Looking For Murder

Looking For Murder
Interogasi Yusa



20 menit kemudian Yusa tiba di kantor polisi Osaka. Kedatangannya sudah ditunggu oleh puluhan wartawan dari berbagai lintas media. Baik media cetak, elektronik, maupun media online. Entah dari mana mereka mengetahui perihal Yusa sudah di temukan. Seakan ada yang mengomandoi, sehingga mereka bisa datang bersamaan.


Dengan dikawal ketat petugas kepolisian, Yusa dibawa masuk ke dalam kantor polisi dengan wajah ditutupi jaket. Beberapa personil kepolisian mengurai kerumunan wartawan untuk membuka jalan tersangka bisa masuk. Yusa berhasil masuk ke markas polisi setelah menerobos kerumunan wartawan yang telah siap sedia dengan kamera di tangan mereka.


Yusa dibawa langsung ke ruang interogasi. Ia didudukkan di sebuah kursi yang berhadapan dengan sebuah meja lebar yang terbuat dari kayu. Di sisi lain meja terdapat dua buah kursi tempat petugas polisi yang akan menginterogasi. Di sebelah atas meja terdapat sebuah bola lampu yang sengaja dibuat agak terang dengan cermin besar di sisi kanan meja. Cermin dua arah yang sengaja diletakkan di ruangan itu untuk mengamati pelaku kejahatan di ruang sebelah, tetapi pelaku kejahatan tidak dapat melihat petugas yang sedang mengamatinya. Ruangan interogasi itu sedikit sempit dan terasa agak menyeramkan.


Pertanyaan-pertanyaan mulai dikeluarkan.


Kaoru Usui diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan terlebih dahulu oleh Takagi.


“Kiyoharu Yusa, Pada tanggal 20 September 2020 kau barada di mana?”


“Aku tidak ingat, Detektif.”


“Apa kau mengenal perempuan yang bernama Cho Katou ?”


“Cho siapa?”


“Ditanya malah balik bertanya. Jawab yang benar. “


“Aku tidak tau.”


Terdengar suara ketukan di meja.


“Dua hari kemudian kau berada di mana?”


“Aku lupa.”


“Apa kau masih ingat dengan Bu guru Gina Ayumi?”


“Bu Gina? Iya. A a ku ingat.”


“Apa yang kau ingat tentang dia.”


Yusa diam. Kemudian dengan suara pelan ia menjawab


“Guru science mesum.”


“Apa yang telah dia lakukan padamu?”


“ Dia menggodaku.”


“Apakah kau mengenal wanita-wanita ini ?”


Takagi bertanya, kemudian ia mengurutkan foto tiga wanita korban pembunuhan dengan wajah kaku mereka. Yusa terkejut melihat ketiga foto itu.


"Bu.. Bukankah ini Bu Ayumi?"


Wajah Yusa mendadak pias. Dia diam, tak ada kata yang ingin dia ucapkan. Bingung harus memulainya dari mana. Tidak mudah bagi Yusa untuk menceritakan perihal apa yang ia alami pada polisi. Sedari kecil ia tidak terbiasa untuk bercerita apa yang ia rasakan, kecuali dengan mendiang pengasuhnya.


Brak..


Kaoru menggebrak meja dengan tangannya. Kedua mata Yusa membola. Terkejut. Seuntai senyum sinis tiba-tiba membingkai wajah tampan Yusa. Sejurus kemudian suara tertawa terbahak-bahak mengisi ruang sempit itu. (Bisa reader ketahui siapa yang sedang on di tubuh Yusa saat itu.) Takagi yang bersandar di pojok ruangan sambil bersidekap, memandang terdakwa dengan alis naik dan kening berkerut. Komandan Hajime yang berada di ruang observasi menunjukkan ekspresi yang sama memandang lurus ke arah kaca dua arah di hadapannya.


“Kau ini kenapa? Ditanya hanya menjawab. Tidak tau. Trus tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Apa kau sadar. Kau menghadapi 3 kasus besar. Pembunuhan, pemerkosaan serta penganiayaan berat." Kaoru membentak dengan menahan emosi.


Setelah tertawa terbahak-bahak, suara itu kemudian hilang. Berganti dengan ekspresi tenang.


“Aku ingin didampingi pengacaraku.” Cuma 4 kata itu yang keluar dari bibir Yusa diwakili Ren yang sedang on menggantikan Sota yang kemudian menghilang. Ren duduk menyandar ke kursi sambil bersidekap. Matanya memandang lurus pada Kaoru yang berdiri sambil mencondongkan tubuh ke depan dengan kedua tangan bertumpu pada meja.


