Looking For Murder

Looking For Murder
Kau Menghadapi Tuduhan Serius Tetsuya-san, Pembunuhan !!



POV Shuji Tetsuya


Aku datang ke bar Nayuta lebih awal 15 menit dari waktu kesepakatan kami. Sambil menunggu, aku duduk di meja bar dan memesan segelas cocktail pada bartender. Setelah pesananku tiba, dan aku baru menyesap sedikit minumanku, Adriana datang dari arah belakangku. Dia mengusap punggungku. Refleks aku menoleh ke kiri di mana dia berada. Dia mengecup kedua pipiku. Adriana nampak cantik dengan dress merah ketat setinggi paha dibalut jacket kulit hitam yang terlihat pas di tubuh rampingnya. Dia melengkapi penampilannya dengan mengenakan sepatu boot kulit sebagai alas kakinya.


“Sudah lama?” Bisiknya ke telingaku.


“Baru saja. Cocktail ku juga baru datang”


“Kita duduk di sana saja yuk” Adriana menunjuk meja yang terletak di sudut ruangan.


Dengan membawa minuman ku, kami pindah ke meja yang dimaksud Adriana.


Adriana kemudian memesan minumannya. Kami ngobrol sambil menikmati musik yang di sajikan pihak bar.


Malam itu kami agak mabuk. Tapi aku cukup sadar dengan apa yang aku dengar dan lihat. Dia bilang dia kesepian dan memintaku untuk memciuuuumnya.


Awalnya aku ragu, karena status kami adalah teman dekat. Tapi dia memohon dengan merangkul leherku dan mendekatkan bibirnya ke wajahku. Aku kemudian mengecupnya. Bibirnya yang baru pertama aku rasakan itu, begitu manis. Dalam pikiran nakal di kepalaku, kami sudah cukup lama berteman dekat, kenapa baru sekarang aku merasakan bibir indahnya.


Dari kecupanku itu, dia meminta lebih. Adriana menahan kepalaku dengan melahap rakus bibirku. Ciuuman kami semakin panas. Aku terpancing dengan meremaaaas dadaaanya dan bokoooongnya yang berisi. Tapi Cuma sampai disitu, kami di usir security dan diantar sampai ke lantai bawah gedung. Kami turun sambil saling merangkul.


Sesampai di bawah, tetap dengan saling merangkul kami berjalan menjauh dari sana. Setelah berjalan beberapa langkah, Adriana menarikku ke samping gedung yang gelap.


“Hei.. Kita mau kemana?” Tanyaku heran.


“Ayolah, ikut saja. Aku ingin mengajakmu berpetualang”.


Tanpa banyak tanya lagi, aku mengikuti langkahnya. Tiba di titik samping gedung yang gelap, ia menarik jaketku, untuk menghimpit tubuhnya yang bersandar ke dinding. Dengan mata yang sayu, kedua tangannya merangkul leherku.


“Aku sangat penasaran padamu. Kata orang-orang, kau sangat legit”.


“Benarkah?”.


Dia mendekatkan wajahnya ke mukaku. Merampas ciuuuman ke 1000 ku. Kami melakukannya lagi sampai kami kehabisan nafas dan terengah-engah. Tangannya menjamah dada bidang ku dari dalam baju kaos yang aku kenakan, merabaaaa hingga ke punggungku. Ia menarik tanganku ke daaadanya. Mendapat kesempatan itu, tanganku melakukan tugasnya dengan baik, sehingga Adriana mengeluarkan suara nikmat yang tertahan. Tangannya kemudian bergerilya ke bagian bawah tubuhku yang mulai menegang. Dengan lihainya membebaskan pedang kebanggaan ku yang terasa sesak itu.


“Lakukanlah..” Bisik Adriana.


“Kau yakin?”.


“Sangat yakin. Lakukanlah. Tunjukkanlah kehebatan mu seperti yang mereka katakan”.


“As your wish, Lady”.


