak bisa
menemukan jalan kembali.