
Siang itu, ketika Hikari sedang beristirahat di selnya, seorang sipir memanggilnya.
“Hikari Nobou.” Sipir telah berdiri di depan selnya, sambil membuka pintu sel.
“Iya, Pak.”
“Kau mendapatkan kunjungan keluarga.”
“Baik, Pak.” Dengan langkah enggan, Hikari melangkahkan kaki menuju ruang kunjungan yang terletak 1 blok² dari selnya itu.
Sipir penjara membukakan pintu ketika tiba di depan ruang kunjungan.
“Masuk. Waktumu 30 menit."
Begitu Hikari masuk, sipir segera menutup pintu dan berdiri di depan ruangan, menunggu hingga waktu kunjungan berakhir.
Hikari terpaku di tempatnya, saat mengetahui siapa yang mengunjunginya.
“Sora. Bagaimana kau bisa... ?”
“Hei. Kemarilah. Apakah kau tidak merindukanku?” Sora berdiri sambil merentangkan kedua tangannya.
Hikari pun berjalan cepat masuk ke pelukan orang yang sangat ia rindukan.
“Sayang aku sangat merindukanmu.” Bisik Hikari. “Aku ingin sekali menciummu.”
“Aku juga. Jaga sikapmu. Ada cctv di atas sana.” Bisik Sora kemudian.
“Ya aku tau.”
“Lepaskan pelukanmu, sayang.” Bisik Sora kemudian.
“Kenapa menyebalkan sekali.” Dengan terpaksa Hikari melepaskan pelukannya. Mukanya cemberut. Kelihatan sekali ia melakukan dengan tidak rela.
Mereka kemudian duduk berdampingan membelakangi kamera cctv.
“Bagaimana kabarmu? Kau terlihat sedikit berisi..”
“Benarkah?” Sora meraba kedua pipinya.
“Tidak apa. Walaupun begitu kau tetap cantik.”
“Akukan memang cantik mempesona.” Ucap Sora dengan percaya diri.
“Kau ini memang minta di ci...”
“Eit.. jangan macam-macam.” Sora memberi kode dengan kedua matanya.
“Astaga.. Sungguh menyebalkan.”
“ Oh iya. Aku membawa roti isi.” Sora membuka lunch box yang dibawanya.
“Makanlah. Ada beberapa varian rasa.” Sora menyodorkan lunch boxnya pada Hikari
Beberapa slice roti tawar tanpa pinggiran tersusun rapi di kotak makanan itu. Berisikan macam-macam filling (isian) yang manis dan asin, lalu dirapatkan bagian pinggirannya.
Ada beberapa isian seperti krim kacang yang manis dan gurih, egg mayo, tuna mayo, strawberry daifuku yang manis dan kenyal, misokatsu (daging babi yang digoreng dengan tepung panir dan diolesi saus miso) dan Sukiyaki dengan daging sapi premium yang sangat lezat.
“Bagaimana kau bisa datang ke sini?”
“Aku minta tolong dengan pengacara Teramae. Sebenarnya hari ini jadwal dia mengunjungimu. Jadi, aku datang menggantikannya." Sora berkata sambil tertawa kecil. " Oh iya, Tuan Teramae menitipkan ini padamu.“ Sora mengambil sepucuk surat dari dalam tasnya dan memberikannya pada Hikari. “Tuan Teramae mengatakan naik bandingmu dalam proses. Kita tinggal menunggu jadwal sidang selanjutnya.”
“Syukurlah kalau begitu. Aku sudah tidak sabar untuk segera pergi dari tempat ini.” Hikari mengambil surat yang disodorkan Sora padanya, kemudian ia membacanya.
“Semoga saja, permohonan bandingmu di kabulkan hakim." Sora berhenti sejenak. Ia menunggu Hikari selesai membaca surat dari Teramae. " Apa isinya?"
"Sama seperti yang telah kau katakan. Ia mengutusmu untuk menggantikannya. Aku juga diminta bersabar menunggu jadwal sidang banding. Kasasi dan mengajukan pembebasan bersyarat, langkah selanjutnya jika gagal.” Hikari mengambil 1 slice roti isi misokatsu. “Hmm. Enak sekali. Sayang cobalah .. “ Hikari menyodorkan roti bekas gigitannya pada Sora. Tanpa ragu, Sora membuka mulut dan memasukkan sisa roti bekas makan Hikari. Aroma daging babi yang digoreng dengan tepung panir dan diolesi saus miso terasa menusuk di hidung. Dengan susah payah ia berusaha menelan roti isi itu ke dalam perutnya.
