Looking For Murder

Looking For Murder
Yusa Putraku Yang Malang



Yana baru saja kembali dari kantornya. Hari ini ia selesai bekerja lebih awal. Pukul 7 malam ia sudah sampai di penthouse miliknya. Malam ini ia memutuskan untuk tidak pulang ke rumahnya. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Dan tubuhnya terasa tidak nyaman. Ia membutuhkan Shuji Tetsuya malam ini. Sugar babynya itu memang ia sembunyikan di penthouse miliknya. Untuk menghindari kecurigaan orang-orang, Yana menugaskan Shuji sebagai penjaga griya tawang miliknya itu. Yana juga meminta Shiji berhenti bekerja sebagai perawat di rumah sakit.


“Nyonya, anda sudah pulang?” Shuji menyambut Yana di depan pintu.


“ Baby, aku lelah sekali.” Yana menyandarkan kepalanya di dada Shuji, begitu pintu depan sudah tertutup.


“Aku sudah menyiapkan air panas untuk kau mandi. Ayo bersihkan dirimu. Aku akan memijatmu setelah itu. “ Shuji mengambil tas dari dalam genggaman tangan yana dan membawanya.


“Baiklah..” Yana mengikuti langkah Shuji. Ia dalam mode pasrah malam itu.


Shuji merangkul Yana menuju kamar utama. Begitu tiba di kamar, tanpa sungkan, Yana melepas satu persatu pakaian yang melekat ditubuhnya. Kemudian melangkah menuju kamar mandi dengan tubuh poloos. Sementara itu, Shuji menyimpan tas milik Yana di atas nakas tempat tidur. Setelah itu, ia ikut masuk ke dalam kamar mandi.


“Masuklah ke bathub. Aku akan menggosok punggungmu. “ Yana mengikuti semua arahan Shuji. Di dalam bak, Shuji menyikat seluruh tubuh Yana. Wanita paruh baya itu memejamkan kedua matanya, menikmati wangi lembut dan menenangkan dari aromaterapi camelia yang dibubuhkan Shuji di air mandinya. Ditambah dengan sensasi sentuhan tangan Shuji di sekujur tubuhnya, membuat Yana merasa sangat rileks. Untuk menemani sugar mothernya berendam, Shuji telah menyiapkan teh chamomile hangat untuk Yana minum.


Satu jam kemudian, Yana selesai dengan aktivitas membersihkan dirinya. Begitu ia keluar dari kamar mandi, Shuji telah menunggunya dengan baju tidur kimono tipis warna merah di tangannya. Yana membelakangi pria muda itu agar mudah memasangkannya kimono itu ke tubuhnya. Ia kemudian melepaskan bathrob putih yang ia kenakan. Bagian belakang tubuh putih mulus Yana terekspos sempurna. Sambil menelan ludah untuk kesekian kali, Shuji memasangkan baju tidur kimono yang dibawanya ke tubuh Yana.


“Kau sibuk sekali belakangan ini, Nyonya.”


“Ya begitulah.” Sambil mengebat tali pengikat baju kimono di pinggangnya. “Perusahaan skincare milikku akan meluncurkan parfum varian baru. Sebelum dilempar ke pasaran ada banyak hal yang harus dipersiapkan.”


“Kesibukanmu itu sampai membuatmu jarang menjengukku di sini.” Suara Shuji terdengar seperti rengekan di telinga Yana.


“Oh, my baby minta diperhatikan rupanya.” Yana membalikkan tubuhnya kembali setelah selesai mengebat tali kimono. Ia memeluk tubuh Shuji dengan posesif. Tubuh Shuji yang lebih tinggi dari Yana membuat wanita itu mengangkat wajah ke atas untuk bisa menatap paras tampan Shuji. “Aku janji, setelah peluncuran produk, kita akan jalan-jalan ke luar negeri lagi.”


“Hmmm..” Shuji membalas pelukan Yana dengan dekapan erat.


“Kenapa? Kau tidak mau?”


Shuji menundukkan kepalanya sambil berbisik di telinga Yana “Terserah kau saja Nyonya. Aku akan ikut kemana pun kau akan membawaku.” Wangi bunga camelia dari tubuh Yana membuatnya enggan menjauh. Bibir dan hidung mancungnya menghirup aroma lembut itu hingga memenuhi seluruh paru-parunya. Bibirnya menuntun berlahan menyusuri pipi hingga bertemu dengan bibir mungil milik Yana. Menyesap lembut dua daging kenyal yang memabukkan itu.


