
Yana baru saja tiba di kantornya beberapa menit yang lalu, tiba-tiba Benjiro masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia langsung duduk di kursi yang ada di depan meja Yana.
“Kau ini, kebiasaan. Kalau masuk itu, ketuk pintu lebih dahulu.” Tanpa menghentikan kegiatannya melihat berkas-berkas yang baru saja diserahkan sekretarisnya.
“Kenapa aku harus mengetuk pintu di kantor istri ku sendiri?” Jawab Benjiro tak peduli.
“Apa maumu?” Yana menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil bersidekap.
“Tidurmu tadi malam nyenyak?”
“Bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak, kalau suamiku tidur dengan memeluk wanita lain.”
“Yana tolonglah. Aku tidak ingin bertengkar dengan mu. Semalam kita kan sudah membahasnya. Ada hal yang lebih penting yang ingin aku bicarakan dengan mu.”
“Baiklah." Yana menghembuskan nafas kasar. "Terserah kau saja. Apa yang ingin kau bicarakan.”
“Masalah Yusa.”
“Ada apa dengan Yusa?”
“Orang yang telah menculik Clarisha itu mirip dengan Yusa. Suaranya juga sama persis dengan Yusa.“
“Itu memang Yusa.”
“Bagaimana kau bisa tau?” Benjiro terkejut mendengar perkataan Yana
“Tidak penting aku tau dari mana. Semua yang terjadi pada Yusa adalah murni kesalahan mu.”
“Maksudmu apa? Kenapa kau melimpah semua kesalahan padaku ?”
“Apa yang telah kau lakukan pada Yusa waktu kecil. Kau yang telah membuat dia seperti itu. Yusa berbuat itu karena ambisimu yang terlalu besar !!”
“Maksudmu apa !!”
“Yusa sakit Nobou-san. Yusa sakit. Itu semua di sebabkan oleh kau!! “
“Kau menyalahkan semua padaku. Apa kau tidak bercermin pada dirimu sendiri? Kemana saja kau selama ini? Aku yang membesarkan anak-anak dengan tanganku. Ibu seperti apa kau!!”
Sungguh ironi. Mereka berdua saling memaki. Saling menyalahkan. Apa yang terjadi pada anak-anak mereka tidak lepas dari kontribusi mereka berdua sebagai orang tua. Beberapa menit kemudian, Yana mengambil buku catatan bersampul menara Tokyo dari dalam tasnya. Ia melemparkannya tepat di hadapan Benjiro.
“Apa ini ?”
“Itu buku yang di tulis oleh Yusa dalam versi lain. Dia menceritakan semua yang Yusa alami dari kecil. Penderitaan yang Yusa rasakan akibat kau menyiksanya sedemikian rupa.” Kemudian Yana mengambil berkas dari bagian lain tasnya.
“Ini hasil diagnosa dokter yang menangani Yusa.“ Melemparnya juga di hadapan Benjiro.
Benjiro mengambil dan membaca lembaran hasil diagnosa dokter Tamaki Saito. Tak lama kemudian pria itu meletakkan kembali di atas meja. “Bagaimana kau mempercayai apa yang tertulis di sana? Nama dokter itu saja aku tidak mengenalnya.”
“Awalnya aku ragu. Setelah Dokter memperlihatkan rekaman suara dan video saat Yusa melakukan terapi, aku baru percaya."
Benjiro menghela nafas dan menghembuskannya kasar.
“Menurutku polisi mencurigai Yusa sebagai pelakunya. Aku memperkirakan tidak lama lagi surat penangkapan akan tiba di rumah kita. Kita harus melakukan sesuatu.”
“Aku sudah mengutus orang untuk menemukan Yusa. Kita harus menyelamatkan Yusa. Menebus semua kesalahan yang telah kita lakukan. Aku tidak mau kalau polisi sampai menahan Yusa."
“ Akhirnya kau mengakui semua kesalahan mu juga."
“Ciih...” Baru saja Yana ingin menjawab perkataan Benjiro, ponsel di saku jas pria itu berbunyi.
Tut.. Tut.. Tut...
Benjiro mengangkat panggilan itu dan menloudspeaker ponselnya.
“Ya. Kawasaki.“
“ Tuan. Ada detektif Takagi bersama teman-temanya. Mereka membawa surat perintah penahanan untuk Tuan Muda Yusa."
Benjiro dan Yana saling menatap.
“Katakan aku tidak di rumah."
“Aku sudah mengatakan begitu, Tuan. Mereka berniat menggeledah rumah untuk mencari keberadaan Tuan muda.”
“Sudah kau katakan kalau Yusa sudah lama tidak pulang ke rumah?”
“Sudah Tuan. Tapi mereka memaksa. Tuan muda di tetapkan sebagai tersangka 3 kasus pembunuhan."
“Apa? Pembunuhan?” Yana dan Benjiro kompak terkejut. Tentu saja mereka terkejut. Hal itu tidak ada di dalam buku catatan yang dituliskan oleh Ren.
