
4 hari sudah Sora berada di penthouse milik Hikari. Selama itu juga Sora tidak ada makan apapun. Sebelum pergi bekerja, Hikari menyiapkan makanan di atas meja makan. Namun ketika malam hari ia pulang, makanan yang ia letakkan di atas meja, masih utuh di tempatnya. Sora hanya mengisi perutnya dengan air minum.
Tidur pun Sora tidak bisa. Ia kerap memimpikan kejadian itu setiap kali matanya terpejam. Sora memilih membaringkan tubuhnya di atas sofa. Kejadian pelecehan yang menimpanya, membuat Sora trauma pada tempat tidur.
“Nona, kau tidak bisa terus begini. Selama 4 hari kau hanya minum. Tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutmu. Apapun trauma yang kamu alami, dan apapun caramu menghadapinya, ingatlah untuk terus melangkah maju. Jangan kau menyakiti dirimu sendiri.” Ucap Hikari begitu pulang kerja.
Hikari mendekati Sora yang sedang duduk di lantai sambil memeluk kedua kakinya. Dagunya bertumpu pada kedua lututnya, menatap Hikari dengan tatapan kosong. Lingkar hitam di seputar matanya memperlihatkan betapa beberapa hari ini ia tidak tidur dengan benar. Entah mengapa hati hikari terasa sakit melihat Sora dalam keadaan begitu. Ia tidak tahu perasaan apa yang dirasakannya. Apakan perasaan kasian atau rasa entah apa namanya. Hikari mensejajarkan posisinya dengan Sora. Ia mengulurkan tangannya pada Sora.
“Nona. Jangan kau tanggung semuanya sendiri. Aku bersedia meminjamkan bahuku untuk menanggung bebanmu. Maukah kau berbagi denganku?”
Sora melihat ketulusan di mata Hikari. Sejurus kemudian, kata-kata keluar begitu saja dari mulutnya. Kepingan demi kepingan kisah memilukan diuntai Sora dengan derai air mata. Jemari Sora menjulur menyambut tangan Hikari yang sedari tadi menggantung.
“Nona, keadaan anda sungguh berantakan. Setidaknya makanlah sedikit. Kalau tidak kau bertambah lemah.”
“Lelaki brengsek itu mengatakan aku sama seperti adikku. Saat itu aku merasa telah dijual oleh ibuku sendiri. Sungguh menggelikan." Sora tertawa sumbang. "Dan tadi kau mengatakan apa? Makan? Bagaimana aku bisa makan dengan mulutku yang kotor ini ?"
“Maksud Nona apa?”
“Sebelum melecehkan ku, lelaki brengsek itu menciuuumi ku gila-gilaan. Air liurnya ada di seluruh wajah dan mulut ku. Berhari-hari aku mati-matian menahan diri untuk tidak merobek mulutku sendiri. Membayangkan air liurnya masih ada dalam lambungku, membuatku mual dan ingin muntah. Apa menurut mu, bagian dalam dan luar tubuhku sudah bersih dari air liur pria sampah itu ? Aku lelah dengan semua ini. Aku ingin kembali bekerja. Tapi aku tidak bisa.”
“Kau harus makan. Dan melanjutkan kehidupan mu. Seperti katamu, kau ingin bekerja kembali. Bagaimana kau bisa bekerja, kalau kondisi mu begini. Kau ingin aku bawakan makanan apa?”
“ Tidak perlu. Aku lapar tapi aku merasa jijik jika harus menelan sesuatu. Minum air pun aku lakukan supaya sisa air liur pria sialan itu cepat keluar dari tubuhku.” Hikari tampak berfikir sejenak.
“Kalau begitu izinkan aku membantu mu. Aku tidak tahu apakah ini benar atau salah."
“Apa yang akan kau lakukan.”
“Kita tidak tahu kalau kita belum mencobanya.”
“Apa maksudmu?"
"Kalau kau tidak siap dan masih merasa jijik, kau bisa dorong aku atau menampar ku. Apapun boleh kau lakukan. Aku tidak akan memaksamu. Tapi kalau tidak, aku anggap kau setuju dengan tindakanku.”
Hikari mendekatkan wajahnya. Menyentuh dagu Sora dengan ibu jarinya. Jari jemarinya mengusap pipi Sora dengan lembut. Wajah Hikari hanya beberapa senti dari wajahnya. Mata Hikari memejam. Hembusan nafas teratur Hikari dapat Sora rasakan menerpa wajahnya. Kelopak mata Sora membesar. Merasakan lembutnya biiibir Hikari menyentuh biiibirnya.
