Looking For Murder

Looking For Murder
Hikari, Bantu Aku Menemukan Clarisha



Brak...


Pintu ruang kantor Yana dibuka dengan kasar. Yana yang sedang berdiskusi dengan 3 orang stafnya dibuat terkejut. Seorang pria paruh baya masuk ke dalam kantor itu dengan langkah tegas dan wajah memerah. Tangannya mengepal kuat menahan amarah yang bergejolak di dadanya. Amaya, sekretaris Yana, terlihat ketakutan di belakang pria itu. Yana berdiri dari duduknya.


“Sayang, ada apa dengan mu? Tak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?” Yana mendekati suaminya dan berusaha tenang.


“Katakan di mana kau sembunyikan, Clarisha!!?” Dengan suara keras dan membentak.


“Sayang, kenapa kau tanyakan padaku ? Aku bukan manager wanita itu. Kalau kau ingin mencarinya, kenapa tidak kau tanyakan pada Kimi. Dia yang mengatur semua kegiatan artisnya”.


“Aku sudah menanyakan pada Okama (Waria) itu. Dia mengatakan kalau Clarisha dijemput orang suruhan ku. Padahal aku tidak pernah menyuruh seseorang untuk menjemputnya di lokasi syuting. Aku tau itu pasti ulah mu !!.”


“Atas dasar apa kau menuduhku melakukan nya?”


“Kau telah menyuruh seseorang untuk memata-matai ku, kan? Memasang CCTV di kamar ku. Memata-matai aktivitas ranjang ku !!”


3 orang staf plus sekretaris Yana terkejut bukan main mendengar ucapan Benjiro. Mereka tidak menduga, kemesraan yang sering ditunjukkan pasangan majikan mereka itu diberbagai acara perusahaan ternyata hanya sandiwara saja.


“Jaga ucapanmu Tuan Nobou yang terhormat. Kau lupa siapa aku? Aku istrimu !!. Pantaskah kau berkata begitu seakan-akan aku adalah orang ketiga di dalam kehidupan mu!!”


Benjiro Nobou terdiam mendengar perkataan Yana.


“Aku sudah cukup bersabar dengan semua penghianatan mu bertahun-tahun yang lalu di belakangku. Pernahkah aku protes !!?. Pernahkah aku menghalang-halangi kesukaanmu bermain dengan wanita-wanita cantik !!? Pernah!!. Jawab aku Nobou-san !!! “. Wajah Yana berubah menjadi merah. Matanya perlahan mulai mengembun.


Tubuh Benjiro yang semula menegang karena marah, seketika mulai melemas begitu melihat air mata yang berlahan turun dari pelupuk mata istrinya.


“Wanita simpanan mu menghilang. Dengan mudahnya kau menuduhku melakukan itu. Pernah kau menanyakan bagaimana perasaanku ? Pernahkah kau peduli dengan rasa sakit yang kau torehkan di hatiku karena ulah mu bertahun-tahun yang lalu? Pernahkah kau memikirkan tentang kita? Tentang keluarga kita? Jawab aku Nobou-san. Jawab aku !!” Pijakan kaki Yana mulai goyah. Perlahan tubuhnya luruh ke lantai. Kedua tangannya mengepal kuat dadanya.


“Nyonya !!!” Ketiga staf dan sekretaris Yana menghambur menuju atasan mereka.


“Nyonya tidak apa-apa?”. Tanya salah seorang staf. Yana hanya menjawab dengan isakan yang tertahan.


“Kita bawa Nyonya ke sana. Ayo..”.


Mereka memapah Yana ke sofa panjang yang ada di ruangan itu. Amaya sekretaris Yana mengambil botol air mineral yang ada di atas meja dan meminumkannya pada Yana. Benjiro Nobou sang suami hanya terpaku melihat kejadian itu dengan wajah datar.


Setelah Yana duduk di sofa, ia bergegas keluar dari ruangan Yana dengan langkah lebar. Memasuki lift dan naik ke lantai atas menuju ruangannya. Tiba di kantornya, Benjiro menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kerjanya. Mengusap wajahnya kasar. Ucapan istrinya tadi, terngiang-ngiang di telinganya.


