Love And Despair

Love And Despair
Pesona Gadis Kacamata Sesungguhnya



“wah….kalian semua ada disini toh” kata Aldi datang menghampiri


Sontak kami berempat menoleh arah suara itu. Kami berempat terkagum-kagum dengan


sosok Aldi yang menggunakan pakaian adat jawa itu. Dia tampak berbeda jika mengenakan


pakaian adat itu. Pakian hitam berlis emas serta hiasan kris di pinggang Aldi, membuatnya tampak berbeda. Belangkon yang dia pakai pun tampak cocok sekali dengannya.


“wahhh~ kamu ganteng banget pakai pakaian adat itu” puji Eri


“hem, kamu cocok banget pakai baju adat itu” Siska mengangguk bangga


“ehehehe makasih” Aldi tersipu malu


“lah mana pasangan mu? Kok gak keliatan” tanya Budi


“oh… dia, karena bajunya ribet banget dia sampai kesusahan jalan ke kelas. Mungkin


bentar lagi dia sampai” jawab Aldi


“hai teman-teman…” sapa Anita


“nah… panjang umur, baru juga di bica-“ kata Budi terpotong


Kami berempat tepukau dengan kecantikan Anita. Pakaian adat jawa yang mengeluarkan


cahaya emas itu membuat kami tidak bisa berkata-kata. Anita memang sudah cantik tanpa riasan di wajahnya, tapi sekarang dia seperti orang yang berbeda dengan riasan itu.


Aldi dan Anita berdiri sejajar di depan kami. Mereka seperti pasangan suami istri yang


hendak menikah saja. Mereka memang kombinasi yang terbaik untuk memenangkan kontes Fashion Show yang akan di adakan nanti.


“anu…” Anita malu


“apa aku kelihatan aneh?” tanya Anita malu


“eh, enggak kok. Kamu cantik banget malah” jawab Budi takjub


“wah~ Anita cantik banget” Eri berlari memeluk Anita gemas


“eh eh” Anita terkejut


“anu…gimana menurut mu, Van?” tanya Anita malu-malu


“eh, emm… kamu cocok pakai itu kok” jawab ku tersipu malu


“syukur lah… aku sempat minder pakai baju ini. Soalnya aku belum pernah pakai baju seperti ini” Anita lega


“hah? Kamu ngomong apa? Jelas-jelas kamu cocok banget kok. Jadi kamu gak usah


minder~” dukung Eri


“iya…kamu beneran cocok kok pakai baju itu” sambung Aldi


“makasih teman-teman” kata Anita senang


Dari arah pintu kelas, terdengar suara beberapa langkah kaki dari lorong yang menuju ke


kelas kami. Terlihat teman-teman Siska datang berbarengan. Tampak cantik menggunakan baju batik couple, ternyata kelompok Siska sudah menyiapkan pakaian batik Couple untuk


acara Kartini-an ini.


“Sis, ayo kita nonton konser di lapangan” ajak Wulan


“kalau gitu aku jalan dulu ya, teman-teman ku dah manggil aku” Siska pamit pada kami


“ya, hati-hati di jalan” kata Eri melambaikan tangan


“-ya” jawab ku dan Aldi pendek


“hati-hati Siska” kata Anita melambaikan tangan


“ya… jangan sampai kamu godain cowok yang lewat depan kamu” ejek Budi sambil bermain dengan hp-nya


“yang harusnya bilang begitu tuh aku!” Siska kesal


“jangan sampai kamu menggoda cewek yang lewat di depan mu” Siska mencubit telinga


Budi


“aduh aduh…iya iya… bawel amat” Budi kesal


“dah dah…” Siska pergi dengan tersenyum


Karena kami berempat sudah berkumpul, kami pun berencana pergi jalan melihat-lihat stand yang ada di sekolah. Karena acara utamanya di mulai jam 10 pagi, Anita dan Aldi masih memiliki waktu untuk menikmati acara ini.


Stand-stand yang dibuka begitu banyak. Banyak stand yang menjual makanan ringan, mulai dari makanan tradisional seperti gorengan sampai jajanan modern seperti takoyaki. Disaat kami sibuk memesan jajanan di stand takoyaki, tiba-tiba terdengar suara gadis yang memanggil ku dari belakang.


Seketika aku langsung membalikan badan, tanpa kusadari pandangaku tidak bisa berpaling melihat kecantikan gadis yang memanggil ku itu. Wajah merona dan malu-malu yang membuat siapapun jatuh cinta membuatku tidak bisa berkata apa-apa.


“kenapa? Jangan melihat ku terus!” kata gadis itu malu-malu


“eh, maaf maaf!” aku terkejut, tersadar dalam pesona kecantikan gadis itu


“anu… mbak ini siapa ya, apa kita pernah bertemu?” tanya ku gugup


Tiba-tiba wajah gadis itu berubah menjadi kesal. Dia tampak ingin menghajar ku. Padahal aku baru saja bertemu dengan gadis ini, malangnya nasib ku. Kenapa setiap kali aku bertemu dengan gadis baru harus berakhir dengan kekerasan. Tapi wajahnya tampak familiar, aku seperti pernah melihat wajah gadis ini, tapi dimana ya? Eri yang sadar dengan kehadiran gadis itu langsung memeluknya tanpa basa-basi.


“wahhh! Putri! Kamu cantik banget~” perluk Eri senang


“hah? Putri?” aku begitu terkejut


“apa? Jangan-jangan kamu lupa lagi sama aku?” Putri kesal dan matanya berkaca-caka


“dari sekian banyak teman mu, kenapa cuman aku yang selalu kamu lupakan, hiks…” Putri


sedih


“Evan jahat, kasian Putri” kata Anita memandang ku kecewa


“bu bukan begitu… hanya saja kamu tampak berbeda aja….” Jawab ku canggung


“hah? Berbeda gimana? Perasaan aku gak oplas…muka juga masih sama. Mau ngeles apa lagi kamu?” Putri kesal namun wajahnya yang cemberut sangatlah imut


“anu…gini, maksudku…kamu kelihatan tampak lebih cantik dari biasanya. Apalagi kamu melepas kaca mata mu. Aku jadi enggak bisa mengenalimu” jawab ku malu


“hah…emm….makasih loh” Putri tersipu malu wajahnya merona


Sontak Anita dan Eri menunjukan wajah kesal. Wajah mereka tampak begitu menakutkan,


apakah aku mengatakan hal yang salah? Aura membunuh mereka keluar sampai aku bisa


merasakannya.