“Gila. Aku pasti sudah gila.” Gumam Sora.
Kecupan demi kecupan yang dilakukan Hikari tanpa ada perlawanan dari Sora.
Hikari melepaskan ciuumannya, begitu nafasnya terengah-engah. Mata mereka saling bertaut.
"Maafkan aku, Nona. Ini kali pertama aku melakukannya. Rasanya aneh bukan?" Hikari mencoba tertawa. Tatapan mata Sora tidak lepas dari sosok wanita yang ada di hadapannya.
"Kita harus mengujinya. Aku ke dapur dulu." Hikari bergegas pergi menuju dapur. Ia segera mencuci mukanya di wastafel. "Astaga... Rasa apa ini..." Jemarinya meraba biiibirnya. Kemudian berpindah ke daaadanya. Jantungnya terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Hikari berusaha mengatur nafasnya dengan menarik dan menghembuskan udara secara bergantian. Hikari belum pernah melakukan ciuuman dengan siapa pun. Ia sangat menghindari memiliki hubungan spesial dengan lawan jenis atau pun dengan teman sejenis. Latar belakang keluarganya yang tidak hangat, menumbuhkan keinginan Hikari untuk hidup tanpa pasangan. Terpaku di depan wastafel, ingatan Hikari berputar kembali dengan kegilaan yang baru saja dia lakukan. "Bagaimana aku bisa memikirkan ide gila itu. Inikah rasanya ? Kenapa itu sangat menyenangkan? Ada yang salah dengan diriku."
Setelah cukup tenang, ia segera mengambil pangsit udang instan dari dalam kulkas dan memasaknya sebentar. Frozen food itu sudah dilengkapi dengan bumbu kuah sehingga Hikari tidak membutuhkan waktu lama untuk menyajikannya. Hikari segera membawanya ke hadapan Sora.
"Makanlah .. " Hikari memberikan semangkok pangsit panas pada Sora. "Cobalah... Apa bantuan ku tadi benar-benar berguna untukmu atau tidak." Hikari duduk di hadapan Sora. Jantungnya kembali berdetak kencang. Ia memandang wajah Sora yang terlihat biasa saja setelah apa yang mereka lakukan.
Sora mengambil sumpit yang disodorkan Hikari. Dengan sedikit ragu, ia memasukkan sepotong pangsit ke dalam mulutnya. Satu. Dua. Tiga kunyahan. Pangsit berhasil landing di perut Sora tanpa perlawanan. Mereka menunggu. Tidak ada desakan dari dalam perut Sora untuk mengeluarkan pangsit itu. Mereka saling memandang. Hikari tersenyum. Usahanya ternyata membuahkan hasil.
Sejak saat itu, Sora mulai bisa makan, walau tidak banyak. Hikari juga membantu Sora pindah dari apartemen yang membuatnya teringat akan kejadian pelecehan itu, ke apartemen lain yang dekat dengan tempat kerjanya. Sebenarnya Hikari sudah menawarkan pada Sora untuk tetap tinggal di penthouse miliknya, tetapi Sora menolak. Dengan alasan tidak ingin menjadi beban.
Tanpa sepengetahuan Sora, Hikari melacak kamera pengawas yang ada di sekitar bekas apartemen Sora. Hikari mendapatkan rekaman pada saat kejadian naas itu terjadi. Kamera di gedung sebelah merekam dengan jelas, detik-detik Billy melecehkan Sora. Tempat tidur Sora yang berada di samping jendela kaca yang besar, memungkinkan kamera cctv merekam sempurna kejadian itu. Rekaman itu Hikari gunakan untuk mengancam Billy agar tidak menggangu Sora lagi. Hikari juga meninggalkan kenang-kenangan untuk Billy. Sebuah tendangan double kill mendarat kembali di selaaangkaaangan Billy. Tendangan yang beruntun dari Sora dan Hikari cukup membuat Billy kesulitan untuk buang air kecil secara alami dalam jangka waktu yang cukup lama.
Hikari selalu ada untuk Sora. Menemani masa-masa sulit Sora mengatasi ketakutannya yang kerap muncul pada saat sendiri. Hikari selalu datang di waktu yang tepat, saat Sora membutuhkan teman dan dukungan. Mereka mulai dekat, saling mendukung dan menguatkan.
...****************...
Maaf 4 bab gabut. Semoga gak aneh kalian bacanya. Jujur aku kurang pede ama 4 bab Sora. Sesuatu di luar kebiasaan pada umumnya. Kalo gak suka boleh skip. Terimakasih sudah mampir and masih di sini bersama ku..🥰🥰