Looking For Murder

Looking For Murder
Sidang Pembunuhan Berencana Siera Rosalie Fujimaru 1



Takagi menatap bayangan dirinya di muka cermin. Dengan handuk putih yang masih melingkar di pinggangnya, ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang baru saja ia ambil dari wardrobe miliknya. Ia memasangkan kancing satu persatu, menutup tubuh kokohnya dengan pakaian itu. Dan mengakhirinya dengan kancing di kedua pergelangan tangannya. Merapikan kemeja itu dengan masukkan ke dalam celana panjang bahan yang dikenakan kemudian. Setelah itu ia mengalungkan dasi berwarna dongker berbahan satin bermerek Nekado ke lehernya. Menggantungkan dasi itu dengan kedua ujung tidak berimbang, kemudian menyimpulkan dengan cepat membentuk simpulan Pratt knot*. Memakai jas warna senada, Takagi terlihat tampan dengan setelah formal itu.


Hari ini adalah sidang putusan untuk kasus pembunuhan berencana terhadap putrinya Seira Rosalie Fujimaru dengan tersangka Ren Tanoue. Pada sidang-sidang sebelumnya, Takagi hadir mengikuti perkembangan persidangan kasus kematian putrinya itu. Ia pun sempat diminta menjadi saksi. Pada sidang putusan kali ini pun Takagi memastikan diri untuk hadir. Ia telah mempersiapkan diri untuk semua kemungkinan yang akan terjadi. Namun dalam hati kecilnya, Takagi berharap hakim sebagai perpanjangan tangan Tuhan di muka bumi ini, bisa memutuskan dengan seadil-adilnya dan menjatuhkan vonis maksimal untuk pelaku yang dengan sengaja telah merenggut paksa Siera dari dalam dekapannya.


Tut.. Tut .. Tut..


Ponsel Takagi di atas nakas berbunyi. Ia mengambil benda pintar itu dan tersenyum begitu melihat siapa yang telah menghubunginya. Dengan cepat ia menyentuh tombol hijau yang ada di layar ponsel.


“Halo sayang.. “ Takagi mengangkat panggilan telepon itu dengan senyum menghiasi wajah tampannya.


“Kau sudah siap?” Suara merdu Keiko menyambutnya.


“Sudah. “


“Aku menunggumu.”


“Baik. Tunggulah sebentar, aku akan segera menjemputmu.”


Bergegas Takagi menyimpan ponselnya ke dalam saku jas bagian dalam dan keluar dari unit apartemennya. Hari ini Takagi memiliki janji dengan Keiko untuk menjemput wanita itu. Keiko sengaja mengosongkan jadwalnya untuk menemani Takagi ke persidangan.


Takagi menuju parkiran apartemennya, menyalakan kendaraannya dan segera menjemput pujaan hatinya. 15 menit kemudian Takagi tiba di apartemen Keiko. Wanita cantik itu telah menunggunya di depan gedung apartemen dengan mengenakan blus motif bunga kecil dengan celana bahan warna coklat susu dan sling bag menggantung di bahunya. Mobil Takagi berhenti tepat di depan Keiko. Takagi menurunkan jendela pintu mobil. Ia tersenyum pada Keiko dengan memamerkan deretan giginya yang rapi.


Tanpa menunggu, Wanita itu membuka pintu penumpang di samping kemudi dan masuk ke dalam mobil.


“Kau cantik sekali.”


Pujian Takagi membuat pipi putih Keiko bersemu merah.


“Kau pun sangat tampan hari ini.” Keiko membalas pujian Takagi dengan menyentuh pipi pria itu dengan tangan kanannya.


Takagi menggenggam tangan Keiko di pipinya dan mengecup telapak tangan wanita itu, hangat. Sejenak mereka saling pandang dengan tatapan penuh cinta.


“Sudah lama menunggu?” Masih menggenggam tangan Keiko.


“Tidak. Baru saja aku turun.”


Takagi mencondongkan tubuhnya ke arah Keiko. Wajahnya sangat dekat. Hingga hembusan nafasnya terasa di wajah Keiko. “Dia mau apa?” Keiko bergumam.


