Love And Despair

Love And Despair
Aku Lupa Namanya



Aku sudah merasa tidak enak sejak pertama kali datang kesini. Cewek berkacamata


yang dari tadi berdiri di samping Eri menatapku terus seperti aku ini punya masalah sama dia. Aku baru aja datang dan sudah mendapat musuh, malangnya hidup ku. Setelah aku lihat baik-baik wajah cewek itu, sepertinya aku mengenal cewek yang menggunakan kacamata ini. Dia


cewek yang satu kelas dan satu kelompok dengan ku. Tapi aku lupa nama anak ini.


“duh, mampus aku! Aku lupa nama anak ini lagi” batin ku gugup


“hai Van!” sapanya sembari tersenyum pada ku. Tapi aku tahu senyuman itu gak murni.


Senyuman mengancamnya itu sangat menakutkan


“…hai.” Jawab ku singkat


Di dalam otak ku sedang terjadi bentrokan hebat. Para saraf ku sedang berusaha keras


mencari nama cewek ini. Tapi sekeras apapun saraf ku mencari, berkas tentang nama cewek


ini gak ketemu dimanapun, entah terselip dimana.


Didalam kepala Evan


“aduhh siapa nama anak ini” saraf Evan membuka-buka berkas


“dimana dimana dimana nama nama cewek ini” saraf Evan yang lain berlari-lari


“meli…bukan, sofia… juga bukan” saraf Evan yang sedang melihat buku biodata orang


yang pernah di temui Evan


Kembali ke dunia nyata


“Ayu kan?” kata ku yakin


“…” dia tak menjawab, mukanya kesal membuatku tambah gugup


“ah! Wulan!” kata ku semakin kehilangan rasa percaya diriku


“…” wajahnya tambah kesal dan siap menghajar ku kapanpun


“duh! Mampus aku!” batin ku


“PU-T-RI!” katanya sambil mencubit telingaku


“baru juga gak ketemu sehari dah lupa aja” kata Putri kesal


“kita mau kemana dulu nih?” tanya Anita sangat senang


“hem…gimana kalau kita cari jajanan dulu sambil melihat-lihat stand-stand yang


menarik” usul Eri


“bagamana yang lain?” tanya Anita


“ya boleh juga” kata Aldi


“aku terserah aja” jawab ku dingin


“aku ngikut aja” kata Putri


“okay, berarti sudah diputuskan” kata Anita


Setelah melihat-lihat stand makanan, akhirnya kami berhenti di stand penjual telur gulung yang terlihat cukup menggoda. Mereka bertiga membeli telur gulung dingin itu yang mana telah tersaji disana. Aku mengurungkan niat ku untuk membeli telur gulung itu meskipun telur gulung itu tampak begitu menggoda.


“loh, Van. Kamu gak beli?” tanya Anita


“enggak” jawab ku dingin


“kenapa?” tanya Anita lagi


“telur gulung itu mungkin sudah di lalati” jawab ku pendek


Seketika Anita dan teman-teman yang lain terhenti saat hendak menyantap telur gulung


itu. Aldi yang telah mengunyah telur gulung itu seketika langsung berhenti setelah mendengar ucapanku.


Mereka semua pun serentak melihat ke arah telur gulung mereka. Setelah memastikan telur gulung mereka, dengan mengabaikan ucapan ku mereka bertiga melanjutkan memakan telur gulung mereka dengan perasaan yang campur aduk.


“loh kenapa? Mungkin aja kan?! Kalian diberikan telur gulung yang telah matang yang


diletakan di area terbuka seperti itu. Ada kemungkinan kalau telur gulung itu di Lalati-“


penjelasan ku terpotong


“arghh…udah-udah, kami paham kok” kata Eri sedikit kesal


Kami pun melanjutkan jalan-jalan kami. Kami mencoba beberapa permainan. Setelah berkeliling cukup jauh, kami sampai pada wahana yang dari kejauhan sudah membuat anak-anak bahkan rejama ketakutan hanya dengan suara teriakan dan tangisan wahana itu, apalagi kalau bukan rumah hantu.