
“kamu lagi. Sudah ku bulang jangan kesini lagi kan” kata Eri kesal
“kali ini aku diminta datang sama ibu Evan, kamu tidak berhak menahan ku sekarang”
balas Anita
Mereka berdua pun masuk berbarsamaan. Betapa bahagianya mereka berdua melihat Evan
yang sudah bisa duduk di atas Kasur sembari menatap keluar jendela. Seketika air mata
kebahagiaan mengalir di antara mereka berdua. Dia tampak sehat meskpiun dia masih di impus.
“evan, bagaiama keadaan mu?” tanya Eri
“emm… alhamdulillah aku baik-baik aja kok. Meskipun badan ku masih lemas sih” jawab
Evan
“syukurlah…aku senang bisa melihat mu baik-baik saja seperti ini” kata Anita
“hehehe makasih ya. Aku dengar dari ibu ku, kalian berdua selalu datang menjenguk ku”
kata Evan tersenyum
“ya…sama-sama” jawab Eri
“ya…” jawab Anita menahan air mata
“anu…ngomong-ngomong, kalian berdua ini siapa ya? Hehehe….” Tanya Evan dengan
polosnya
“apa kalian teman ku?” tanya Evan penasaran
Seketika Anita dan Eri tertegun setelah mendengar petanyaan dari Evan. Anita dan Eri
dengan serentak menoleh ke arah ibu Evan, namun ibu Evan hanya diam saja. Mata mereka berdua
seketika berkaca-kaca.
“kata dokter, kepalanya terbentur dengan sangat keras yang menyebabakan Evan
mengalami gegar otak berat. Dokter tidak bisa memastikan kapan ingatan Evan akan kembali, tapi
kata dokter ada kemungkinana kalau ingatannya tidak akan kembali lagi hiks…” Ibu Evan menangis
Seketkita Eri terduduk dilantai dan menangis dengan kencang. Anita hanya berdiri disana
sambil menatap wajah Evan yang tampak kebingunangan. Air mata Anita hendak jatuh, tapi dia
menahannya sekuat tenaga.
“anu apa kalian berdua baik-baik saja?” Evan tampak kebingungan
“em em…” Anita menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum menahan air mata
“apa kita saling mengenal?” tanya Evan penasaran
“Evan, apa kamu ingat pertama kali kita bertemu di pinggir jalan?” tanya Anita
“aku ketemu kamu di pinggir jalan?!” kata Evan tidak yakin
“Evan, apa kamu ingat? Kamu telah menyelamatkan ku dari orang-orang yang mau
menggoda ku” kata Anita
“Evan itu siapa?” tanya Evan polos
tidak sanggup menahan air matanya
“aku sangat mencintai mu…Evan” air mata Anita mengalir
“maaf, apa kita pacaran? Aku tidak ingat sama sekali” tanya Evan penasaran
“SUDAH! CUKUP! JANGAN DITERUSKAN LAGI!” teriak Eri tidak kuat menahan
perasaannya
Anita menangis pelan dihadapan Evan yang sedang kebingungan. Anita sudah tidak
sanggup untuk melanjutkannya. Hatinya hancur setelah mendengar semua jawaban Evan. Anita sudah kehilangan harapan.
“yeeeyyy! Selamat! Anda kena prank!” teriak Evan
“-eh!” Anita dan Eri terkejut
“loh….tadi kata ibu mu kamu gegar otak trus kamu hilang ingatan” tanya Anita
kebingungan
“puf…ahahaha….maaf-maaf. Evan nyuruh ibu buat pura-pura sedih biar bisa nge-prank
kalian berdua” kata Ibu Evan yang tertawa lepas
“eergggghhhh EVANNN!” Eri dan Anita marah pada Evan
“eh! Eh…tunggu! Aku masih hitungannya pasien loh…WAHHHHHHH!” kedua pipi Evan
merah karena dicubit oleh Anita dan Eri.
“hadehhh…untunglah kamu gak papa” kataAnita lega
“ya…kamu sempat membuat kami serangan jantug tau~” kata Eri kesal
“hehehe maaf~ maaf~” Evan menyesal
Setelah Anita dan Eri selesai menjenguk dan pergi meninggalkan ruangan itu, wajah ibu
Evan tampak begitu sedih. Mata ibu Evan berkaca-kaca. Evan yang melihat wajah ibunya yang
sedih merasa sangat bersalah. Evan hanya terdiam dan menatap ke arah luar jendela.
“apa ini tidak apa-apa?” tanya ibu Evan
“sebenarnya kamu lupa ingatan betulan, kan?” tanya ibu Evan
“ibu hanya memberitahu mu kalau mereka berdua adalah teman mu yang selalu datang
menjenguk mu” kata ibu Evan khawatir. Wajah Evan tampak sedih
“aku hanya merasa tidak ingin membuat khawatir mereka berdua. Aku minta maaf kepada anda karena telah memenuhi keinginaan egois ku ini” kata Evan
“mungkin suatu saat aku bisa mengingat semuanya kembali. Sampai saat itu tiba, mohon
perlakukan saya seperti anak anda sendiri” kata Evan tulus
Seketika ibu Evan langsung memeluk Evan dengan Erat. “kamu ini bicara apa? Kamu ini
tetap anak ku. Sudah jelas aku akan memperlakukan mu sebagai anak ku hiks…” ibu Evan menangis
“eh, terimakasih…” Evan tersenyum