
“KEPADA PARA PESERTA FASHION SHOW BERPASANGAN… DIHARAP BERKUMPUL DI AULA SEKOLAH”
“eh, kita harus pergi” kata Aldi
“ah, iya. Kami pergi dulu ya” seketika wajah
Anita kembali normal
“-iya” jawab kami serentak
Akhirnya saat-saat mendebarkan telah tiba, entah mengapa hati dan pikiran ku tidak bisa
tenang menantikan pernyataan cinta dari Aldi. Aku bahkan tidak bisa tidur nyeyak gara-gara
memikirkan hal itu.
Apakah dia ditolak atau dia diterima? Hanya dua kemungkinan ini saja membuat hati ku
tidak bisa tenang. Padahal aku sudah membulatkan tekad ku untuk merelakan Anita, namun tetap saja aku tidak bisa membohongi perasaan ku terhadanya.
“HADIRIN SEKALIAN! AKHIRNYA WAKTU YANG KITA TUNGGU-TUNGGU TELAH TIBA” kata pembawa acara bersemangat
“HYAAAA” teriak para siswa dan siswi gembira
“BAIKLAH, TANPA BASA BASI LAGI MARI KITA MULAI PERTUJUKAN FASHION SHOW-NYA!!!” kata pembawa acara bersemangat
Fashion show pun dimulai. Satu persatu para kontestan berjalan diatas panggung yang telah disiapkan. Semuanya terlihat tidak ingin mengalah, setiap kelas mengirimkan pasangan terbaik mereka untuk memenangkan kontes tahunan ini. Semua siswa bersorak mendukung pasangan favorit mereka masing-masing.
Kaki ku tidak mau diam, badan ku berkeringat, aku begitu gugup menantikan saat-saat paling mendebarkan ini. Eri dan Putri yang melihatku tidak tenang dari tadi merasa khawatir. Aku terus menunduk, tidak melihat para peserta-peserta itu. Aku terlalu takut untuk melihatnya.
“Evan…” Eri cemas
Disaat aku berusaha keras menangkan diri, terdengarlah nama Anita dan Aldi di panggil
naik ke atas panggung. Sontak aku langsung mengangkat wajah ku dan melihat mereka berdua berjalan diatas panggung.
“mohon maaf sebelumnya untuk peserta yang setelah ini hendak naik ke atas panggung,
Tiba-tiba Aldi bertekuk lutut di hadapan Anita. Anita tampak kebingung dengan situasinya
saat ini. Aldi begitu gugup seakan-akan dia ingin melarikan diri dari tempat itu, namun sudah tidak ada lagi kata mundur. Dengan seluruh keberanian yang dia miliki, kalimat sakral itu di ucapkan.
“Anita, aku sudah lama menyukai mu. Aku sudah jatuh cinta pada saat pandangan pertama. Mau kah kamu jadi pacar ku?” ungkap Aldi sembari mengulurkan tangan pada Anita
Sontak seluruh siswa dan siswi berteriak histeris karena tersentuh dengan tindakan berani yang diambil oleh seorang Aldi. Anita hanya menunduk, dia tak merespon. Untuk beberapa saat dia hanya terdiam membisu.
“maaf…” Anita menunduk
“maaf…aku tidak bisa…” kata Anita yang terdengar sedih
Tak lama kemudian, air mata menetes jatuh di lantai, Tepat di hadapan Aldi. “Anita…”
Aldi tampak kecewa. Harapannya sirna begitu saja. Aldi tampak menundukan wajahnya karena sangat malu sekaligus merasa kesal. Namun semua kekesalan itu bukan salah Anita, semua itu hanyalah kekesalan terhadap dirinya sendiri.
“maaf… aku tidak bisa menolak mu…” Anita mengangkat wajahnya, tangisan bahagia
terlihat jelas di wajahnya. Dia tidak bisa membendung kebahagiaannya, dia menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya, menunjukan dia sangat terkejut.
“…iya, aku mau jadi pacar mu” jawab Anita menangis tersedu-sedu bahagia
Aldi spontan langsung memeluk Anita dengan penuh bahagia. Anita terus menangis di
dalam pelukan Aldi. Tiba-tiba balon-balon berterbangan ke udara, dan terdengar beberapa suara letusan semprotan kertas yang bertaburan di udara. Grup band juga ikut memeriahkan pernyataan cinta itu.
Aku hanya diam membisu, pandangaku tertuju kebawah. Aku sama sekali tidak mengangkat kepala ku. Aku berjalan melewati keramaian itu. Di luar sana begitu meriah dan mereka semua tampak begitu bahagia, namun entah mengapa seperti ada dinding tak kasat mata yang menyelimuti diri ku.
Aku tak bisa mendengar suara bahagia dan kemeriahan itu lagi. Dalam pandang ku dunia
begitu abu-abu, namun di luar sana tampak penuh warna. Sekali lagi, aku kembali ke dunia tak berwarna ini. Mengasingkan diri dari keramaian dan berpikir untuk mencoba menengkan diri di tempat yang hening, jauh dari hiruk pikuk acara itu.
“eh, diaman Evan?” tanya Eri sembari melihat ke segala arah
“aku takut dia kepana-napa. Dia tampak begitu depresi…” wajah Eri tampak cemas