
Sementara itu, Sora yang baru saja selesai bekerja, sudah menunggu Hikari di lobi rumah sakit. Setelah menunggu selama 15 menit, Sora memutuskan untuk menelepon kekasihnya itu.
“Halo sayang, kau sudah di mana?”
“Aku lagi di rumah orang tuaku. Astaga aku lupa mengabari mu. Malam ini aku tidak bisa menjemputmu. Ada sedikit masalah di rumah orang tuaku. Jadi, aku harus menemani Ibuku.”
“Oh baiklah. Kalau begitu aku pulang naik taksi saja.”
“Maafkan aku sayang. Kau tidak marah kan?”
“Tidak. Untuk apa aku marah. Kau temani saja Ibumu. Sudah ya. Aku pulang dulu."
"Hati-hati sayang. Kalau sudah sampai di rumah, jangan lupa kabari aku."
"Tentu saja. Aku akan mengabari mu. Love you.."
"Love you too.."
Sora menutup panggilan telepon itu. "Tau begini , seharusnya aku menerima tawaran Dokter Keiko tadi." Sora bergumam. Ada sedikit sesal di hatinya.
Menunggu taksi pada saat jam sibuk pulang kantor di kota Osaka sungguh pekerjaan yang sangat membosankan. Mau tidak mau ia harus melakukannya. Setelah menunggu selama 30 menit, sebuah taksi berhenti di hadapan Sora. Ia bergegas membuka pintu belakang dan naik ke dalam taksi itu.
“Serenity Building, Pak.”
“Siap, Nona."
Pria tua yang mengemudikan taksi itu segera menjalankan kendaraannya. Taksi melaju lambat dengan kecepatan 20 km/jam di padatnya jalanan kota Osaka. Jarak yang seharusnya bisa ditempuh selama 36 menit, ternyata menghabiskan waktu hampir satu jam. Satu km mendekati Serenity Building, tiba-tiba taksi tidak dapat bergerak. Sebuah mobil box menghalangi jalan disebabkan mengalami mati mesin. Karena tidak sabar menunggu, Sora memutuskan untuk berjalan kaki melanjutkan sisa perjalanan.
Beberapa ratus meter mendekati apartemennya, dua orang pria berjas serba hitam, berjalan cepat mengiringi langkah Sora di kedua sisi kiri dan kanan. Kemudian kedua pria itu menggandeng erat kedua lengan Sora.
"Hei.. Siapa kalian !!"
Tanpa memperdulikan teriakan Sora, dengan cepat mereka menggiring Sora ke sebuah mobil van yang sudah menunggu tak jauh dari sana. Pintu mobil terbuka, begitu mereka mendekat, seorang pria yang sudah menunggu di dalam mobil, menarik Sora dengan paksa.
"Hei .. !!!"
Sora terjerembab masuk ke dalam mobil. Kedua pria yang menggiringnya tadi, ikut masuk. Seorang duduk di samping kemudi, seorang lagi melalui pintu samping tengah tempat Sora masuk tadi. Dalam hitungan detik mobil melaju dengan kencang setelah pintu mobil tertutup.
"Apa-apaan ini !! Siapa kalian?!!"
"Hei !!!. Kalian bisu ya ? Atau tuli juga ?" Karena tidak mendapat tanggapan, Sora mengambil parfum dari dalam tasnya. Ia menyemprotkan ke arah mata pria yang tadi menariknya masuk.
"Aduh.. !!" Pria yang mendapat semprotan parfum refleks menutup kedua matanya dengan tangan. Sejurus kemudian pria itu mengangkat tangan kanannya, berniat menampar Sora.
"Sialan !! Kurang ajar!!"
"Max stop !! " Pria yang ada di belakang kemudi membentak laki-laki yang dipanggil Max itu. " Kau mau mendapat hukuman berat dari Boss ? Tidak ingat Boss pesan apa? Lecet sedikit, nyawamu sebagai gantinya !!"
"Oh. Jadi ternyata kalian tidak bisu dan tuli ?" Ucap Sora dengan penuh emosi.
"Nona, tolong kerja samanya. Kami hanya menjalankan perintah." Jawab pria yang duduk di samping kemudi.
"Siapa yang telah menyuruh kalian untuk melakukan ini !!"
"Maaf Nona. Kami tidak bisa mengatakannya."
" Cih.. Apa salahku sehingga orang itu memerintahkan kalian untuk menculik ku?!"
"Maaf Nona, kami tidak tahu. Kami hanya dibayar untuk menjalankan tugas yang diperintahkan. Selebihnya bukan urusan kami."
"Kalian memang manusia yang tidak punya hati nurani. Demi uang kalian rela melakukan apapun !!" Ke empat pria itu enggan melayani perkataan Sora. Pandangan mata mereka fokus melihat ke arah jalanan. Sesekali dengan sudut mata melihat ke arah Sora yang terlihat tenang. Sesungguhnya dalam hati Sora diliputi ketakutan. Ia berusaha menekan rasa takutnya dengan terus berfikir cara meminta pertolongan. Untuk lolos dari ke empat pria itu, Sora rasa ia tidak akan mampu. Sora meraba ponsel yang ada dia dalam tasnya. Diam-diam ia melakukan panggilan cepat. Entah nomor ponsel siapa yang ia hubungi, Sora pun tidak tahu. Ia hanya berharap, orang yang ia hubungi akan mengangkat panggilan telepon dan tidak mengabaikannya.
***
Dokter Keiko yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan masih menggunakan bathrobe, mengambil ponsel yang tiba-tiba berdering dari dalam tasnya.
"Sora? Ada apa ya?" Keiko menyentuh tombol hijau yang ada di layar ponselnya. " Ya Sora ?" Tidak ada suara sahutan dari seberang sana. Keiko kembali memandang layar ponselnya. Ia melihat panggilan sedang berlangsung. "Sora.. Halo Sora .." Di seberang sana, Sora berusaha menimbulkan suara, agar seseorang di ujung telepon segera mengetahui situasi yang sedang ia dihadapi.
"Sialan !! Brengsek !!" Terdengar suara pria memaki. Tak lama kemudian suara tamparan keras. "Aduh !!" Suara Sora terdengar kesakitan. "Sora ? Halo Sora. Kau tidak apa-apa?" Dokter Keiko menyadari sesuatu telah terjadi pada teman sejawatnya itu. Ia mengambil ponsel lain dari dalam tasnya, kemudian menghubungi Takagi.
Takagi yang sedang melakukan interogasi bersama Kaoru, tidak langsung mengangkat telepon dari Keiko. Handphonenya memang sengaja di biarkan dalam mode getar. Baru setelah berada di ruang observasi bersama komandan Hajime, Takagi memeriksa ponselnya.
💃💃💃
.