
Eri memiliki paras yang imut dan cantik sehingga banyak laki-laki disekolahnya yang jatuh cinta padanya dan ingin menjadi pacar gadis imut itu. Namun Eri menolak semua ajakan untuk berpacaran itu karena hati Eri hanya milik Evan seorang.
“Maaf, aku tidak tertarik pada mu”
“Maaf… sebelum menembak ku coba pulanglah dan lihatlah dirimu di cermin”
“Maaf… aku lagi gak pengen pacaran”
“Maaf… kamu bukan tipe ku”
Eri sudah muak di tembak berkali-kali dan juga Eri sudah capek menolak mereka semua. Eri tidak memiliki perasaan apa-apa pada mereka oleh karena itu Eri tidak memperdulikan hati mereka setelah menolaknya.
Eri berniat menembak Evan setelah masuk ke kelas dua. Dia sudah tidak sabar untuk mengungkapkan perasaanya yang telah ia pendam selama ini. namun semuanya berubah setelah kedatangan gadis pindahan itu. Eri terkejut ketika melihat wajah Evan yang terpukau dengan kecantikan dari gadis pindahan itu.
Pada awalnya Eri hanya membiarkan gadis itu dekat dengan Evan karena dipikirannya dia hanya ingin berteman seperti biasa dengan Evan. Tapi Eri sudah salah dalam melangkah, dihari itu, saat Eri dan Putri mengikuti Evan dan Anita secara diam-diam, Eri tak menyangka akan melihat Anita dan Evan ciuman diluar toko makanan di sebuah mall.
Eri kembali kerumahnya dengan perasaan kesal. Timbul perasaan benci yang mendalam kepada Anita sejak saat itu. Eri bertekad ingin membuatnya menderita. Hatinya tidak hanya hancur melainkan sudah tidak ada yang tersisa lagi. Perasaan yang telah dipendam selama ini meledak begitu keras hingga hanya menyisahkan titik kecil kebencian.
“Beraninya…beraniya dia merebut Evan dari ku…” kata Eri marah
“Lihat saja nanti... akan kubuat dia menyesal telah merebut Evan dari ku” kata Eri marah
Setelah pertandingan futsal berakhir
Eri terkejut setelah mendengar pengakuan dari Aldi. Dalam hatinya, Eri tampak sangat senang dan girang bisa mendapatkan kesempatan langka seperti ini. Muncul pemikiran jahat dipikiran Eri untuk memaksa Anita untuk mempacari Aldi.
“Apa-apaan ini…? iiiihhh ini kesempatan ku untuk membuat cewek sialan itu berpacaran dengan Aldi hahaha” batin Eri girang
“Rari awal aku sudah tidak suka dengan Aldi, toh dia juga sering menggunakan Evan untuk menunjang popularitasnya. Aku sudah muak dengan tingkah laku bajingan ini” pikir Eri
“Ini yang dinamakan sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui hahaha” pikir Eri girang
Keesokan harinya
Setelah tahu Anita dan Aldi di pilih menjadi pasangan fashion show kartini yang akan diadakan besok, menambah semangat Eri untuk melancarkan aksinya untuk memaksa Anita menerima pengakuan cinta Aldi.
Sepulang sekolah, Eri mengundang Anita untuk bermain kerumahnya. Anita pun dengan senang hati menerima ajakan dari Eri. Anita merasa sangat senang sekali di ajak bermain ke rumah Eri karena selama ini dia belum pernah di ajak bermian kerumah teman sekelasnya.
Saat Anita masuk kedalam kamar Eri, Anita merasa bingung kenapa lampu kamar Eri tidak dinyalakan. Eri tiba-tiba mengunci pintu kamarnya hingga membuat Anita sangat terkejut. Lalu Eri menyalakan lampu kamarnya itu, Anita sangat terkejut saat melihat isi kamar Eri. Anita menatap kesekeliling dengan perasaan takut dan ngeri.
Anita terkejut dengan isi kamar Eri yang seluruh sudut ruangan ditempeli dengan foto Evan. Di dinding, di atas pelapon, di meja belajar, di atas bantal, diatas guling, semuanya penuh dengan foto Evan. Banyak foto Evan yang sedang melakukan aktivitas dan kebanyakan foto itu diambil tanpa sepengetahuan Evan.
“Anu… Eri… apa maksudnya ini?” tanya Anita ketakutan.
Sangking takutnya, Anita sampai bejalan mundur kearah pintu secara perlahan. Namun dia menabrak Eri yang berdiri tepat didepan pintu. Tiba-tiba Eri menodongkan cutter ke leher Anita hingga meneteskan darah.
“Mau kamana kamu?” tanya Eri mengintimidasi
“Ha…ha…anu..an-anu…” sangking ketakutannya, Anita sampai gerogi menjawab pertanyaan Eri. Kaki Anita terus saja gemetaran dan dia rasanya ingin menangis.
“Ssssttt… jangan teriak~ kamu gak maukan kalau aku sampai kaget dan gak sengaja membuat cutter ini menembus tenggorokan mu hihihi” ancam Eri
“Um…um…” Anita mengangguk ketakutan
“Ayo kita duduk dulu~” kata Eri menakutkan