
“Maaf… sebenarnya aku sudah tahu kalau Eri adalah pelakunya. Tapi aku malah…” kata Putri menyesal
“Udah… gak papa kok. Bukan salah mu kalau semua ini berakhir jadi begini. Ini salah ku karena aku lemah… adaikan…andaikan…aku punya sedikit keberanian lagi…hiks…mungkin semua ini gak akan terjadi” Anita menangis
Putri langsung memeluk Anita dengan sangat erat. Mereka berdua merasa sangat kesal pada diri mereka masing-masing karena kelemahan yang mereka miliki. Angin sejuk menerpa wajah Evan hingga membuat rambutnya bergoyang, didalam kesedihan yang mendalam mereka melihat Evan, mereka sadar bahwa mereka harus tetap kuat. Perlahan kedua gadis itu tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan tidak ingin meneteskan air mata mereka lagi di depan orang yang mereka cintai.
“Put… sepertinya aku gak bakal bisa bersama dengan kalian lagi deh” kata Anita sedih. Seketika Putri langsung menoleh ke arah Anita karena terkejut
“A-apa maksud mu?” tanya Putri panik
“Gara-gara kasus ini aku dipaksa untuk pindah sekolah oleh orang tua ku” ungkap Anita sedih
“Kamu yakin ingin meninggalkan Evan!” tanya Putri
“Tentu saja aku sudah berusaha menentang orang tua ku… tapi tetap saja…” kata Anita sedih
“Be-begitu ya…” kata Putri pasrah
“Jadi… tolong jaga Evan untuk ku ya!” pinta Anita tersenyum pada Putri
“Iya! Aku pasti akan menjaga anak bodoh ini semampu ku” Putri menahan air matanya sekuat tenaganya
Kedua gadis itu saling bergandengan tangan. Melihat Evan yang tersenyum dibawa sinar mentari pagi. Beberapa kelopak bunga berterbangan masuk kedalam kamar Evan dan jatuh didekat kasur Evan.
***
1 Tahun Kemudian
Tak terasa kini aku sudah menjadi seorang mahasiswa. Aku adalah tipe manusia pemalas, jadi aku akan memilih jalan termudah untuk ku dan hasilnya pun aku kuliah di Unversitas yang ada di Kota ku. Seperti biasa aku sarapan bersama dengan Putri sebelum berangkat kuliah.
“Kalian pasi sangat bertanya-tanya kenapa bisa Putri sarapan bersama ku dirumah? Yah…karena Putri sekarang tinggal dirumah ku”
“Akulah yang menyarankannya untuk tinggal bersama ku karena rumah ku lebih dekat dengan toko kue ibu ku dan juga ibu ku ingin Putri bisa tinggal bersama kami”
“Dengan begitu Putri tidak perlu menghawatirkan kebutuhannya sehari-hari”
“Put! Hari ini kamu masak apa?” tanya ku bersemangat
“Oh! Kamu dah bangun ya? hari ini kita sarapan sup jamur putih dan tempe goreng” jawab Putri bersemangat
“Wah~ enak nih” kata ku senang
“Aduh… maaf ya Putri, tante bangunnya kesiangan” kata Ibu ku
“Hehehe gak papa tante” kata Putri senang
Kami bertiga duduk bersama di meja makan. Setelah Putri selesai menyajikan makanan di atas meja, kami pun sarapan bersama. Kami bagaikan keluarga kecil yang bahagia, hari-hari ku bersama Putri dan ibu terasa sangat menyenangkan.
“Setelah ini, Putri sama ibu berangkat bareng ke toko kah?” tanya ku
“Ya…aku dapat shift pagi, jadi aku bakal berangkat sama tante” jawab Putri
“Putri tidak melanjutkan pendidikannya lagi karena tidak memiliki biaya. Namun kini dia bekerja di toko kue ibu ku dan sekarang dia telah memegang posisi manajer” batin ku
“Meskipun kami tidak bisa kuliah bersama, tetapi aku sudah cukup senang bisa bersama dengan Putri seperti ini” pikir ku
Setelah sarapan, aku berangkat menuju kampus ku. menjalani hari-hari biasa sebagai mahasiswa. Namun anehnya, penyakit malasku ini tidak mau hilang. Padahal aku sudah menjadi seorang mahasiswa, akan tetapi rasa bosan dan kantuk ku saat mendengar penjelasan dosen tidak bisa lepas dari ku.
“Anehnya, kenapa aku bisa lulus SMA dan keterima di Universitas Malang dengan sikap dan kapasitas otak ku ini? apakah ini karena kekuatan the power of kepepet?”
“Tolong jangan tiru sifat jelek ku ya…hehehe”
Setelah jam pertama berakhir, seperti biasa aku pergi ke sebuah gazebo untuk mendengarkan musik sembari menunggu kelas selanjutnya. Padahal aku sudah 1 tahun kuliah, namun anehnya aku belum memiliki seorang teman. Aku tetaplah diriku yang dulu, memiliki masalah dalam berkomunikasi sehingga membuatku sulit mendapatkan teman. Disaat aku sedang menikmati lagu melalui headset ku, tiba-tiba ada seorang gadis yang duduk disebelahku.
“Permisi… boleh aku duduk disini?” tanya seorang gadis
“Eh! Anu…si-silahkan” kata ku gugup
Aku tidak terlalu bagus dalam berkomunikasi, setiap kali bertemu orang baru aku akan langsung merasa sangat gugup untuk melihat wajahnya, jadi kupustukan untuk tetap menundukan padangan ku.
