Looking For Murder

Looking For Murder
Fumiko Sora 3



Tiba-tiba..


Duk.. Sekuat tenaga Sora menanduk Billy dengan kepalanya, Billy terdorong ke belakang. Cengkraman tangan kanannya pada kedua tangan Sora terlepas.


“Aaaa hidungku..” Hidung Billy mengeluarkan darah segar.


“Ku bilang lepaskan..”


“Dasar aaanjing ..”


Plak..


Billy menampar pipi kiri Sora dengan tangan kanannya. Pipi Sora memerah. Rasanya sakit sekali. Telinga terasa berdengung. Bibirnya pecah dan mengeluarkan darah.


“Kau jangan sok jual mahal. Seharusnya kau merasa bersyukur, orang kaya aku masih berminat dengan mu. Wanita murahan seperti mu banyak aku temui di jalanan. Mereka akan dengan sukarela merangkak menjiiilat kemaaaluanku demi mendapat cinta dariku. Aku sebenarnya tidak ingin bermain kasar. Tapi kau yang minta terlebih dahulu.” Tangan kanan Billy menggenggam pergelangan tangan kiri Sora.


“Jadilah anak manis. Kau cukup membuka kaki mu lebar-lebar. Dan rasakan sensasi yang akan aku berikan. Jangan takut, jam terbang ku sangat tinggi. Aku jamin kau akan ketagihan.”


“Jangan sentuh. Lepaskan...!!” Tubuh Billy yang lebih besar dari Sora membuat Sora kesulitan untuk mendorongnya.


Dengan leluasa tangan kanan Billy membuka sisa kancing baju Sora yang belum terbuka.


“Wah.. Indahnya.” Air liur Billy menetes tanpa ia sadari.


Blus yang dikenakan Sora terbuka. Tubuh bagian atasnya yang mengenakan bustehouder warna hitam terekspos sempurna. Mata Sora membulat melihat kenyataan itu.


“Tatapan matamu sungguh menggemaskan, sayang.” Billy menyeringai. “Aku tidak tahu kau masih peraaawan atau tidak. Tapi aku janji akan pelan-pelan, ok?” Ibu jari Billy menyentuh bibir mungil Sora. Tanpa membuang kesempatan itu, Sora menggigit jempol Billy dengan kuat.


“Aaaaaaaaa..”


“Baaangsat..” Tekanan tubuh Billy melonggar. Sora berontak. Tubuhnya memerintah untuk melawan. Tanpa memperdulikan rasa sakit di wajahnya, Sora menendang Billy hingga terjungkal ke belakang. Billy jatuh dari tempat tidur single bed itu dengan bookong menghantam lantai.


“Kurang ajar ! Berani-berani nya kau ...” Dengan menguatkan tekad, Sora bangkit dengan cepat mengambil kesempatan Billy yang sudah terjungkal, ia menginjak-injak kemaaaluan Billy.


“ Aaaaaa. Stop.. Stooop. Sakiiiit.”


“Wanita aaaanjing katamu? Terimakasih atas pujiannya. Anjing itu hewan yang baik dan setia, bahkan semua hewan itu tidak semunafik dirimu. Dia tidak akan pura-pura di depanmu. Sedangkan kau.. Kau lebih hina dari semua hewan-hewan dan makhluk bersel satu yang ada. Kau itu sungguh sangat menjijikkan.” Sora menginjak-injak berkali-kali aset milik Billy dengan sekuat tenaga.


“Aaaaa..” Billy berteriak kesakitan.


Kesempatan itu dipergunakan Sora untuk keluar dari apartemennya. Sora berlari dengan kaki telaaanjang ke arah jalanan yang terlihat sepi. Tanpa sengaja ia bertabrakan dengan Hikari yang baru saja keluar dari sebuah minimarket. Sora limbung nyaris jatuh, untung Hikari sigap menahan tubuhnya.


“Nona tidak apa-apa?” Hati Hikari miris melihat Sora yang terlihat berantakan dengan wajah lebam, bibir pecah dan ekspresi ketakutan.


“Tolong aku.. Tolong aku.. “ Sora tak sadarkan diri dalam pelukan Hikari setelah mengucapkan dua kata itu. Hikari yang kebingungan karena tidak ada orang lain di sekitar itu, dengan terpaksa membawa Sora ke penthouse yang baru dibelinya. Tidak mungkin ia membawa Sora ke rumah orang tuanya. Ia tidak ingin menimbulkan masalah baru di tengah-tengah keluarganya yang banyak masalah.


