Looking For Murder

Looking For Murder
Nobou Family 3



Dua hari kemudian..


Klotak klotak klotak..


Sepatu middle heels, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda dan cantik memecah keheningan koridor rumah sakit. Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, Yana mendatangi rumah sakit Universitas Osaka. Sekretarisnya Amaya mengikuti di belakang sambil membawa bingkisan.


Menurut informasi yang diperolehnya, kamar rawat Benjiro dan Hikari beda lantai. Benjiro di lantai 2 dan Hikari berada di lantai 3.


“Kenapa tidak disatukan saja. Benar-benar menyusahkan.” Gerutu Yana.


“Barangkali karena beda penanganan Nyonya. Nona Hikari berada di lantai tiga karena dekat dengan ruang bedah.“


“Alah. Itu Cuma alasan.”


Amaya hanya bisa menghembuskan nafas kasar mendengar keluhan Yana.


“Kita ke lantai 3 terlebih dahulu. “ Perintah Yana. Mereka menaiki lift dan berhenti di lantai 3. Kemudian menyusuri deretan kamar rawat pasien di lantai 3, langkah mereka terhenti di depan pintu kamar rawat inap bernomor 321. Dari kaca pintu, Yana dapat melihat aktifitas penghuni kamar.


Ceklek..


“Malam sayang.” Yana masuk ke kamar Hikari dengan langkah lebar. Begitu berada dekat dengan putrinya itu, ia merentangkan tangan dan memeluk erat Hikari.


Hikari yang sedang bercengkrama dengan Sora, sedikit terkejut dengan kedatangan sang Ibu. Jari jemari mereka yang sedang bertaut, seketika terlepas. Sora berdiri dari duduknya begitu Yana mendekat dan memeluk erat tubuh Hikari.


“ Ibu, kenapa baru datang? “ Hikari mengurai pelukan mereka.


“Aku sudah berusaha secepatnya, sayang. Begitu pesawat mendarat, aku langsung ke sini. Bagaimana keadaanmu?”


“Sudah lebih baik, Bu. Ibu datang dengan siapa?”


“Dengan Amaya.”


“Hai.” Amaya mendekat sambil meletakkan keranjang buah di atas nakas.


“Ibuku menyusahkan mu?”


“Tentu tidak, Nona. Nona bagaimana kabarnya?"


"Kabarku baik. Sangat baik. Oh iya, Bu. Kenalkan ini Sora teman dekat ku.”


“Halo, Nyonya. Aku Fumiko Sora.” Sora membungkukkan tubuhnya.


“Halo. Aku Yana Ibunya Hikari." Yana ikut membungkukkan sedikit tubuhnya.


“Kau seorang Dokter ?” Memandang Sora dari atas kepala hingga ujung kaki.


“Begitulah, Nyonya. “ Jawab Sora merendah.


"Kalau boleh tau, dokter spesialis apa?"


"Dokter forensik, Nyonya."


"Wow. Sungguh unik pilihan pekerjaanmu."


Sora membalas ucapan Yana dengan senyuman.


"Sudah lama bekerja jadi dokter forensik?"


"Baru 3 tahun, Nyonya."


“Dengan putriku, sudah lama kenal?”


“Baru beberapa bulan, Nyonya."


“Putriku bagaimana? Apakah dia memperlakukan mu dengan baik?”


Sora melirik ke arah Hikari.


“Kenapa? Apakah dia pernah menyakiti mu?”


“Ibu. Pertanyaan mu seperti sedang menginterogasi calon menantu saja.” Protes Hikari.


"Bukan interogasi, cuma ingin tahu saja. Apakah pertanyaanku mengganggumu, Sora?"


"Tidak Nyonya." Sora terlihat kikuk.


“Jadi bagaimana, Bu?”


"Apanya yang bagaimana?"


Yana terdiam mendengar pertanyaan Hikari. Berusaha mencerna tiap kata yang keluar dari mulut putrinya. Ia memandang Hikari dan Sora bergantian.


"Kalian?... Astaga". Yana menarik kursi yang ada di dekatnya dan meletakkan bokongnya di sana. Ia memijat pelipisnya untuk meredakan kepalanya yang mendadak pusing.


"Ibu, kau tidak apa-apa?"


"Nyonya, minum dulu." Amaya menyodorkan botol air mineral yang diambil dari dalam tas nya. Yana mengambil botol itu dan meneguknya.


"Sejak kapan kau seperti itu?"


"Sudah lama Ibu."


