
Stadiaun futsal
Hari laga final futsal dilaksanakan
Beberapa hari telah berlalu sejak aku pergi menonton film dengan Anita. Kami tidak bisa
mendukung Aldi di lapangan saat babak penyisihan dan babak semi-final, kami hanya bisa menunggu di sekolah dengan mendoakan yang terbaik. akan tetapi hari ini berbeda, karena pertandingan final di adakan bertepatan dengan berakhirnya jam sekolah. Kami pun bisa secara langsung mendukungnya.
“a-apa kita terlambat?” tanya Eri
“sepertinya enggah deh” jawab jawab ku pendek
“untunglah kita gak terlambat” kata Anita
“ALDIIIII! SEMANGATTT!” teriak Eri
“…” Aldi hanya melambaikan tangannya kepada kami
Pertandingan berjalan begitu sengit. Kedua tim saling jual beli serangan. Tim Aldi sedang
dalam kesulitan, mereka kalah 1-0 dari tim lawan. Namun Aldi tampak tidak ingin menyerah. Aldi dengan skill-nya menggiring bola melewati beberapa pemain dan melancarkan tendangan kuat ke arah mulut gawang lawan. Dengan semangat berapi-api dan semua kerja kerasnya akhirnya dia
mencetak gol.
“KYAAAA! ALDIIII!!!” teriak tiga cewek di pinggir lapangan
PRITTTT!
Tanda babak pertama telah usai
Di bangku istirahat, tiba-tiba ada tiga orang cewek yang datang menghampiri Aldi dengan
wajah kelewat senang.
“i ini Aldi! Kamu pasti haus banget kan?! Minumlah untuk mengambalikan energi mu”
kata Dewi sembari memberikan botol air mimun
“I ini Aldi! Handuk untuk mu…” kata Lia malu-malu
“ka kamu pasti kenapanasan banget kan?! Sini biar aku kipasin!” kata Lulu kesenangan
“eh! Makasih loh” kata Aldi canggung
“KYAAAA!” tiga cewek stress itu histeris
“Aldi berterimakasih padaku! Kyaaa!” kata Dewi yakin
“Eeenggak! Dia berterima kasih sama aku!” bantah Lulu
“kepede-an banget sih jadi cewek~ jelas-jelas Aldi berterimakasih sama aku!” kata Lia
sombong
“Enggak! Aku!” teriak Lulu
“Enggak! Aku!” teriak Dewi
“Enggak! Pasti aku!” teriak Lia
“anu….teman-teman…” kewalahan
Disaat Aldi disibukan dengan tiga cewek stress itu, Semua anggota tim futsal selain Aldi merasa terasingkan. Aldi mendapat perlakuan khusus dari tiga cewek cantik dan mereka hanya minum air mineral gelas dengan memandang sinis Aldi. Aura suram muncul dari seluruh anggota tim futsal yang iri dengan Aldi.
“ehehehe…” Aldi tidak nyaman
“teman-teman! Mari kita semangat buat babak kedua nanti…” kata Aldi canggung pada
anggota timnya sembari mengulurkan tangan
“plak!” tangan Aldi di di tampar oleh Fadel
“jangan sok-sok’an akrab sama kami!” Fadel kesal
“iya betul…kamu sudah punya mereka kan?! Ngapain kamu ikut ngumpul sama kami”
sambung Eko
“aku gak ingat punya teman yang popular dikalangan cewek” Fauzy kesal
“ehhhh???” Aldi bingung
“sialll! Aku juga pengen punya pacar trus datang kesini buat menyemangatin aku…
hiksss!” Alan menangis
“tenanglah Lan. Kamu masih punya kami yang setia sama kamu kok. Enggak seperti
penghianat satu ini” Fauzy merangkul Alan dan memandang sinis Aldi
“cih! Kami gak butuh penghianat!” Eko kesal
“eeeh” Aldi merasa bersalah
“ya, betul! Kamu masih punya kami. Kita kan teman selamanya” Fadel ikut merangkul
“teman-teman~ hu..huuuuu” Alan menagis bahagia
“ehhh??” Aldi gak bisa berkata-kata apa-apa lagi
“cih! Dasar cowok-cowok menjijikan!” kata Dewi kasar
“berbeda dengan Aldi tetep gagah meskipun berkeringat sekalipun” sambung Dewi
PRITTTT
Peluit tanda babak kedua telah dimulai
“ayo teman-teman! Kita bantai mereka!” Fadel berapi-api
“YOOOO!” teriak anggota tim kecuali Aldi
Seketika semangat anggota tim Aldi meledak-ledak sampai membuat tim musuh takut. Semangat yang berasal dari api cemburu dan kekesalan menjadi senjata mematikan bagi tim Aldi. Sedangkan Aldi terus merasa bersalah saat memasuki lapangan.
“SEMANGAT ALDIIII!” teriak tiro stress itu
“makasih ya~” balas Aldi sembari lari masuk lapangan melewati tio stress itu.
“kyaa! Aku menghirup udara yang sama dengan Aldi!” Lia histeris
“iya aku juga!” Lulu juga histeris
“kayaknya aku bakal pingsan deh~” kata Dewi lebay