Love And Despair

Love And Despair
Tidak Ada Yang Namanya Karakter Figuran



Disaat aku sedang disiksa, Budi dan Siska datang mampir ke kelas ku. Terlihat Siska


berjalan disamping Budi sambil merangkul tangannya. Wajah Siska tampak sangat senang saat jalan merangkul tangan Budi.


“Wah~ ramai sekali dikelas ini. hai gaes~” sapa Budi


“-hai” jawab Anita dan Eri


“Loh, kok Siska ngerangkul tangan Budi sih?” tanya Eri


“Kami sekarang udah pacaran~” ungkap Siska senang


“HAAAAAA!” Anita, Eri dan Budi terkejut


“Kamu ngapain ikutan kaget, bego!” Eri menarik kerah baju Budi. Wajah Budi tampak kebingungan


Suasana kelas itu sangat ramai dan terlihat sangat menyenangkan. Canda dan tawa


menghiasi kelas ku. Aku tidak menyangka kalau aku memiliki teman-teman sebaik ini


sebelumnya. Aku mengira aku hanya anak biasa yang selalu jadi figuran disebuah cerita. Tapi, kini aku merasa seperti pemeran utama didalam cerita yang menyenangkan ini.


“Benar! setiap orang adalah pemeran utama dalam kisah mereka masing-masing. Tidak


ada yang namanya pemeran figuran di dunia ini” pikir ku


***


Jam sekolah telah berakhir


Seperti biasa, aku menunggu semua orang meninggalkan kelas baru setelahnya aku pergi


meninggalkan kelas. Aku mendapatkan ingatan ini saat aku mendengar bell tanda pertanda


berakhirnya jam sekolah. entah mengapa suasana hening dan sepi ini serasa sangat nyaman, aku sepeti merasa sangat kangen dengan suasana hening kelas ini.


Saat aku hendak meniggalkan kelas yang hening itu, aku melihat Anita tengah bersandar


di depan kelasku. Tampaknya dia sedang menunggu ku pulang. Aku selalu dibuat berdebar-debar setiap kali aku memandang wajahnya.


Tampak anggun berdiri bersandar di didepan kelasku sembari menatap ke depan. Angin


“Lagi nunggu siapa?” tanya ku


“Emm~ siapa ya?” Anita mencoba memjahili ku


“Kalau gitu aku duluan” kata ku dingin


“Eh! Tunggu! Aku bercanda~ sebenarnya aku sedang menunggu mu” Anita menarik bajuku


Aku membalikan badan, dia tampak cantik berdiri sambil tersenyum kepada ku. Angin


berhembus lagi membuat rambutnya kembali terbang bersama dengan dedaunan. Wajahnya


merona dan dia tampak malu-malu.


“Kita pergi mengunjungi Aldi yuk” ajak Anita


“Aku pikir setelah kamu bisa berangkat sekolah lagi, aku ingin mengajak mu menjenguknya” kata Anita


“Em…” aku mengangguk


“Ayo…” ajak ku


Entah mengapa aku menerima ajakannya begitu saja, padahal aku sendiri tidak tahu siapa Aldi. Tapi, dalam hati ku yang terdalam muncul perasaan bersalah dan sedih disaat yang bersamaan ketika aku mendengar nama Aldi. Seperti aku memang harus bertemu dengannya.


Kami pun berangkat menuju ke tempat Aldi. Aku sendiri tidak tahu Aldi sekarang ada


dimana, aku hanya berkendara mengikuti Anita dari belakang. Akhirnya, kami sampai di tempat dimana Aldi berada. Aku sangat terkejut dengan tempat yang kami kunjungi. Aku tidak


menyangka bahwa Aldi sekarang berada ditempat ini.


“ja-jadi… Aldi sekarang ada di kantor polisi” batin ku terkejut


Kami pun masuk ke kantor polisi itu. Setiap langkah ku meninggalkan jejak kegelisahan,


perasaan khawatir dan takut saat bertemu dengan Aldi menyelimuti ku. Kaki ku terasa sangat berat saat melangkah melewati jeruji besi itu.


“sekarang kita sudah sampai” kata Anita serius