Tok tok tok ... Ceklek


Pintu kantor Benjiro diketuk dan dibuka seseorang.


“Ayah. Apa yang telah kau lakukan pada Ibu?” Hikari masuk langsung menginterogasinya tanpa basa-basi.



Mendengar pertanyaan itu, Benjiro hanya bisa memijit pelipisnya, menahan sakit di kepalanya yang tiba-tiba muncul.


“Ayah. Kenapa kau diam saja. Jawab aku Ayah !!!”


“Tidak bisakah kau berkata sopan pada Ayahmu ini, Hikari ? Kau dan Ibumu itu sama saja”.


“Maksud Ayah apa? Aku hanya bertanya, apa yang telah kau lakukan sehingga menimbulkan kegaduhan di kantor Ibu?”


“Tentu kau sudah mendengar apa yang terjadi dari mulut Ibumu”.


“Aku ingin mendengar langsung dari mu, Ayah. Apa sesungguhnya yang telah terjadi ?”.


“Clarisha menghilang. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana. Ponselnya tidak dapat dihubungi. Kimi mengatakan kalau ia dijemput seseorang yang mengaku sebagai orang suruhan ku. Padahal aku tidak pernah melakukan itu. Aku mencurigai, Ibumu telah menyuruh seseorang untuk menculik Clarisha”.


“Apa hubunganmu dengan wanita itu, Ayah?” Hikari melihat dengan tatapan penuh selidik.


“Bukan apa-apa”. Jawab Benjiro singkat.


“Ayah. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau bohongi. Wanita itu kekasih barumu?”


“Haruskah aku menjawab pertanyaan mu itu, Hikari?”


“Baiklah Ayah. Aku anggap jawab mu adalah iya”. Hikari melangkah menuju sofa yang berada tak jauh dari meja kerja Benjiro. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa itu.


“Apakah kau begitu mencintai wanita itu Ayah? Sehingga kau mempermalukan dirimu di hadapan para bawahan Ibu? Apakah kau tidak berfikir dahulu akibat dari perbuatan mu itu?”


“Berhenti menginterogasi ku Hikari !!. Tak bisakah kau menutup sebentar mulutmu? Ucapanmu membuat kepalaku tambah pusing !!” Benjiro menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi. Hikari diam begitu mendengar perkataan keras Ayahnya. Ia menghembuskan nafas kasar. Mereka sama-sama diam. Tenggelam dengan pikiran masing-masing.


“Hikari, bantu aku menemukan Clarisha”. Ucap Benjiro memecah kesunyian di antara mereka.


Hikari memandang Ayahnya dengan tatapan tak percaya.


“Kalau aku melakukan itu, akan menyakiti hati Ibu, Ayah”.


“Aku yang membesarkan mu, bukan Ibumu !!!”


“Tapi, Ayah..”.


“Ada di mana dia setelah kau lahir ke dunia. Kau tidak akan seperti sekarang, jika aku tidak mendidik mu dengan benar”.


“Ayah berkata begitu, sepertinya tidak ada cinta di hati Ayah untuk Ibu”.


“Cinta pada wanita hanya sebatas daadaa dan selaangkaangaan, Hikari”.


“Lantas kenapa Ayah memintaku mencari Clarisha?”


“Karena dia milikku !! “ Dengan tatapan tajam.


“Itu kenapa aku sangat membenci lelaki.” Hikari mendengus kasar.


“Aku tidak membutuhkan penilaian mu terhadap hidupku. Kau cari Clarisha atau aku tendang kau ke jalanan”.


“Ok. Ok Ayah. Akan aku lakukan.” Hikari berdiri dari duduknya. Ia berjalan menuju pintu ke luar. Ketika di depan pintu Hikari berhenti, ia membalikkan tubuhnya dan menatap tajam Benjiro.


“Kalau aku berhasil menemukan wanita itu, berjanjilah padaku, kau tidak akan mencampuri pilihan hidupku”.


“Apa maksudmu?”


“Berjanjilah Ayah”. Desak Hikari.


“Baik. Aku berjanji”.


“Aku pegang janjimu, Ayah”. Hikari membuka pintu dan keluar dari ruangan Benjiro dengan senyum menghias wajahnya.


...****************...