Looking For Murder

Looking For Murder
Do'akan Aku Sayang



Hikari baru saja memasuki mobilnya yang ada di tempat parkir perusahaan Nobou corp. Ia duduk di belakang kemudi, membuka jendela pintu mobil yang ada di dekatnya. Kemudian mengambil kotak rokok yang ada di laci dashboard mobilnya. Mengeluarkan sebatang rokok dari dalam kotak itu, kemudian menyulut rokok itu dengan cigarette lighter yang terpampang di dashboard kendaraannya. Menyandarkan tubuh dan kepalanya di jok mobil, Hikari menghisap dalam-dalam rokok yang ada di sela kedua jari tangan kanannya. Asap memasuki mulut, melewati tenggorokan dan paru-parunya, dihembuskan secara perlahan ke udara. Seketika aroma dan asap rokok memenuhi ruang dalam mobil. Hikari melakukannya hingga beberapa kali. Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Ia mengambil benda pipih yang ada di saku celananya. Hikari tersenyum lebar melihat layar ponsel yang menyala dengan foto profil seseorang yang telah mengisi relung hatinya beberapa bulan belakangan. Dengan segera ia menyentuh lingkaran hijau di layar telepon pintar itu, dan meletakkan benda itu di telinganya.


“Halo sayang”. Hikari menyambut panggilan suara kekasih hatinya.


“Sayang, kau di mana?” Suara sopran seorang wanita berada di ujung telepon.


“Aku masih di parkiran kantor sayang. Sebentar lagi mau ke Minami-Temma Park*”.


“Apa yang akan kau lakukan di sana?”.


“Si tua Bangka Benjiro, menyuruhku mencari selingkuhannya yang menghilang siang tadi di sana.”


“Astaga. Siapa yang menghilang?”


“Siapa lagi kalau bukan Clarisha”.


“Clarisha brand ambasador BeautY ? Clarisha menghilang? Ayahmu ada affair dengannya? Astaga.”


“Pertanyaanmu banyak sekali sayang. Aku harus jawab yang mana dulu”.


“Terserah kau mau jawab yang mana terlebih dahulu. Aku siap mendengarkan”. Kekasih Hikari terkekeh di ujung telepon.


“Nanti saja aku ceritakan semua padamu. Aku harus segera ke tempat terakhir pelacur itu terlihat. Memeriksa kamera pemantau yang ada di sana. Aku harus berhasil menemukan wanita itu. Hadiahnya sangat besar sayang”.


“Oww. Ada hadiahnya? Berapa juta Yen?”


“Bukan uang. Tapi kebebasan ku bersama mu.”


“Benarkah? Kau yang memintanya atau Ayahmu yang menawarkan?”


“Aku yang meminta syarat yang sulit dia tolak”.


“Dia sudah tau tentang kita?”


“Belum. Akan jadi kejutan untuk dia. Do’akan aku berhasil. Ini demi masa depan kita”.


“Lihat nanti saja. Kalau sempat, aku akan menjemputmu di rumah sakit. Apa pekerjaanmu sudah selesai hari ini?”


“Belum. Sepertinya aku akan pulang larut lagi hari ini. Sebentar lagi aku harus kembali ke lab. Dokter Keiko akan menungguku di sana”.


“Baiklah selamat bekerja. Aku tutup telepon nya. I love you”.


“Love you too”.


Panggilan suara itu pun diputus Hikari.


Hikari membuang sisa rokok yang ada di kedua jari tangannya ke tempat sampah yang tidak jauh dari tempat ia berada. Mengibaskan kedua tangannya ke udara. Mengusir sisa asap rokok yang masih berada di sekitarnya. Menutup jendela mobil, kemudian menjalankan kendaraannya menuju Minami-Temma Park.


***


Sementara itu, di sebuah rumah yang terletak jauh di pinggiran kota Osaka, seorang wanita dengan mulut yang ditutup lakban, tangan dan kaki terikat, berada di sebuah ruang gelap dan lembab. Dengan tubuh yang terasa remuk, ia berusaha untuk duduk. Wanita itu baru siuman dari pingsannya.


“Ada di mana aku?” Ia mengedipkan kedua matanya. Berusaha untuk menyesuaikan dengan gelapnya kamar. Tak lama kemudian, sesosok bayangan pria datang dari arah pintu masuk. Pria itu berjalan mendekati wanita itu. Begitu berada di depan sang wanita, ia berjongkok. Memasangkan kain penutup mata pada tawanannya.


“Aku akan membuka penutup mulutmu. Berjanjilah kau akan menurut, jika masih ingin melihat matahari esok hari”.


Dengan tubuh menggigil dan air mata yang menetes di sudut matanya, wanita itu mengangguk.


“Yoi (Bagus)”. Lelaki itu menyeringai. “Kau memang cantik sekali. Pantas saja bajingan tua itu begitu tergila-gila padamu”. Lelaki itu mengelus kedua pipi mulus wanita tawanannya. Pria itu kemudian mendekatkan wajahnya. Mengecuuup lembut kedua bibir ranum wanita itu.


“Ternyata kau memang manis”. Ia memperdalam ciuuumannya. Menjelajahi setiap jengkal rongga mulut sang wanita. Mengabsen setiap penghuni yang berjejer rapi di dalamnya. Puas di area mulut, ia pindah ke ceruk leher wanita itu, menjiiiilat dan mengecuuup setiap jengkal.


Wanita itu hanya bisa diam. Tidak bereaksi apapun. Berusaha menahan perlakuan tak senonoh pada dirinya, demi kehidupan yang selama ini ia perjuangkan.


...****************...


* Taman Minami-Temma (南天満公園, Minami-Temma-Kōen ) adalah taman kota umum yang terletak di 1 chōme Tenjimbashi di Kita-ku, Osaka , Jepang . Itu terletak di sisi utara Ōkawa ( Sungai Kyū-Yodo ) antara jembatan Temma-bashi dan jembatan Tenjim-bashi. Taman ini dibangun di bekas pasar grosir sayuran Temma-Aomono-Ichiba . Sekarang, taman ini menjadi tempat populer untuk melihat bunga sakura di musim semi di sepanjang Sungai Kyu-Yodo. Kawasan pejalan kaki bunga sakura juga merupakan jalur sepeda, yang berlanjut ke Osaka utara ( Kota Suita ).