
Di dalam sebuah kamar hotel berjendela kaca sangat lebar, Yusa terpaku memandang ke arah menara Tokyo yang bercahaya. Sudah beberapa hari ia berada di sini, di kamar hotel bintang lima yang spotnya langsung menghadap Tokyo tower itu, namun pesona replika menara Eiffel itu tidak sedikitpun luntur di matanya. Ia harus berterimakasih pada ibunya yang telah memesan kamar yang begitu nyaman di Hotel Prince Park yang hanya berjarak 400 meter dari menara kebanggaan rakyat jepang itu. Sang ibu telah menggelontorkan uang 51.072,55 Yen permalam untuk kamar corner king yang kini ditempatinya.
Sungguh membingungkan bagi Yusa, untuk apa ibunya memesan kamar dengan tempat tidur yang muat untuk dua orang itu, padahal ia berjalan-jalan di Tokyo seorang diri. Apakah ibunya berharap, Yusa bisa menghabiskan malam panjang bersama dengan seorang wanita dalam selimutnya? Padahal sampai saat ini seorang yang sedang ditaksir saja dia tidak punya, apa lagi kekasih yang bisa diajak bermalam bersama. Sesungguhnya tanpa Yusa ketahui, Yana mempersiapkan kamar itu apabila sewaktu-waktu Sota muncul, dan membutuhkan wanita menemaninya. Pria agresif itu tidak perlu repot-repot mencari tempat lagi untuk menyalurkan hasratnya.
Yusa tidak menyangka ia akhirnya bisa berkunjung ke Tokyo untuk melihat menara favoritnya itu. Tidak ada kehangatan dalam keluarga, membuat orang tuanya tidak pernah meluangkan waktu mengajak Yusa untuk jalan-jalan. Jangankan ke Tokyo, menghabiskan waktu bersama berkeliling kota Osaka saja tidak pernah. Sungguh kebaikan apa yang telah ia lakukan di masa lalu, sehingga ia bisa menikmati taman surga dunia versi dirinya saat ini. Ditambah lagi kesempatan ini ia peroleh setelah mendapat putusan pengadilan atas kejahatan yang sebenarnya tidak ia lakukan. Vonis perawatan kejiwaan yang dijatuhkan hakim padanya, membuat ia bisa berada di tempat yang sangat ia inginkan saat ini.
Dengan menaiki kereta Shinkansen tipe Nozomi yang memiliki kecepatan 300 km/jam di stasiun shin-Osaka Yusa menuju Tokyo. Yana memesan tiket via online. Ia memilihkan gerbong kelas bisnis (green car) dengan seat yang lebih luas untuk Yusa. Hanya membutuhkan waktu 2,5 jam, Yusa tiba di Tokyo.
Begitu keluar dari stasiun Tokyo, menara yang cerah dengan garis-garis merah tajam dan putih itu menyambutnya. Hanya membutuhkan waktu berjalan kaki selama 10 menit, Yusa sudah bisa mencapai tujuannya yaitu Tokyo Tower.
Tokyo Tower adalah fasilitas penyiaran yang aktif dan tempat yang ideal bagi para wisatawan untuk menikmati lanskap perkotaan yang menyilaukan di bawahnya. Pesona modern struktur ini dapat dinikmati dari luar ruangan karena menara ini menyala pada malam hari. Tetapi sensasi yang sesungguhnya adalah naik ke atas untuk melihat pemandangan kota yang dinamis.
Dibangun pada tahun 1958, tinggi Tokyo Tower mencapai 333 meter dan berfungsi sebagai simbol kelahiran kembali Tokyo setelah Perang Dunia II. Pada masa itu Tokyo Tower adalah menara tertinggi di dunia. Sebanyak lebih dari 220.000 pekerja menyelesaikan menara itu hanya dalam kurun waktu satu setengah tahun, meskipun pada saat itu belum ada peralatan berteknologi tinggi sebagaimana sekarang.
Saat melihat Tokyo Tower, akan mengingatkan kita dengan Menara Eiffel. Ini memang benar, karena sang Arsitek terinspirasi oleh bentuk Menara Eiffel, dan di samping itu dia juga ingin menciptakan sesuatu yang unik di Tokyo. Meski demikian kedua landmark ini benar-benar berbeda.
For your info, bahkan material menara Tokyo ini berasal dari logam sisa tank yang ditinggalkan oleh tentara Amerika!
Saat berkesempatan berkeliling di Tokyo, Yusa juga dapat menyaksikan sendiri bahwa ada nuansa spiritual dan oriental Jepang yang kental pada Tokyo Tower. Ini kemungkinan besar bersumber dari kuil-kuil kuno sebagai tempat pemujaan di sekeliling bangunannya. Tokyo Tower merupakan bangunan tertinggi kedua di Jepang setelah menara Tokyo Skytree yang dibangun tahun 2012. Tinggi tower ini mencapai 333 meter, 13 meter lebih tinggi dari Menara Eiffel. Fungsi utamanya adalah struktur penunjang antena besar untuk televisi dan radio di Jepang, juga sebagai obyek wisata.
Di tempat ini terdapat dua anjungan yang merupakan dek observasi. Dek utama memiliki ketinggian 150 meter, dan sudah dibangun dek yang baru dengan ketinggian 250 meter tepat di atas menara.
Di sini Yusa menikmati pemandangan yang mengesankan, taman-taman indah dan kuil di sekeliling menara, yaitu Roppongi, Shiodome, Toranomon, dan Shinagawa. Selain itu juga bisa melihat Gunung Fuji dan landmark yang ikonik, Tokyo Skytree.
Yusa yang tidak fobia ketinggian, bisa menjelajahi area berlantai kaca, dimana ia bisa melihat langsung ke bawah menara.
Tidak jauh berbeda dengan Menara Eiffel, Tokyo Tower juga menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan di malam hari. Seluruh bagian menara, termasuk strukturnya akan tampak menyala berkilauan.
Bahkan pada hari-hari penting Jepang, instalasi cahaya di Tokyo Tower kadang-kadang juga berubah warna. Yusa tidak akan melewatkan untuk menyaksikan pemandangan magis seluruh kota metropolitan yang tiba-tiba menyala dalam berbagai warna dengan menara ini sebagai pusatnya.