Looking For Murder

Looking For Murder
Dokter Keiko Di mana?



Beberapa jam sebelumnya, poin of view nya Takagi..


Hari ini suasana hatiku lagi bagus. Setelah semalam, Keiko menemaniku di sini sampai pukul 10. Pukul 6 pagi, perawat sudah datang ke ruangan ku. Membantuku untuk bersih-bersih, mengganti botol infus, mengantar sarapan dan obat yang harus aku konsumsi pagi ini.


Setelah perawat menyelesaikan tugasnya, kini aku sendirian di kamar rawat vip ini. Sepagi ini aku telah merindukan Keiko. Aku berharap wanita cantik itu segera datang. Menemaniku lagi seperti kemarin. Untuk membunuh waktu, aku menyalakan televisi menggunakan remote kontrol yang diletakkan perawat di nakas tempat tidurku. Aku mengganti channel tv secara tidak beraturan. Tidak ada 1 channel pun yang dapat menarik hatiku. Aku melirik jam yang ada di dinding kamar telah menunjukkan pukul 8 pagi. Pasti sebentar lagi Keiko akan datang menemui ku. Aku mencoba bersabar, dengan terus melanjutkan kegiatanku menonton televisi.


Tik tok tik tok. Jam di dinding berdetak terasa sangat lama. Detik demi detik. Menit demi menit. Akhirnya 1 jam pun berlalu. Menunggu itu ternyata sangat menyiksa.


Pukul 9 pagi, pintu kamarku diketuk.


Tok tok tok..


Kaoru masuk ruangan ku dengan wajah sumringah.


“Pagi, Detektif. Kau keliatan segar sekali pagi ini”.


“Pagi. Letnan. Mood ku yang tadinya bagus, tiba-tiba buruk begitu melihat wajahmu”. Jawabku ketus.


“Aiss. Sungguh terlalu dirimu, Detektif. Padahal aku datang membawa kegembiraan padamu”.


“Kegembiraan apa?”


“Ada seseorang yang ingin menemui mu. Spesial” Kaoru mengedipkan sebelah matanya.


“Siapa?”. Dalam bayangan ku Keiko lah yang akan menemui ku, walau aku yakin pasti bukan Keiko tamu yang dimaksud Kaoru.


“Masuk...!!!” Kaoru berteriak lantang.


Pintu kamar kemudian terbuka.


“Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday day. Happy birthday day. Happy birthday day to youuuu...”


Rosanne masuk dengan membawa cake ulang tahun dengan lilin menyala di atasnya. Ia menggunakan dress bunga-bunga tanpa lengan setinggi lutut. Di belakangnya beberapa orang perawat ikut masuk ke dalam ruangan.


Sungguh kejutan yang tidak menyenangkan sebenarnya. Kenapa wanita ini datang lagi mengunjungi ku. Namun, mau tidak mau aku harus menghargai usaha Rosanne.


Rosanne mendekatiku dengan senyum merekah. “Make the wish” Ucapnya lembut.


Aku mengikuti kata-katanya dengan menautkan kedua tanganku ke dada. Memejamkan kedua mata, dan mengucapkan permohonan kepada Tuhan. Aku berharap di penghujung usia 30 ku ini, aku ingin hidup bahagia dengan orang yang sangat aku cintai sampai di ujung usia kami. Apa lagi yang aku harapkan dari hidupku ini, selain kebahagiaan. Aku membuka kedua mataku begitu selesai berdoa.


“Tiup lilinnya” Ucap Rosanne kemudian.


Aku meniup lilin yang ada di cake itu, hingga apinya padam. Tanpa aku duga, Rosanne mencium kedua pipi ku dan mendekap ku.


“Selamat ulang tahun, Takagi-san” Rosanne berkata sambil memeluk tubuhku erat.


“Terimakasih. Bisakah kau lepas pelukanmu? Aku tidak bisa bernafas”. Balasku dengan suara pelan.


“Oh maaf” Rosanne melepas dekapannya padaku. Ada semburat rasa kecewa terpancar dari matanya. Namun aku tidak perduli. Aku tidak ingin memberikan harapan palsu karena rasa kasian ku padanya.


Setelah aku meniup lilin, semua yang hadir bertepuk tangan dengan meriah. Di lanjutkan acara ramah tamah yang tidak penting menurutku. Tetapi untungnya tidak berlangsung lama. Perawat yang hadir satu persatu mengundurkan diri, pamit untuk melanjutkan tugas mereka.


