
“Ayo kita akhiri permainan petak umpet ini”
Itulah yang ku katakan. Namun, Aku tidak berpikir hal ini akan mudah, aku tidak bisa melakukan semua ini sendirian. oleh karena itu aku membutuhkan teman-teman ku yang berharga dan yang bisa diandalkan.
Aku mengumpulkan empat orang ini karena aku sangat mempercayai mereka dan mereka juga teman baik ku. kami melakukan pertemuan di perpustakaan, disana sepi dan tidak akan ada yang mengganggu kami disana.
“Jadi… kenapa kamu mengumpulkan kami berempat disini?” tanya Siska
“Aku ingin meminta tolong pada kalian untuk membantu ku menemukan dalang dibalik penyebaran foto Anita dan pelaku pembullyan selama ini” pinta ku
“Aku gak bakal maksa kalian buat bantu aku, tapi aku minta tolong sebagai teman yang ku percaya untuk membantu ku dalam menyelesaikan masalah ini” ungkap ku
“Santai aja kali~ mana mungkin kami menolak permintaan seorang teman. Lagian kami juga udah kepikiran buat bantu Anita juga” Budi merangkul ku
“Iya… bukan kamu aja yang sedih melihat Anita mengalami pembullyan ini, kami sebagai temannya juga merasa sedih dan ingin menolongnya” ungkap Siska
“Aku akan membantu semampu ku Evan” kata Putri tersenyum pada ku
“Kalau aku jangan ditanya ya~ apapun keputusan Evan, Eri akan terus mendukung mu” ungkap Eri
“Teman-teman…” aku terharu dengan semangat mereka
Mereka adalah definisi dari teman itu sendiri, mau berusaha untuk membantu temannya dalam kesulitan dan tidak segan untuk mengulurkan tangannya pada orang-orang yang mereka anggap teman.
Senyuman polos dan tulus itu mereka tunjukan bukan kepadaku melainkan senyuman itu ditujukan kepada teman mereka yang sedang mengamali kesulitan. “lihat lah Anita… kamu gak sendirian. Masih ada orang-orang yang menyayangi mu disini”.
“Jadi, apa rencana mu?” tanya Siska
“Pertama kita mulai dengan foto Anita yang tersebar. Tentu saja aku gak percaya sama foto itu… jadi aku minta tolong sama kamu, Budi buat ngecek apakah foto itu hasil editan atau bukan” kata ku
“Yang seperti kita tahu kalau Budi ini jago di bidang IT, jadi aku serahkan urusan ini pada mu. Sekalaian kalau kamu bisa, tolong cari sumber asli pengirim pertama dari foto itu” pinta ku pada Budi
“Siaaappp! Kalau urusan itu gampang mah~ tapi kalau buat cari siapa pengirim pertama kayaknya bakal sulit deh… aku butuh waktu buat nge-hack itu” jawab Budi
“aku kira di otak mu cuman dipenuhi dengan hal-hal mesum, rupanya kamu ini punya bakat juga” kata Siska heran
“Enak aja… kamu pikir aku ini orang cabul apa?! Pacar sendiri kok direndahin mulu, coba di dukung kek~” kata Budi kesal
“Iya deh~ iya~ gitu aja marah” Siska mencubit pipi Budi
“Tunggu, emangnya Anita gak cerita sama guru atau orang tuanya kah untuk masalah ini” tanya Siska
“Kayaknya enggak deh. Soalnya waktu aku ngantar Anita pulang kerumahnya… dia gak ngomong apa-apa sama ibunya. kayaknya dia takut mengatakan hal ini sama ibunya” jawab ku
“Hem… gitu ya. lanjut, apa harus kami lakukan?” tanya Siska
“Aku minta tolong sama kalian para cewek-cewek nemani Anita selama disekolah dan mengawasinya dari kejauhan. Aku yakin si pembully itu melakukan aksinya pas Anita gak ada ditempat” kata ku
“Okay… trus kamu sendiri ngapain?” tanya Siska
“Aku juga bakal mengawasi Anita dari kejauhan. Usahakan kita mengawasi grak-greknya senatural mungkin biar gak ketahuan” saran ku
“Mungkin kedengarannya rencana ini sangat sederhana… tapi hanya rencana ini yang terpikirkan oleh ku. sorry” kata ku kecewa
“Gapapa… rencana ini udah bagus kok. Selagi kita menunggu si pembully muncul dengan adanya kami bersama dengan Anita membuatnya untuk sementara aman dari pembullyan yang dilakukan oleh anak-anak” kata Putri menyemangati ku
“Ya… meskipun kami awalnya takut untuk mendekati Anita, tapi sebenarnya kami ingin membantunya” kata Eri
“Jujur… aku tidak terlalu suka dengannya, tapi dia masih teman ku. aku tidak tahan melihatnya dibully terus-terusan…maka dari itu aku ingin menolongnya” kata Eri tulus
“Okay… sekarang aku paham. Mari kita berjuang untuk Anita” kata Siska
“Kuharap rencana ini berhasil” kata Putri cemas