Looking For Murder

Looking For Murder
Aku Akan Datang Lagi, Hide.



2 hari sudah Keiko menginap di panti asuhan. Selama di sana, Ia menempati ruang tidur milik okaa-san Umeko. Berada kamar itu, Keiko merasa seakan-akan ibu asuhnya itu masih berada di tengah-tengah mereka. Banyak kenangan yang ditinggalkan mendiang di sana. Selain barang pribadi miliknya, ada juga foto-foto kebersamaan mereka dengan penghuni panti yang lain. Semuanya tersimpan rapi di dalam beberapa buah album foto. Wangi tubuh Umeko pun masih melekat di tempat tidur dan bantalnya. Kerinduan Keiko pada wanita baik hati itu sedikit terobati ketika berada di sana.


Selama 2 hari pula, Keiko tidak menghiraukan ponselnya. Pagi itu setelah mandi dan berpakaian, Keiko teringat akan benda itu. Dia mengambil telepon pintarnya dari dalam tas kerja. Keiko mendapati benda pipih itu berada dalam keadaan tidak menyala.


“Kehabisan daya”. Gumamnya.


Ia mengambil charger ponsel yang berada di laci lain tas kerjanya. Kemudian memasukkan steker charger ke soket.


Tak lama kemudian Keiko menyalakan ponsel itu sambil tetap mengisi daya. Begitu menyala, ratusan notif pesan dan panggilan masuk bersamaan.


“Astaga. Banyak sekali panggilan dan pesan masuk”. Ada ratusan panggilan dan pesan masuk dari Takagi. Ia memilih mengabaikan sementara pesan-pesan itu. Keiko menscrooll layar ponselnya, ada panggilan dan pesan masuk dari rekan sejawatnya, Izumi Nakamura. “Izumi ? Mengapa dia memintaku untuk menghubunginya?”. Tanpa pikir panjang, Keiko melakukan panggilan suara pada rekan sejawatnya itu.


Tut Tut Tut. Tak perlu menunggu lama, panggilannya tersambung.


“Keiko? Thanks God. Akhirnya kau menghubungiku”.


“Halo Izumi?”


“Ya Keiko”.


“Ponsel ku kehabisan daya, Izumi. Kau memintaku segera menghubungimu, ada apa?”


“Aku membutuhkan mu untuk menggantikan tugas ku di lab rumah sakit. Ada kasus korban kekerasan dengan penganiayaan di Takayama. Aku diminta segera berangkat ke sana".


“Tapi aku sudah ambil cuti 3 hari Zumi. Masih ada 1 hari lagi”.


“Ayo lah Keiko. Tak bisakah kau mempercepat cuti mu? Aku tidak bisa meninggalkan rumah sakit, kalau kau tidak bisa menggantikan ku. Ada permintaan baru dari pihak kepolisian untuk menguji DNA seorang saksi yang baru saja mereka temukan. Dan itu harus segera di kerjakan.”


Izumi adalah rekan kerja sekaligus senior Keiko sesama dokter forensik. Waktu pertama kali Keiko memulai karirnya, Izumi banyak membantu Keiko untuk menjalankan tugasnya*. Hingga Izumi yakin melepas Keiko sendiri untuk melakukan otopsi. Sedangkan Izumi menfokuskan dirinya di laboratorium. Istilahnya mereka berbagi tugas. Belakangan begitu Sora masuk sebagai dokter forensik, ia kemudian ditugaskan untuk membantu Keiko.


“Baiklah, Izumi. Beri waktu 1 jam. Aku harus bersiap-siap terlebih dahulu”.


“Ok. Aku juga harus bersiap-siap. Sebentar lagi mobil yang akan mengantarkan ku ke Takayama akan datang menjemput”.


“Baiklah. Oh iya. Sebentar Izumi".


"Iya Keiko".


"Bagaimana dengan DNA milik mendiang Adriana. Apakah hasilnya sudah ada?"


"Sudah Keiko. Hasilnya sudah aku kirimkan ke kepolisian. Salinannya ada di lemari lab. Kau bisa menemukannya di sana".


"Baiklah Zumi".


"Sudah? Tidak ada lagi yang perlu kau tanyakan padaku?"


"Aku pikir cukup".


“Baiklah. Aku tutup teleponnya. Selamat bertugas Keiko”.


“Terima kasih, Zumi. Kau juga ya”.


Tok tok tok. “Nona. Apakah kau sudah bangun?”


“Aku sudah bangun Hide. Masuk saja. Pintunya tidak di kunci” Ucap Keiko.


Tak lama kemudian, Pintu kamar itu pun terbuka. Hide yang datang dengan senyum di wajahnya, mendadak berubah setelah melihat apa yang sedang dilakukan Keiko.


“Nona mau kemana?”


“Aku harus pergi, Hide. Aku baru saja mendapat telepon dari rumah sakit. Mereka memintaku kembali bekerja hari ini.”


“Sebelum pergi, sebaiknya kau sarapan dulu, Nona. Kami sudah menyiapkan sup miso dengan ikan bakar untuk sarapan kita, pagi ini”.


“Hmmm. Enak sekali, Hide”. Keiko menelan air liurnya. “Tetapi sayang, aku harus buru-buru kalau tidak mau terlambat masuk kerja”. Kata Keiko sambil terus berkemas-kemas.


“Kenapa mendadak sekali. Bukankah Nona sudah mengambil cuti selama 3 hari ? Nona baru dua hari menjalani cuti”.


“Ada kasus penganiayaan dengan kekerasan di Takayama, Hide. Mereka butuh bantuan dokter forensik untuk melakukan visum. Rekanku di minta membantu di sana, sedangkan masih ada tugas yang harus segera dikerjakan di rumah sakit. Aku harus menggantikan tugas rekanku itu”.


“Sayang sekali, kau tidak lama menginap di sini”. Ucap Hide dengan nada rendah. Ada guratan kecewa dari wajahnya.


“Aku akan datang lagi, begitu ada waktu luang, Hide. Mau bagaimana lagi. Aku harus menjalankan kewajiban ku ”.


“Baiklah Nona, aku mengerti kesibukanmu. Kami akan menunggu kunjungan mu berikutnya. Berhati-hatilah di jalan”.


“Terimakasih, Hide”.


Di iringi lambaian tangan dari Hide dan penghuni panti yang lain, Keiko meninggalkan panti asuhan tempat ia dibesarkan itu.


...****************...


* Menurut tugasnya, ilmu forensik terbagi menjadi dua jenis umum, yaitu patologi forensik dan forensik klinik.


• Patologi forensik akan berfokus pada pemeriksaan jenazah dengan kematian tak wajar. Dokter patologi forensik akan mendiagnosis korban dengan menyelidiki sampel bukti berdasarkan morfologi organ seperti:


√ DNA darah.


√ Pemeriksaan bukti jejak (rambut dan serat, cat dan polimer, kaca, tanah, dll.).


√ Pemeriksaan sidik jari.


√ Pemeriksaan senjata api dan peralatan.


√ Analisis tulisan tangan.


• Sedangkan, diagnosis forensik klinik dilakukan pada orang yang masih hidup. Selain mempertimbangkan morfologi fisik, klinik forensik juga mempertimbangkan informasi fisiologis dan riwayat penyakit. Berbeda dengan patologi forensik, forensik klinik menangani pasien dengan kasus seperti pemerkosaan, penganiayaan, kehilangan organ, dan kekerasan pada anak.


Sekian sekilas info.. 🏃🏃🏃🏃🏃