“Tahan mereka. Aku akan segera pulang.” Benjiro segera menutup panggilan itu.
“Baik Tuan.”
Mendengar berita itu Yana dan Benjiro terlihat cemas.
“Aku pulang.” Benjiro segera bangkit dari kursinya.
“Aku ikut.” Yana mengemasi barang-barangnya kemudian ia mengikuti suaminya pulang ke rumah mereka.
“Hubungi Teramae..” Perintah Benjiro.
"Tenanglah. Tidak ada hal buruk yang akan menimpa putra kita." Benjiro menggenggam tangan Yana, memberikan kekuatan. Yana memandang jemari Benjiro yang menggenggam tangannya. Mengusap-usap dengan lembut, sambil tersenyum hangat. Sudah lama sekali Benjiro tidak memperlakukannya dengan manis seperti itu.
Ah. Seandainya hal itu bisa setiap hari ia rasakan, pasti akan sangat membahagiakan.
20 menit kemudian mereka tiba di rumah. Di susul oleh Teramae yang datang dengan tergesa-gesa. Begitu memasuki rumah, mereka sudah di tunggu oleh Takagi beserta rekan-rekannya yang lain.
“Selamat siang Tuan Nobou.”
“Siang, Detektif.”
“Langsung saja, maksud kedatangan kami ke sini ingin menjemput putra anda yang bernama Kiyoharu Yusa alias Sota Fukushi atas tuduhan pembunuhan Nona Cho katou, Nona Gina Ayumi, dan Nona Adriana. Tuduhan penculikan dan pemerkosaan terhadap Nona Clarisha. Penyekapan dan penganiayaan dengan kekerasan terhadap Tuan Benjiro Nobou dan Nona Hikari Nobou.”
“Sebentar Tuan. Mana surat perintahnya.” Teramae menginterupsi pembicaraan Takagi.
“Ini surat perintahnya.” Takagi memperlihatkan surat perintah penahanan atas nama Kiyoharu Yusa yang ditandatangani oleh komandan Hajime.
“Apakah kalian memiliki bukti atas tuduhan kalian terhadap Tuan Muda kami.”
“Salinan berkas hasil uji DNA akan kami perlihatkan di kantor. Kalau anda menghalang-halangi tugas kami, anda akan kamu tuntut atas tuduhan Obstruction of Justice (tindak pidana bagi pelaku yang berupaya untuk menghalang-halangi suatu proses hukum ).”
“Baik. Kami tidak akan menghalang-halangi tugas kepolisian. Tapi perlu anda semua ketahui, bahwa anak kami Yusa sudah lama tidak menginjakkan kaki ke rumah ini. Dan saat ini kami tidak tahu di mana keberadaannya.” Ucap Benjiro.
“Untuk memastikannya, izinkan kami memeriksa rumah Tuan. Kami juga akan mencari bukti tambahan untuk lebih menguatkan dugaan kami.”
Benjiro memandang pengacaranya meminta pendapat. Pengacara Teramae hanya bisa mengangguk pasrah.
“Saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan, Tuan. Selain mengikuti proses yang akan dilakukan oleh polisi. Tetapi kita tetap mengawasi semua yang polisi lakukan.”
“Ya sudah kalau begitu. Silahkan lakukan tugas anda, Detektif.” Benjiro memberi jalan kepada Takagi dan rekan-rekannya untuk melaksanakan tugas mereka.
“Anda boleh melihat, tetapi tidak boleh mengganggu tugas kami. Jaga jarak anda, jangan sampai terlalu dekat.”
“Baik. Detektif.” Beberapa polisi yang ada mulai melakukan tugas mereka. Menggeledah tiap sudut ruangan dengan teliti. Benda sekecil apapun tidak luput dari pengamatan mereka. Sebagian yang lain berjaga-jaga di sekitar rumah.
Yana menarik Benjiro ke sudut ruangan.
"Ada apa?"
"Apa perlu kita beritahu ke polisi perihal penyakit yang diderita Yusa. kalau Yusa terbukti bersalah dia biasa dilepaskan atas semua tuduhan karena penyakit kejiwaan yang diidapnya."
"Kita tunggu saja dahulu. Nanti kalau mereka menangkap dan menahan Yusa, kita gunakan itu untuk membebaskannya."
"Kita beritahu pengacara Teramae tentang hal ini?"
"Nanti saja. Kita tunggu perkembangan selanjutnya. Hal seperti ini kita tidak bisa bertindak gegabah. Bagaimanapun juga ada nama baik keluarga kita yang menjadi taruhannya."
"Nama baik saja yang kau pikirkan. Kelakuanmu bersama banyak wanita selama ini apa tidak termasuk dalam pertimbangan mu?"
"Yana please... " Benjiro memandang Yana dengan tatapan memohon. Bertengkar di hadapan para penegak hukum bukan suatu prestasi yang patut dibanggakan. Benjiro melangkah menjauh dari sang istri. Mendudukkan tubuhnya di sofa serileks mungkin, dengan menopangkan kepalanya di sandaran kursi.