“Semoga kau suka dengan kejutan ini”. Ucap Rosanne.


“Terima kasih dengan kejutannya. Kau sudah bersusah payah meluangkan waktu disela kesibukanmu” Aku tersenyum tulus.


“Tidak masalah. Aku dengan senang hati melakukannya”.


Hatiku gelisah karena keberadaan Rosanne di sini ditambah Keiko belum juga menampakkan batang hidungnya.


Untung saja seorang perawat masuk.


“Selamat pagi. Maaf sebentar lagi Dokter Masao akan melakukan visit room. Yang tidak berkepentingan silahkan meninggalkan ruangan”.


Rosanne menyentuh tanganku, namun cepat aku tepis. Aku memberi kode pada Kaoru untuk segera membawa Rosanne ke luar.


“Ayo kita ke luar, Nona. Biarkan Tuan penyakitan ini beristirahat, supaya cepat sehat”. Ucapnya dengan mimik mengejekku.


“Baiklah. Aku pulang dulu. Besok aku ke sini lagi”. Dengan terpaksa Rosanne meninggalkan ruangan ku.


Sepeninggal Rosanne dan Kaoru, aku coba menghubungi ponsel Keiko, tapi tidak aktif. Aku mengulanginya lagi hingga berkali-kali. Namun, hal sama yang aku dapatkan. Tak lama kemudian, dokter Masao masuk bersama seorang perawat di belakangnya.


“Selamat pagi, Detektif”.


“Pagi, Dok”.


“ Bagaimana keadaan mu saat ini?”


“Sudah lebih baik, Dokter”.


“Coba aku periksa sebentar”. Dokter Masao memeriksa luka bekas operasi ku. Ia juga memeriksa rekam medis ku yang di bawa oleh perawat yang datang bersamanya.


“Ya bagus. Kalau sudah habis, infus sudah bisa di lepas” Ucap dokter Masao pada perawatnya.


“Baik Dokter”.


“Besok anda sudah bisa pulang Detektif. Kondisi anda sudah membaik. Tapi aku sarankan, jangan terlalu banyak melakukan aktivitas berat terlebih dahulu”.


“Terimakasih, Dok. Aku senang sekali mendengarnya”.


“Kalau begitu aku permisi dulu, pasien yang lain telah menungguku”.


“Dokter sebentar” Langkah kaki Masao terhenti begitu aku memanggilnya.


“Ya, Detektif. Ada apa?”


“Apa anda melihat Dokter Keiko?”


“Oh Keiko. Tadi dia sempat ke sini. Tapi kemudian pergi. Aku mengikuti sampai ruang kerjanya. Kami juga sempat ngobrol sebentar. Apa dia belum menemui mu?”


“Belum, Dok. Aku juga sudah menghubunginya. Tapi ponselnya tidak aktif”.


“Hmm. Begitu ya. Padahal tadi dia datang dengan membawa lunch box di tangannya. Aku pikir itu pasti untukmu".


"Benarkah?"


"Hum. Nanti aku coba cari tahu. Kalau ada kabar, aku akan segara memberitahumu”.


“Terimakasih, Dok. Maaf merepotkan”.


“Tidak masalah. Kalau begitu aku permisi dulu”.


“Silahkan, Dok”.


Dokter Masao akhirnya pergi, menyisakan tanya dalam hatiku. Aku mencoba memahami situasi yang saat ini terjadi. Apakah ketika Keiko datang, ia melihat Rosanne yang sedang memelukku? Cemburukah Keiko melihat hal itu? Apakah Keiko tidak dapat dihubungi, ada hubungannya dengan ini?


Ingin rasanya aku berlari ke ruangannya. Memastikan wanita itu baik-baik saja.


***


Sementara itu, setelah Masao keluar ruangannya, Keiko melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Memeriksa berkas-berkas. Tak lama berselang, ponselnya nya bergetar. Tertegun melihat layar ponsel, dengan penuh tanya Keiko mengangkat panggilan itu. Setelah panggilan terputus, Keiko segera mengemas berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya kemudian memasukkan ke dalam laci. Membawa tas kerjanya dan bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.


***


Maaf kalau bab ini terasa flat..😩. Ada anu dibalik anu.. 🏃🏃🏃🏃