“Hueek.... “ Sora menahan rasa mual yang tiba-tiba muncul. Mendesak ke luar makanan yang berusaha masuk ke lambung. Dengan cepat ia mengambil air mineral dan meneguk hingga menyisakan setengahnya.
“Aku tidak apa-apa. Tenanglah. Aku cuma sedikit masuk angin.”
“Sejak kapan kau begini?”
“Baru beberapa hari ini. “
“Apakah kau juga mudah lelah?”
“Iya. Bagaimana kau bisa tahu?” Mendengar jawaban Sora, seketika wajah Hikari berubah pias.
“Apa yang telah kau lakukan di belakangku?” Hikari menatap tajam mata Sora, menuntut kejujuran.
“Melakukan apa?”
“Kau ada bermain dengan pria di belakangku?”
“Hah... “ Sora terkejut. Peristiwa memalukan yang ia lakukan bersama Letnan Kaoru memang belum ia beritahukan pada Hikari. Selain kesempatan yang belum ada, Sora bingung bagaimana cara menyampaikan semua pada Hikari agar wanita itu tidak terluka.
“Jawab aku.”
“Kenapa kau berkesimpulan begitu?”
“Teman satu selku juga mengalami hal yang sama denganmu. Setelah dilakukan tes oleh dokter, ternyata ia sedang mengandung.“
Mendengar hal itu, Sora menundukkan wajahnya. Ia tidak berani bertentang mata dengan Hikari.
“Jawab aku sayang. Apa kau ada melakukan sesuatu di belakangku?”
Sora mereemas-reemas jemari tangannya. Hikari meyadari perubahan sikap Sora setelah mendengar penuturannya. Ia telah mengenal Sora selama dua tahun belakangan. Trauma berat yang pernah Sora alami membuat Hikari terbiasa untuk bersabar dalam menghadapi Sora. Hikari berusaha menenangkan dirinya. Menghirup sebanyak-banyaknya udara agar masuk ke dalam paru-parunya, kemudian menghembuskan sisanya melalui rongga mulutnya. Ia harus bersiap atas semua kemungkinan jawaban yang akan di sampaikan oleh kekasihnya itu.
“Aku tahu dugaanku ini mungkin belum pasti benar. Kita butuh dokter untuk meyakinkan semua. Tapi aku ingin mendengar jawabanmu atas pertanyaanku tadi.”
Dengan masih menundukkan wajahnya, Sora menuturkan peristiwa yang telah terjadi antara dirinya dengan Letnan Kaoru. “Sebenarnya ketika di sekap Billy waktu itu, aku dicekoki obat peraangsang dosis tinggi oleh Billy. Ia ingin menyiksaku dan melecehkanku dengan mainan buatannya. Untung polisi segera datang dan mencegah kejadian itu. Aku yang terlanjur menelan obat itu, memaksa Letnan Kaoru untuk melampiaskan haasrat yang bergejolak. “
“Kenapa peristiwa penting ini tidak kau ceritakan padaku?”
“Situasi kita belum memungkinkan aku untuk menceritakan padamu. Kita disibukkan dengan kasus yang harus kita hadapi. Proses penyidikan dan penyelidikan, olah TKP, dan sidang yang begitu menguras energi kita.”
“Tapi kenapa hal itu tidak muncul di persidangan?”
“Aku tidak tahu, sayang. Barangkali karena hal itu terjadi setelah para tersangka digiring polisi.”
Hikari terdiam. Berbagai rasa bergolak di dadanya.
“Sayang. Maafkan aku. Aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan padamu. Aku takut melukai hatimu.”
“Dengan begini kau telah melukai hatiku.”
“Sayang..” Sora meraih jemari tangan Hikari. Maksud hati ingin mengecupnya, namun sipir penjara sudah membuka pintu ruangan itu. Dengan cepat Sora mengurungkan niatnya.
“Waktu sudah habis. Anda harus segera pergi dari sini, Nona.”
Hikari segera berdiri, begitu sipir datang menjemputnya. “Baik, Pak.”
“Bawalah ini. Makanlah bersama teman se selmu.” Sora menyodorkan lunch box yang masih tersisa beberapa potong roti isi.
Hikari menerima pemberian Sora. Ia pun segera meninggalkan tempat itu.
“Nona Hikari.” Hikari menghentikan langkahnya, begitu Sora memanggilnya.
“Aku akan datang lagi, nanti.”
Tidak menjawab perkataan Sora. Hikari segera berlalu meninggalkan Sora dengan persoalan yang belum selesai di antara mereka.
...****************...
² Satu blok berjarak sekitar 500 sampai 1.000 meter.