Yana diam. Hikari pun diam. Tidak ada kata yang terucap dari mulut mereka berdua. Orientasi seksuaal putrinya yang berbeda, sebenarnya sudah ia duga jauh-jauh hari sebelumnya. Penampilan Hikari yang lebih terlihat maskulin dari wanita pada umumnya, menjadi indikasi kuat dugaan Yana. Namun Yana tidak menyangka dugaannya itu ternyata benar. Sora terlihat kikuk, tidak tau harus berbuat apa. Amaya berdiri mematung tak jauh dari majikannya.


"Kenapa?" Yana memecah kesunyian di antara mereka.


"Apakah harus ada jawabannya, kenapa aku begini, Bu ?"


Yana menghembuskan nafas berat.


“Terserah kau saja. Kau yang akan menjalani hidupmu. Kalau itu keinginanmu, aku bisa apa.”


"Ibu maafkan aku, jika telah mengecewakanmu".


"Yang terpenting bagiku adalah kebahagian mu." Yana berusaha berlapang dada dengan keputusan putrinya.


“Ibu memang yang terbaik.” Hikari merentangkan tangannya kembali, meminta sang ibu memeluknya.


Amaya yang menyaksikan peristiwa itu, hanya bisa mengurut dada ." Sungguh keluarga yang rumit. Kejutan apa lagi yang akan aku saksikan ketika bertemu Tuan Benjiro "


“Teramae mengurus mu dengan baik?” Tanya Yana begitu pelukannya terurai.


“Tentu saja, Bu. Aku tinggal menunggu kabar darinya.”


“Baguslah kalau begitu." Yana kemudian melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya "Hikari, aku tidak bisa berlama-lama. Hari sudah malam. Lagi pula aku belum menjenguk Ayahmu. Besok kita bertemu lagi. Ok.”


“Baiklah, Bu."


"Sora, aku titip Hikari ya."


"Baik Nyonya".


Yana meninggalkan ruang rawat inap Hikari, meninggalkan dua sejoli yang terlihat sangat bahagia. Ia melanjutkan kunjungannya ke kamar rawat suaminya. Masuk ke dalam lift dan turun satu lantai di bawahnya. 2 kamar dari lift, Yana berhenti di depan pintu rawat inap bernomor 222.


“Kamar ini?” Tanya Yana pada Amaya.


“Benar Nyonya”.


Tanpa ragu Yana membuka pintu kamar itu.


“Bukannya ini kamar suami ku, Benjiro Nobou. Kenapa ada wanita murahan di sini!!” Yana berkata lantang sambil bersidekap. Ia berjalan mendekat ke arah dua sejoli yang terlihat sangat akrab. Benjiro yang sedang menyuapkan makanan ke mulut Clarisha, terpaku begitu melihat kedatangan Yana. Sendok berisi nasi menggantung di udara, ia letakkan kembali ke atas piring.


“Ini bukan jam berkunjung.” Kata Benjiro dingin.


“Aku baru saja tiba dari Dubai. Lagi pula aku sudah mendapat izin dari pihak kepolisian." Matanya melirik sinis ke arah Clarisha yang salah tingkah. “ Kau sepertinya tidak menyukai kedatanganku.”


“Ini jam istirahat. Seharusnya polisi tidak mengizinkan kau datang.”


“Aku bahkan bersyukur bisa melihat kelakuanmu di belakang ku dengan mata kepala ku sendiri”. Yana memandang kembali Clarisha yang menundukkan kepala sambil memainkan jari jemari nya.


“Hei pelaacur. Tidak cukupkah aku angkat derajat kehidupan mu dari lumpur hina. Apakah lelaki tua bangka ini, menarik perhatianmu? Kau tau. Setelah bosan, kau akan dicampakkan seperti sampah.”


“Tutup mulutmu !!” Hardik Benjiro


“Wah wah wah. Hebat. Kau memakiku di depan pelaacurmu ini” Yana bertepuk tangan berkali-kali.


“Kau pilih aku atau pelacur itu !!”


“Kau datang-datang membuat ku sakit kepala !!” Benjiro meletakkan piring yang ada di tangannya ke atas meja makan pasien (overbed table).


“Aku lelah dengan semua ulahmu. Selama bertahun-tahun aku mencoba untuk bertahan. Tapi aku tidak sanggup lagi. Pilih aku atau dia !!”


“Aku tidak akan memilih. Kau istriku. Dia kekasihku !!”


“Baik. Kalau begitu kita bertemu di pengadilan. “ Yana melangkah meninggalkan Benjiro dan Clarisha.


🧑‍⚖️🧑‍⚖️🧑‍⚖️