Setiba di penthouse, Hikari membaringkan Sora di atas ranjang kamar tamu. Ia mengobati luka di bibir Sora dengan hidrogel. Lebam di pipi Sora dikompres dengan es. Hikari juga memanggil seorang dokter untuk memeriksa keadaan Sora. Wanita itu berteriak histeris begitu sadar, ia melihat ada seorang pria di dekatnya.


“Pergi.. !! Jangan mendekat !!”


“Tenang Nona. Aku seorang dokter. Aku tidak akan menyakiti mu.”


“Aku bilang pergi !!!!”


“Baik.. Aku pergi. Aku tidak akan mendekati mu.” Dokter itu mengangkat kedua tangannya. Ia berjalan mundur menjauh dari Sora. Hikari yang baru datang dari dapur sambil membawa segelas susu di tangannya merasa bingung dengan situasi yang dilihatnya.


“Sepertinya ia mengalami trauma.”


“Apa yang harus aku lakukan, Dok?”


“Aku tidak tahu, Dok. Aku menemukannya di jalan ketika dia tiba-tiba menabrak ku yang baru keluar dari toko.”


“Apa kah Nona sudah menghubungi keluarganya?”


“Aku tidak tau harus menghubungi kemana. Nona itu tidak membawa tanda pengenal apapun. Ponsel pun dia tidak punya.”


“Sebaiknya minta bantuan polisi saja.”


“ Aku sempat berfikir begitu. Tapi kita tidak tahu situasi apa yang sedang dia hadapi.”


“Oh begitu. Kalau dirasa perlu, kau bawa dia ke psikolog atau psikiater. Cuma itu yang bisa aku sarankan padamu. Ya sudah. Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi di sini. Kau lakukan saja seperti yang aku katakan tadi.”


“Baik, Dok.”


Hikari mendekati Sora begitu dokter pergi dari kediamannya.


“Nona minumlah dulu.” Hikari menyodorkan segelas susu yang tadi baru di buatnya.


Dengan ragu, Sora mengambil gelas yang di sodorkan Hikari. Sora mendekatkan bibirnya ke arah gelas yang digenggam dengan kedua tangannya. Ia menyeruput cairan putih itu. Begitu masuk ke tenggorokannya, rasa mual tiba-tiba mendesak dari dalam perutnya.


“Huwek.... Kamar mandi nya di mana?”


“Di sana, Nona.” Hikari menunjuk arah kamar mandi yang berada tidak jauh dari tempat tidur.


Sora berlari ke dalam kamar mandi, dan memuntahkan semua isi perutnya ke dalam wastafel. Bayangan kejadian yang baru saja menimpanya berkelebat di ingatannya. Air liur pria brengsek yang dengan paksa menciiiumnya telah masuk ke dalam tubuhnya. Itu membuat Sora merasa jijik.


Sora keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh lemas.


“Maaf. Maafkan aku.” Sora merasa tidak enak dengan Hikari atas apa yang baru saja ia lakukan.


“Tidak apa-apa Nona. Apakah kau mau makan sesuatu? Biar aku siapkan.”


“Tidak. Aku tidak lapar. Boleh aku minta segelas air putih?” Sora menuju sofa yang ada di pojok ruangan. Ia meletakkan bookongnya di sofa yang ada di sana.


“Sebentar aku ambil kan.”


Hikari keluar dari kamar itu dan kembali tak lama kemudian dengan membawa segelas air putih.


“ Ini minumlah.”


“Terima kasih.” Sora menghabiskan air itu dengan sekali teguk.


Hikari duduk di samping Sora. “Nona, kita belum berkenalan. Aku Hikari. Dan kau?” Hikari mengulurkan tangannya pada Sora.


“Sora. Fumiko Sora.” Sora menyambut tangan Hikari. Mereka bersalaman sesaat.


“Maaf Nona. Apakah aku boleh tahu, sebenarnya apa yang telah terjadi padamu?”


Sora mereeemas-reeemas jemari tangannya dengan wajah tertunduk. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Hikari.


“Kalau kau tidak ingin bercerita, aku tidak akan memaksa. Mungkin aku tidak bisa membantumu, paling tidak hatimu akan sedikit lega, jika kau mau berbagi dengan ku." Hikari diam sejenak. "Kapanpun kau mau bercerita, aku siap mendengarkan.” Hikari berkata dengan lembut. Ia menyadari bahwa ia adalah orang asing di kehidupan Sora. Sebisa mungkin ia ingin membuat Sora nyaman.


Tidak ada pembicaraan apapun setelah itu. Sora hanya diam. Hikari tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa iba dengan wanita yang ada di hadapannya ini. Tak mungkin ia mengusir Sora pergi dari kediamannya. Hikari memutuskan untuk membiarkan Sora tetap tinggal di penthousenya sementara waktu.


🌾🌾🌾