"Tuan, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Teramae duduk di samping Benjiro.
"Aku tidak tahu." Jawab Benjiro enggan. "Kau bantu urus semua. Cari tahu ada apa dengan semua ini."
"Baik, Tuan." Teramae meninggalkan Benjiro di sofanya. Kemudian ia terlihat mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
🔍🔍🔍
Detektif Takagi beserta rekan-rekannya menggeledah seluruh rumah Benjiro, selama 2 jam lebih. Tetapi mereka tidak menemukan keberadaan Yusa di sana dan tambahan bukti apapun.
Dari hasil penelusuran tim penyidik, mereka menemukan apartemen tempat Yusa tinggal. Polisi pun melakukan penggeledahan di sana. Mereka menemukan beberapa pakaian yang diduga digunakan saat melakukan aksinya. Mereka membawa benda itu dan memasukkannya dalam kantong plastik.
Saat rapat dengan para penyidik, mereka menggelar semua bukti yang sudah mereka kumpulkan. Dari hasil olah tempat kejadian perkara, mereka menemukan goresan di pagar belakang rumah yang mirip dengan warna cat mobil yang tertangkap kamera pengawas sebagai pelaku 3 pembunuhan wanita beberapa waktu lalu.”
“Detektif ada telepon dari penjaga hutan Aokigahara, ada mobil mirip dengan yang digunakan tersangka Yusa.“ Ucap Kaoru.
“Kalau begitu beberapa dari kita menuju ke sana untuk memastikan.”
Takagi dan Kaoru beserta beberapa anggota team penyidik, segera menuju Aokigahara. Mereka juga membawa serta dokter Keiko untuk membantu proses identifikasi forensik.
Begitu tiba di lokasi, mereka melaksanakan tugasnya, memeriksa mobil yang terparkir di depan toko dan kedai minum di depan hutan Aokigahara. Sekeliling mobil di pasangi garis polisi. Dengan menggunakan sarung tangan, team penyidik memeriksa isi dalam mobil. Di dalam mobil mereka menemukan gulungan tali plastik berwarna kuning di dalam dashboard mobil. Sejumlah obat perangsang jenis Sildenafil. Diduga obat perangsang ini yang digunakan pelaku pada korban Adriana. Polisi juga menemukan bercak darah yang tertinggal di jok mobil bagian tengah. Bercak yang sudah di bersihkan itu, masih bisa terlihat oleh polisi dengan menggunakan alternative light source (ALS) *.
Sementara itu, menurut penjaga toko di depan hutan Aokigahara, pemilik mobil itu sudah beberapa hari yang lalu masuk ke dalam hutan. Dan sampai saat itu, dia belum mengambil mobilnya.
Polisi bersama penjaga hutan menyusuri hutan Aokigahara mencari keberadaan Yusa. Selama berhari-hari mereka menyusuri hutan dengan luas 35 km itu. Satu minggu telah berlalu, akhirnya pencarian dihentikan.
2 bulan berlalu sejak pencarian Itu. Yusa tidak pernah terlihat keluar dari hutan Aokigahara.
🧫🧫🧫
* Penggunaan teknik ALS dapat membantu identifikasi maupun proses olah TKP menjadi lebih spesifik. Jenis ALS yang biasa digunakan oleh ahli forensik salah satunya adalah sinar ultraviolet. Bukti biologis seperti darah dapat dideteksi oleh sumber cahaya karena karakteristik alami, seperti penyerapan cahaya. Darah menunjukkan penyerapan yang tinggi di wilayah panjang gelombang cahaya yang luas (biasanya diukur dalam nanometer atau nm). Di bawah sinar UV, bercak darah akan tampak kontras dengan latar belakang permukaan. Dalam hal ini, bercak darah akan tampak terang di permukaan yang gelap, di mana bercak itu tidak akan terlihat oleh mata telanjang.
Pengumuman
Hai hai semua .. Selamat pagi untuk semua reader ku di mana saja berada. Semoga kalian selalu sehat dan bahagia. Di sini aku mau cerita sedikit, boleh ya...
Aku ini adalah author dadakan yang lahir dari proses karbitan.. 🤭. Awal nulis LFM ini adalah menjawab keinginan team agar BASE memiliki karya sendiri untuk eksistensi. Jadilah karya ini yang terlintas di kepalaku yang berusaha aku tuangkan. Sebenarnya ini adalah bab akhir dari LFM. Memang konsepnya aku bikin begini. Cuma ada masukan dari team and beberapa reader untuk lanjut terus. Lah aku kudu piye...😩. Tinggalkan jejak and komentar kalian, aku lanjut apa gak. Kalau lanjut ayuuk.. ( harus kerja keras lagi. 🥴) kalau tidak, aku tinggal pajang lebel end di cover.. 🤭. Yuuk bantu aku...