Ceklek...


Bunyi safety belt milik Keiko.


“Apa yang kau pikirkan Nona?”


Takagi tersenyum melihat Keiko salah sangka dengan tindakannya.


Blush.. Wajah Keiko bersemu merah menahan malu. Tubuhnya menegang. Cup. Sebuah kecupan mendarat di pipi Keiko.


“Kau cantik sekali kalau pipimu merona begitu.” Ia menyentuh hidung Keiko dengan jari telunjuknya. Kemudian mengecup kembali punggung tangan Keiko yang masih dalam genggamannya. Tindakan Takagi cukup mencairkan hati Keiko yang kikuk menahan malu.


“Kau sudah siap?” Tersenyum kecil, Keiko mengisyaratkan kesiapannya.


“Ayo kita berangkat.”


Takagi kemudian melajukan mobilnya menuju gedung pengadilan.


🍂🍂🍂


Tiba di gedung pengadilan, mereka turun dari mobil yang berhenti di parkiran. Berjalan bersisian menuju ruang sidang, Takagi tidak dapat menyembunyikan ketegangannya. Keiko yang menangkap keresahan di hati Takagi berusaha memberikan ketenangan dengan menyelipkan jari-jarinya di sela jemari tangan Takagi. Takagi terharu melihat inisiatif keiko. Hatinya menghangat. Mereka saling pandang. Senyuman kecil mereka lemparkan.


Dengan bergandeng tangan mereka menunggu di depan ruang sidang yang sepi itu. Ya. Ruang sidang yang digunakan untuk mengadili terdakwa kasus pembunuhan berencana, yang notabenenya seorang anggota Yakuza memang tidak menarik perhatian banyak orang. Lagi pula kasus itu sudah terjadi dua tahun yang lalu. Dimana sempat mengendap di kepolisian karena tidak cukupnya bukti. Kalau tidak karena kebaikan hati tuan Satoshi Nomura, seorang petinggi Yakuza, yang merasa berhutang Budi karena Takagi telah menyelamatkan putrinya (bab 25, 27), mungkin kasus ini tidak akan pernah menemui titik terang. Pria itu menyiapkan sejumlah bukti dan saksi yang memberatkan Ren.


Begitu pintu ruang sidang di buka, mereka masuk dan memilih duduk di bangku pengunjung paling depan. Memendarkan pandangan ke seluruh ruangan yang masih sepi, hanya terlihat beberapa petugas keamanan dan petugas sidang yang sedang mempersiapkan alat-alat persidangan**. Sepuluh menit kemudian. Penuntut umum yang berjumlah tiga orang memasuki ruang sidang. Terlihat mereka mempersiapkan diri sebelum sidang dimulai.


🧑‍⚖️🧑‍⚖️🧑‍⚖️


* Simpul Pratt adalah metode mengikat dasi . Ia juga dikenal sebagai simpul Shelby dan simpul Pratt-Shelby. Simpul itu dibuat oleh Jerry Pratt, seorang pegawai Kamar Dagang AS pada akhir 1950-an. Itu dipopulerkan sebagai simpul Shelby setelah Pratt yang berusia 92 tahun mengajarkannya pada tahun 1986 kepada reporter televisi Don Shelby yang menurutnya telah mengikat dasinya dengan buruk saat mengudara. Shelby kemudian menyempurnakan simpul Pratt dengan desainer lokal Kingford Bavender dan memakainya di udara dengan kerah terbuka di tempat yang menonjol dan menarik perhatian karena kesimetrisan dan presisi trimnya. Simpul ini sangat cocok untuk dasi yang lebih pendek atau pria yang lebih tinggi. Metode Pratt menghasilkan simpul yang simetris. Ketebalannya sedang.



**Alat-alat persidangan antara lain :


Palu hakim, posisi meja, pembatas pengunjung sidang, papan nama dan kain hijau, bendera dan lambang negara, kitab suci, kertas sumpah 'pegangan' hakim, buku agenda hakim, pintu rahasia, laptop, tanda peringatan, nama-nama ruang sidang, mic, kalender, jam dinding, alat perekam sidang.