
Siang itu, suasana kelas ku sangat mencekam. Seisi kelas mengeluarkan aura hitam, itu
dikarenakan siang itu ada dua gadis yang membuatkan ku bekal makan siang. Wajah kedua gadis itu sangat berbunga-bunga dan sangat menantikan pendapat ku tentang masakan mereka.
“Ini Van. Aku buatkan kamu bekal makan siang” kata Anita berbunga-bunga. Dia membuka kotak bekalnya, makanan yang dibuatkan oleh Anita sangat menggoda
“Anu…anu…aku juga buatkan bekal buat Evan” Eri menodongkan kotak bekalnya
kepadaku. Wajahnya tampak sangat malu.
“Ehehehe… makasih loh” jawab ku gugup
“Duh…gimana nih? Kalau aku tolak nanti mereka sedih, tapi kalau aku terima kedua bekal
itu nanti nyawa ku terancam” pikir ku bimbang
“Nah~ sekarang buka mulut mu yang lebar. Aaaaa…..” Anita mencoba menyuapi ku
“Cih!” wajah Eri tampak sangat kesal
“Ini Van. Kamu coba masakan buatan ku. Aaaaa…” Eri tampak tidak ingin mengalah
Seketika semua cowok dikelasku menatap tajam ke arah ku. Posisiku sangat terancam, tapi aku tidak ingin mengecewakan mereka berdua.
“Baiklah! Aku akan memakan bekal mereka
dengan mempertaruhkan nyawaku ini!” pikir ku.
“Aaa em” aku menyantap makanan yang dibuat oleh Eri
Ummm~ enak~” masakan Eri memang juara. Tidak diragukan lagi kemampuan memasak
milik Eri
“Ma-makasih…” Eri tersipu malu
“Ok, selanjutnya…” batin ku gugup
“Aaaa em” aku menyantap makanan yang dibuat oleh Anita
Seketika aku terdiam, aku tak sanggup untuk mengunyah makanan yang dibuat oleh Anita.
Aku penasaran, sebenarnya apa saja bahan yang di pakai oleh Anita. Rasanya campur aduk dan rasanya aku ingin muntah saja.
“Inilah the real don’t judge a book by cover” batin ku
Wajah Anita yang berbunga-bunga itu sangat penasaran. Aku tidak ingin membuatnya
kecewa. Aku pun memaksa masuk makanan tak lazim itu kedalam perut ku. Rasa aneh dari makan itu masih tersisa di lidah ku.
“Bagaimana?” mata Anita berbinar-binar
“Eeee….anuu…itu…” aku bingung harus menjawab apa
“Tidak enak ya?” wajah Anita kecewa dan sedih
“ahahaha enggak kok~ enak kok! Rupanya kamu jago masak juga ya hahaha” kata ku tertawa ragu
“Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Ini pertama kalinya aku memasak loh. Aku sempatkhawatir kalau masakan ku gak enak” ungkap Anita sangat senang
“Karena aku ingin membuat mu jadi yang pertama mencoba masakan ku, aku memutuskan untuk tidak mencoba hasil masakan ku hehehe” kata Anita percaya diri
“Ahahaha begitu ya” aku tertawa ragu
“Jadi ini toh alasan masakannnya punya rasa gak lazim begini” batin ku
kain hitam. Aku panic, kenapa bisa aku dibawa begini. setelah beberapa saat kain hitam itu
dilepaskan dari kepala ku.
Aku terkejut, aku berada diruangan gelap dengan tangan terikat dan dikerumuni oleh
orang-orang yang memakai kerudung hitam. Di depan ku datang seorang yang menggunakan
kerudung hitam dan membawa sebuah palu. Dia berdiri dibalik bang ku guru.
“Ah! Aku dimana! siapa kalian!” tanya ku panik
“Kami adalah sekte anti-cinta. Kami menentang segala bentuk cinta didalam kelas ini” ungkap pemimpin kelompok itu
“Terdakwa! Kamu telah melakukan tindakan yang melanggar hukum dikelas ini” kata
pemimpin kelompok itu
“Woi! Lepasin!” aku mencoba melepas ikatan tangan ku dikursi
“Berdasarkan laporan, kamu telah mendapatkan suapan manja dari dua cewek cakep
beberapa menit lalu, apa itu benar?” tanyanya
“Be-benar” jawab ku ragu
Seketika semua anggota sekte itu berteriak pada ku dan melempari ku dengan kertas.
Mereka semua meminta hakim untuk memberikan hukuman yang berat pada ku.
TOK! TOK! Hakim memukul palu
“Tenang! Baiklah aku akan melanjutkannya” pemimpin itu tampak kesal
“Selanjutanya, saya akan bertanya pada dua gadis cantik ini. apa hubungan kalian berdua
dengan sang terdakwa? Apa kalian adalah pacarnya?” tanyanya
Tiba-tiba lampu sorot diarahkan ke arah Anita dan Eri yang tampak duduk berdampingan
sembari memegang bekal mereka masing-masing. Terlihat mereka sangat malu-malu saat ditanya oleh hakim tentang hubungan mereka dengan ku.
“Hu-hubungan ya~ mungkin kami sudah….kyaaaa!” Eri tersipu malu
“Hu-hubungan ya~ kamu tanya aja sama dia…” Anita tersipu malu
Seketika para anggota sekte marah kepada ku. Beberapa dari mereka melempar kursi dan
tas ke arah ku, namun untungnya aku bisa menghindari lemparan mereka. Situasi ku semakin rumit dan terancam.
“Dari semua bukti dan keterangan dari para saksi, maka terdakwa dijatuhi hukuman yang
berat!”
TOK! TOK! TOK! Sang pemimpin mengetok palu
“Ayo angkat dia!”
“Kami benci protagonist yang punya banyak cewek!”
“Protagonis bahagia kayak dia lebih baik kita buang ke kolam belakang sekolah!”
Aku pun disiksa oleh sekte anti-cinta itu. Mereka tidak membiarkan ku kabur. Sesekali aku merangkak keluar dari amukan mereka, tapi kaki ku diseret masuk kembali ke dalam amukan mereka.