Takagi keluar ruangan sembari menepuk pundak Kaoru. Ia langsung menuju ruang observasi di mana komandan Hajime berada. “Komandan, ada yang aneh dengan tersangka kita ini.”


“Iya. Aku juga berpikir begitu. Cuma kita harus hati-hati dengan kemungkinan tersangka memanipulasi perilakunya. Jangan sampai ia lolos hanya karena mengaku sakit jiwa. ”


Sementara itu, setelah kepergian Yusa ke kantor polisi. Yana menghubungi pengacara keluarganya Takeshi Teramae. Teramae yang sedang berada di luar kota, bergegas kembali ke Osaka. 3 jam kemudian baru ia bisa bertemu dengan Yusa yang berada di ruang interogasi polisi. Waktu itu sudah pukul 4 dini hari. Ren yang saat itu sedang menguasai tubuh Yusa, memandang diam pengacara Teramae yang telah duduk di hadapannya.


“Selamat pagi, Tuan. Aku Takeshi Teramae, pengacara yang ditunjuk oleh Nyonya Yana untuk mendampingi anda. Bisa Tuan ceritakan padaku sebenarnya apa yang telah terjadi?”


“Bukan aku pelakunya. Itu semua perbuatan Sota.”


“Maksud, Tuan?”


“Semua yang polisi tuduhkan, barangkali memang benar. Tetapi bukan Yusa pelakunya, bukan juga aku. Sota lah yang telah menimbulkan kekacauan ini.”


“Sota siapa, Tuan?”


“Salah seorang dari kami.”


“Tuan Muda, Yusa. Aku mohon kerja samanya. Bagaimana aku bisa membantu, sedangkan aku tidak mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi. “


“Pergilah. Temui seorang dokter yang bernama Tamaki Saito. Dia akan membantu ku. Dan perlu kau ketahui, aku bukan Yusa. Aku Ren Takahashi."


Teramae menghubungi Yana. Dia menceritakan kesulitan yang dihadapinya pada Yana. Dengan persetujuan Benjiro, Yana menceritakan kondisi Yusa pada Teramae. Walau dia harus berdebat panjang terlebih dahulu dengan Benjiro suaminya.


Satu jam kemudian, dengan dikawal beberapa orang body guard dan ditemani Hikari, Yana menemui Yusa di kantor polisi sambil membawa berkas-berkas yang diperlukan berkaitan dengan kondisi Yusa. Namun polisi tidak begitu saja percaya. Permasalahannya hal itu berkaitan dengan 3 kasus, ditambah lagi dengan desakan yang kuat dari masyarakat agar kasus itu segera bisa naik ke pengadilan.


...****************...


Happy 1st anniversary BASE. Yeaa... Gak terasa kita sudah satu tahun aja. Rasanya baru kemaren kita ngumpul bareng. Ketawa bareng, nangis bareng, marahan bareng 🤭.


Mengurut ke belakang selama 1 tahun ini, sungguh bukan perjalanan mudah bagi kita berlima. Kita juga pernah mengalami pasang surut selama bersama. Tidak mudah untuk menyatukan 5 kepala dengan 5 karakter yang berbeda. Terutama aku yang notabenenya lebih tua. Agak sulit bagi aku menyesuaikan ritme mereka berempat yang masih muda-muda. Kata mundur pun sering terlontar dari inginku, saat emosi sudah naik ke ubun-ubun. Tapi mereka yang selalu lagi dan lagi mengingatkan aku atas komitmen awal kita untuk tetap bersama apa pun yang terjadi kita adalah keluarga. Berlandaskan atas kejujuran, menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing , sama-sama belajar untuk saling memahami, belajar untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, serta belajar untuk menyimak dengan baik, menjadi perekat untuk kita. Base bukan base lagi jika tanpa Bima, Ayu, Ara, Samy, Elin. Semua memiliki peran masing-masing untuk membangun GC. Membuat program, target, strategi, rules bahkan menghadapi member yang memiliki karakter yang beraneka ragam, bukan suatu perkara mudah. Apalagi dilakukan disela-sela kesibukan real life yang tidak kalah heboh.


Happy anniversary guys, kita sudah melewati 1 tahun penuh warna. Next years akan semakin banyak warna menghiasi perjalanan kita. Apapun warnanya semoga menjadi lukisan indah yang membingkai perjalanan hidup kita kedepannya. 🥰🥰🥰