Aku menyingkap sedikit gaun sempitnya yang minim itu. Tanpa kesulitan, aku memasukinya. Teriakan halus dan tertahan, keluar dari bibir ranumnya. Aku mulai mengayun pusakaku berirama. Dan Adriana mengiringi dengan nada yang tak kalah indah.


“Kau memperkoooosanya?” Tanya Kaoru, menyela cerita Shuji.


“Tidak, Tuan. Kami melakukan atas dasar suka sama suka. Tapi diakhir permainan, Adriana marah dan menampar pipiku. Kemudian pergi meninggalkanku dengan terburu-buru.”


“Apa kesalahanmu?”


“A a..aku melakukan pelepasan di dalam tubuhnya karena kami melakukannya tanpa pengaman”.


“Dia tidak ingin mengandung anakmu?”


“Tentu saja dia takut hamil. Siapa yang mau hamil di usia yang masih muda”.


“Apakah itu tidak melukai harga dirimu?”


Shuji terdiam. Matanya menerawang. “Siapa yang mau mengandung anak dari lelaki seperti ku, Tuan? Anda pasti sudah mengetahui apa pekerjaan sampingan ku ”.


“Kalian sudah lama berteman?"


“Sudah”.


“Berapa lama?”


“Sekitar 3 tahun lebih”.


“Sudah berapa kali kalian melakukan itu?”


“Malam itu kali pertama, Tuan”.


“Setelah Adriana meninggalkanmu, kau tidak mengejarnya?”


“Aku mengejarnya, tapi dia sudah tidak ada “.


“Kenapa mengejar seorang wanita saja, kau bisa lama sekali?”


“Aku kan harus mengenakan kembali celanaku. Sedangkan Adriana tidak menanggalkan sehelai pakaian pun. Aku hanya menyingkap sedikit dressnya”.


“Cih. Alasanmu seperti tidak masuk akal. Kemudian, Setelah malam itu, kau tidak bertemu dengannya lagi?”


“Aku sudah menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Nomor telepon apartemennya juga tidak di angkat.”


“Kau tidak mencarinya ?”


“Aku tidak sempat, Tuan. Aku harus bekerja. Aku pikir dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya”.


“Setelah apa yang kau lakukan padanya? Tidak ada perasaan bersalah sedikitpun?”


“Kami melakukan atas dasar suka sama suka. Dia yang memaksaku. Masa aku menolak, Tuan”.


“Tapi kan dia temanmu?”


“Kami teman tapi mesra, Tuan”.


Dasar buaya. Gumam Kaoru


“Teman tapi mesra, kenapa baru pertama kali melakukan itu? Aneh sekali”.


“Kalau hanya berpegang tangan dan cium pipi itu sudah biasa kami lakukan. Kalau melakukan hal itu memang kali pertama bagi kami, Tuan".


“Apakah kau memiliki bukti dan saksi yang bisa mendukung alibimu? Adakah orang lain yang melihat bahwa Adriana pergi meninggalkanmu malam itu?”.


“Aku tidak tau, Tuan. Malam itu aku tidak melihat siapapun. Sebenarnya apa kesalahanku sehingga anda menemuiku? Apakah Adriana melakukan tuntutan terhadap apa yang sudah terjadi malam itu?”


“Tidak. Adriana tidak melakukan tuntutan apa-apa.”


“Sukurlah kalau begitu” Shuji menghembuskan nafas lega.


“Tapi kau menghadapi masalah yang lebih serius”.


“Masalah apa, Tuan?”


“Adriana ditemukan tidak bernyawa 2 hari kemudian. Dan kau adalah orang terakhir yang terlihat bersamanya. Dan jika dari hasil uji laboratorium, ada DNA mu yang tertinggal di tubuhnya, itu juga akan semakin mempersulit posisimu. Sebaiknya kau mulai mencari pengacara untuk membantumu, seandainya semua bukti mengarah dan memperberat dirimu. Tuduhannya sangat berat. Pembunuhan”


Tubuh Shuji melemas. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Tiba-tiba ruangan itu dirasanya sebagai ruang hampa yang minim udara.