Lumba-lumba licin dan basah milik Shuji menyusup masuk ke dalam mulut Yana yang refleks terbuka. Mencari tandem terkasihnya di dalam sana. Kedua lumba-lumba itu bertemu, menari dan berdansa bersama mengikuti alunan musik orkestra yang tiba-tiba mengalun di kepala mereka. Jemari Shuji yang berada di pinggang Yana, menyusup perlahan, melepas simpulan kimono yang menautkan kedua belahan baju tidur warna merah menyala itu. Simpulan pun terlepas. Kedua gunung fuji yang masih terlihat indah itu tersingkap. Nurani kelaki-lakiannya menuntut lebih. Melepaskan tautan kedua lumba-lumba mereka, Shuji semakin menundukkan kepalanya. Jemari tangannya menyapu kimono yang masih menutup bahu mulus Yana. Memberi akses padanya untuk tidak melewatkan kecupan di sana. Yana mendesaah. Sentuhan bibir Shuji di tubuh bagian atasnya membawanya terbang ke awan. Ia membiarkan ketika pria muda itu merenggut hak yang dahulu seharusnya milik kedua buah hatinya. Mengiisap salah satunya dan mereemaas lembut yang lainnya.


Kriiing... Kriiing... Kriiing..


“ Ahhh.. Baby aku harus mengangkat ponselku.” Ucap Yana disela deesaahan kenikmatannya.


“Nyonya biarkan saja..” Shuji tidak melepaskan genggamannya tangannya dari salah satu benda kembar milik Yana.


“Baby ... Putraku sekarang sedang berada di Tokyo. Aku khawatir saat ini ia membutuhkanku. Aku janji ini hanya sebentar.“ Yana meraup wajah tampan Shuji yang berada di daadanya, kemudian mengecuup lembut bibir pria itu untuk menenangkannya.


“Pergilah.. “ Hatinya luluh. Dengan tidak rela, Shuji membiarkan Yana melangkah ke arah nakas, mengambil tas yang ia letakkan tadi di sana. Dengan Kimono yang masih berantakan di tubuhnya, Yana meraih ponselnya dari dalam tas. Keningnya berkerut melihat siapa yang telah mengganggu kesenangannya malam ini. Menarik nafas dalam untuk mengatur nada suara setenang mungkin, Yana mengangkat panggilan suara itu.


“Ya Dokter, Yana Nobou di sini. Ada yang bisa aku bantu?” Yana kemudian terdiam mendengar penuturan sang penelepon. Wajahnya mendadak pias. Detak jantungnya seakan berhenti. Ucapan Dokter Tamaki Saito dari seberang sana bagaikan petir di siang hari yang cerah. Tangan Yana bergetar. Ponselnya terlepas dari genggaman.


Bruk... Telepon genggam itu terjatuh di lantai dingin kamar. Tubuh Yana pun ikut ambruk.


“Nyonya !!” Shuji berlari meraih tubuh Yana yang nyaris menghantam tepi tempat tidur. Yana tidak pingsan. Ia masih sadar dengan sekelilingnya. Ia wanita kuat yang telah banyak menghadapi berbagai rona kehidupan. Hanya saja tiba-tiba tubuhnya terasa lemah tak bertenaga. Kabar berita yang dibawa dokter pribadi putranya itu sungguh begitu tiba-tiba. Kematian mendadak putranya yang baru saja ingin ia peluk kembali setelah puluhan tahun ia abaikan, memukul jiwanya. Semesta seakan menghukumnya karena selama ini telah mengabaikan anak titipanNya. Dan sang pemilik kehidupan telah mengambil kembali apa yang Dia pinjamkan pada Yana.


Tangisnya seketika pecah begitu Shuji Tetsuya memeluknya. Di daada pria itu air matanya tumpah. Meratapi kenyataan yang harus ia hadapi. Menyesali perbuatannya yang tidak bisa membahagiakan putra tercintanya yang harus menderita sepanjang hidupnya. Yusa yang malang. Sungguh, semua telah terjadi dan tidak bisa diulang kembali. Andaikan waktu bisa diputar. Seandainya nasi yang hangus tidak meninggalkan bau yang menyengat, tentu masih bisa diolah dan bisa di makan kembali. Di dalam penyesalan terdalamnya, terlintas satu sosok yang memegang andil besar dalam penderitaan kehidupan Yusa. Ya Benjiro Nobou. Pria paruh baya itu harus ikut menanggung rasa sakit yang saat ini Yana rasakan. Mengusap kasar wajahnya yang basah. Yana bergegas menuju wardrobe miliknya.


"Nyonya mau kemana!!?" Shuji Tetsuya panik melihat Yana berlari ke arah tempat penyimpanan pakaian. Tak ingin terjadi hal buruk yang akan dilakukan sugar mothernya itu, ia bergerak cepat. Mengikuti ke arah Yana melangkah.


Yana mengambil celana panjang bahan warna navy blue serta blues putih bunga-bunga kecil dan mengenakannya.


“Nyonya apa yang akan kau lakukan?” Shuji selangkah dibelakang Yana yang sedang mengenakan pakaian itu dengan terburu-buru.


“Aku mau menemui bandot tua sialan itu.”


“Tapi Nyonya...”


“Kau ikut aku. Kau yang akan menyetir.”


“Baik Nyonya. Sebentar aku ganti pakaianku dahulu.” Shuji bergegas keluar dari kamar itu, menuju kamar tidurnya dengan hati penuh tanya. Apa yang sebenarnya telah terjadi ?


...****************...