
Dua hari telah berlalu sejak kejadian itu. Aldi yang baru saja kembali dari pertadingan
Futsal telah mendengar adanya kabar bahwa Anita mengalami perundungan. Aldi yang merasa
bersalah kepada Anita karena tidak ada disisinya disaat dibutuhkan buru-buru meminta maaf
kepada Anita.
“Anita! Aku dengar kamu di bully sama anak-anak lain ya?!” tanya Aldi memegang kedua
pundak Anita dengan keras
“aw! Sakit…” Anita mengaduh kecil
“eh, maaf…aku gak bermaksud…” Aldi langsung melepaskan gemgamannya
“ya… aku di bully oleh orang lain. Tapi aku tidak tahu siapa mereka, seakan-akan aku
sedang di terror” jawab Anita sedih
“ma maaf…ma maaf… aku gak bisa ada disisi mu saat kamu sedang dalam kesulitan…”
Aldi memegang kedua tangan Anita
“emm~ emm~” Anita menggelengkan kepalanya pelan
“kamu gak perlu minta maaf kok. Bukan salah mu kamu gak ada waktu itu. Kamu juga
sedang berjuang keras untuk memenangkan pertandingan itu, jadi aku juga harus berjuang keras
untuk menghadapi masalah ini” kata Anita menyemangati Aldi yang merasa bersalah
“Anita…” Aldi memeluk Anita dengan erat. Anita juga memeluk erat Aldi, wajahnya
tampak sangat sedih dan matanya berkaca-kaca. Dia mencoba tegar menghadapi masalah ini, tapi
dia memiliki batasan dan dia sekarang sudah mencapai batasan itu.
Sejak kedatangan Aldi, perundungan itu kini mulai jarang terjadi lagi seperti mereka
menunggu momen yang tepat untuk melancarkan aksinya. Aku tidak bisa melakukan apa-apa,
tugas ku sudah selesai. Aldi sudah kembali, sekarang aku sudah tidak dibutuhkan lagi. Aku hanya
bisa mengawasi Anita dari kejauhan.
Seperti biasa, aku tidur di perpustakaan untuk menghabiskan jam istirahat ku dengan
tenang. Aku tidur terlentang di kursi panjang dengan buku menutupi wajah ku agar cahaya tidak meyorot ke arah mata ku.
Tiba-tiba saja buku yang ada di wajah ku diangkat oleh seseorang, membuat ku terbangun
dari tidur nyenyak ku. Saat aku membuka mata, ternyata Anita dengan senyuman manisnya
menjahili ku. Dia tampak senang sekali setelah membuatku tidak bisa tidur dengan nyeyak.
“rupanya kamu…ada apa?” aku bangkit dari tidur ku
“hehehe enggak~ cuman pengen jahilin Evan aja~” kata Anita jahil
“hem… kalau gak ada yang mau di omongin aku mau lanjut tidur lagi” kata ku malas
“ih, kamu kok tidur terus sih. Heran aku” kata Anita sebal
“huam~ aku habis begadang main game… jadi aku sekarang ngantuk banget nih. Udah
ya…aku mau lanjut tidur lagi” kata ku malas sembari kembali ke posisi nyaman
“eeeehhh! Tunggu dulu” Anita menarik baju ku
“apa lagi~” kata ku malas
“sebenarnya aku ingin minta tolong sama kamu” kata Anita malu-malu
“hari minggu nanti kamu senggang enggak?” tanya Anita penuh harap
“emm….kayaknya sih senggang. Emang kenapa?” aku menanya balik
“ada deh… pokoknya datang aja kerumah ku ya. Jangan sampai lupa!”Anita menunjuk
wajah ku dengan serius. Dia tampak begitu senang
“hem… kenapa perasaaan ku jadi gak enak ya…” batin ku
***
Hari minggu di rumah Anita
Entah kenapa setiap kali aku menginjakan kaki di rumah ini, dada ku selalu dibuat
berdebar-debar begitu kencang. Duduk di atas sofa empuk diruangan yang luas itu membuat ku sangat gugup. Apalagi jika diperhatikan oleh sang pemilik rumah. Mama Anita terus saja
memandangi wajah ku dan dia tampak menikmati hal ini.
Dia sangat menikmati memandangi wajah ku yang gugup bercampur malu di depannya.
Dia tampak senyum-senyum sendiri sembari menompang dagunya dengan kedua tanggnya.
Sesekali aku menatap matanya, tapi tidak sampai lima detik aku kembali memalingkan wajah ku.
“anu…apakah ada yang aneh sama saya tante?” tanya ku canggung
“emm~ emm~” mama Anita menggelengkan kepalanya pelan
“enggak kok~” kata mama Anita tersenyum. Untuk menghilangkan kegugupan ku, aku
meminum teh yang telah disediakan oleh mama Anita
“kamu…pergi pacaran sama anak tante ya?” tanya mama Anita menyeringai
“brusssshhhh” aku menyembur minuman ku
“uhuk! Uhuk! Uhuk!” aku tersedak
“ah… anu, aku bukan pa pacarnya Anita, tante” kata ku malu
“waduh~ jadi tante salah ya?!” mama Anita terkejut
“tapi, kalau kamu bukan pacarnya Anita….kamu siapanya dia? Trus mau kemana jalan
sama anak tante?” tanya mama Anita makin penasan
“anu…itu…” aku bingung harus menjawab apa
“maaf, sudah nunggu lama ya. Aku tadi lagi cari-cari gelang favorit ku, tapi gak ketemu-
ketemu” kata Anita tidak enak pada ku
Dari arah belakang terlihat Anita menghampiri ku. Alhamdulillah….akhirnya datang juga
anak ini. saat aku melihatnya, mata ku terbelalak dengan penampilan Anita. Meskpiun aku pernah
melihat Anita memakai baju kasual, tapi tetap saja aku selalu dibuatnya terpesona.
“ayo kita pergi. Udah jam segini” ajak Anita
“iya…” jawab ku terpesona
“kami jalan dulu ma~ Assalamualaikum” pamit Anita
“Assalamualaikum…” pamit ku
“waalaikumsalam” mama Anita melambai kepada kami sembari tersenyum