“Kenapa…kenapa aku tiba-tiba kepikiran Anita ya?” pikir ku
“Aku tahu hal itu pasti akan terjadi. Tapi…setidaknya seharunya dia menghubungi kan?!”
“Sudah satu tahun, tapi dia belum pernah sekalipun menghubungi ku”
Aku terus saja menatap gelang pemberian Anita. Perasaan sedih, rindu, kesal bercampur aduk dalam pahitnya kenyataan bahwa aku telah ditinggal pergi oleh orang yang ku cintai. Tanpa kusadari, gadis yang sedari tadi duduk disebelahku tiba-tiba mendekatiku.
“Wah… gelangnya bagus ya. unik gitu~” puji gadis itu
“Eh! Hehehe iya…” jawab ku canggung
“Kayaknya gelang ini berpasangan deh… iya kan?!” kata gadis itu
“I-iya…gelang ini berpasangan” jawab ku
“Hem… aku juga pengen punya gelang berpasangan seperti ini deh~ btw, itu gelang kamu beli dimana?” tanya gadis itu
“Anu… galang ini adalah pemberian dari pacar ku” jawab ku
“Oh…dari pacar toh. Kalian pasti pasangan yang serasi ya” kata gadis itu
“Hehehe…enggak juga. Aku udah lama gak ketemu dia. Entahlah…aku enggak yakin kalau dia masih menganggap ku pacarnya” kata ku pesimis
“Dia adalah gadis yang sangat cantik dan imut, sudah pasti sekarang dia sudah punya pacar baru. Aku tidak bisa berharap dia akan tetap setia pada ku. lagian aku hanya cowok biasa, mana mungkin dia masih cinta sama aku” kata ku sedih
“Tapi…aku tidak membencinya atau pun marah kepadanya. Aku sudah merasa cukup bahagia bisa menghabiskan waktu ku bersamanya, meskipun itu sangat singkat. Aku masih ingat cara dia tertawa, cara dia tersenyum dan juga aku masih ingat jelas bagaimana wajahnya saat dia marah padaku… hehehe” ungkap ku. aku tersenyum kecil setiap kali mengingat Anita
“Dia gadis yang sangat hebat. Dia bisa bertahan dalam menghadapi masalah besar yang sedang menimpanya tanpa mengeluh sedikitpun. Dia gadis yang sangat kuat, aku belum pernah bertemu gadis sekuat dia sebelumnya” kata ku kagum
“Mungkin dia sekarang sudah punya pacar baru. Aku berharap dia mendapatkan orang yang lebih pantas dari pada aku” kata ku
“Eh! Maaf ya…aku malah curhat lagi. Sorry sorry” kata ku menyesal
“Hahaha santai aja kali” kata gadis itu
“Aku suka kok dengerin kisah romantis kayak gini hehehe” kata gadis itu senang
“Menurut ku dia masih mencintai mu kok. Mungkin…” kata gadis itu ragu
“Kalau kalian benar-benar saling mencintai, suatu saat kalian pasti akan bertemu. Aku yakin itu…” kata gadis itu menyemangati ku
“Makasih ya… padalah kita baru aja ketemu, tapi rasanya aku kok nyaman banget bicara sama kamu. bu-bukan berarti aku mikirin yang aneh-aneh tentang kamu loh” kata ku canggung
“Hehehe duh...jadi malu. Gak papa kali, santai aja” kata gadis itu senang. Setelah itu, gadis
itu berdiri dihadapan ku
“Sebagai bayarannya aku telah mendengarkan curhatan mu, bagaimana kalau kamu traktir aku beli eskrim” pinta gadis itu
“Apa-apaan nih cewek, baru ketemu dah minta traktir aja. Kayak aku ini temannya aja”
pikir ku.
aku pun mengangkat pandangan ku karena penasaran dengan wajah gadis itu. Disaat aku mengangkat wajah ku, hal yang pertama kali aku lihat adalah gelang yang melingkar manis di pergelangan tangannya yang mungil. Seketika aku dapat mengenali gelang yang dikenakan gadis itu, Jantung ku berdegup kencang, perasaan rindu yang selama ini aku rasakan meledak dengan hebat. Aku tidak menyangka akan melihat gelang itu setelah sekian lama.
“Iya…kita beli eskrim yang sangat banyak” kata ku senang. Aku pun meraih uluran tangan gadis itu
“Kamu kangen ya sama gadis itu~” kata gadis itu menggoda
“Crewet! Perasaan mu aja tuh” kata ku malu
“Hihihi…senangnya aku di kangenin sama pacar ku yang lucu ini” kata gadis itu sembari tertawa kecil
wajah cantik dengan senyum lebar sembari mengulurkan tangannya membuat hati ku tersentak. Perasaan bahagia yang tak terbayangkan memenuhi lubang kecil yang ada di dalam hati ku. wajah gadis itu sangat merona saat dia mengulurkan tangannya kepadaku.
Kami berdua berjalan dengan saling bergandengan tangan. Aku menggengam erat tangan mungil gadis itu. Aku sekali lagi memalingkan wajah ku kearah gadis itu. Gadis itu tiba-tiba menoleh kearah ku dan tersenyum, wajahnya sangat merona saat menatap mata ku.
“Aku mencintai mu…” kata ku pelan
“Em~ aku tahu kok” balas gadis itu pelan