
Tips membaca : Alur yang akan aku gunakan beberapa bab selanjutnya adalah alur maju - mundur cantik. Happy reading all... 🚶🚶🚶
🧨🧨🧨
Ren menulis di lembaran kedua diarynya, betapa bahagia hatinya, ketika “mereka” menghabiskan malam bersama menyaksikan pesta kembang api tahunan di Osaka setiap sabtu pertama bulan Agustus, di Yodogawa river.
Duduk di sisi sungai bersama dengan kerumunan penonton lain yang berkeringat, “mereka” menyaksikan pertunjukan spektakuler yang menghias langit Osaka, beberapa detik sebelum pukul 8 malam. Kegiatan tahunan ini berada pada peringkat 10 kembang api paling populer di daerah Kansai, dan menjadi acara paling ditunggu di Osaka. Hampir 500,000 orang datang melihat pertunjukan kembang api luar biasa di acara yang telah ada sejak 1989.
Penonton yang berkerumun terlihat bersemangat dalam yukata terbaik mereka. Tercium bau sosis panggang dari penjual makanan jalanan, terdengar suara penuh keriangan dan kesenangan dari anak-anak yang duduk di pundak orang tua mereka, tidak sabar menunggu untuk karya besar yang dilukis di langit gelap Osaka.
Ren terpesona dengan kreativitas pengrajin kembang api yang mendesain berbagai macam kembang api untuk menghiasi langit gelap musim panas. Ren merasa menjadi bagian dari keluarga besar (bersama kerumunan besar kelompok orang yang datang dari seluruh Jepang), menunggu dengan sabar untuk peluncuran kembang api ke langit.
Ren menikmati pengalaman langka dengan benar-benar terbenam dalam suasana hati gembira orang Jepang. Semua rasa gelisah akibat terkurung dalam kerumunan orang di malam hari segera hilang ketika melihat anak kecil bertepuk tangan dan menjejakkan kaki kecil mereka setiap kembang api diluncurkan.
Favorit Ren adalah kembang api yang mengalir seperti air terjun dari langit. Ia juga menyukai kembang api yang khusus menggambarkan karakter terkenal dari komik Jepang seperti Kitty-chan dan Doraemon, dengan tembakan kembang api tanpa henti ke langit selama 10 detik. Malam hari terasa seperti siang hari dan selama 50 menit ada perasaan terharu dengan panorama raksasa di langit malam musim panas.
Pulang dari sana, Ren meminta pada Yusa untuk membelikannya buku catatan yang sempat ia lihat waktu menuju Yodogawa river di sebuah toko buku. Buku catatan yang bersampulkan Tokyo Tower yang sangat disukainya. Tokyo Tower merupakan replika menara Eiffel berwarna oranye terang sebagai landmark kota Tokyo yang paling terkenal.
Pada masanya menara ini adalah bangunan menara baja tertinggi di dunia selama 51 tahun sebelum digantikan oleh Tokyo Skytree. Walaupun begitu Tokyo Tower tetap dicintai oleh rakyat Jepang. Dan Ren berkeinginan suatu saat nanti akan menginjakkan kakinya ke sana.
Di lembaran berikutnya, Ren Takahashi menuliskan kisah awal ia datang ke keluarga Nobou. Kisah itu dimulai pada suatu peristiwa yang terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu.
“Ampun, Ayah..!!” Tangisan anak lelaki berusia 4 tahun menyayat hati. Semakin kuat anak itu menangis, semakin kuat cambukan yang dia dapatkan. Itulah yang akan dia dapatkan jika “lambat” dalam menyerap pelajaran yang di berikan sang ayah. Anak berusia 4 tahun di paksa harus bisa membaca, menulis dan berhitung. Pada usia anak untuk bermain, ayahnya berharap terlalu banyak dengan anak seusia itu. Anak kecil itu bernama Yusa.
Anak itu mengusap air mata dengan punggung tangannya. Sesegukan menahan sakit yang teramat sangat. Pada akhirnya ia hanya bisa diam. Tidak ada yang menolong jika itu terjadi. Punggung dan kakinya menjadi saksi, betapa kejam perlakuan sang ayah padanya. Hal itu berlangsung setiap hari.
Ren menuliskan, dialah yang datang pada hari-hari berikutnya ketika jadwal Yusa untuk belajar dengan ayah Benjiro. Dan undur diri ketika jam pelajaran itu telah selesai. Yusa yang termangu-mangu dengan buku di tangannya yang mendapat nilai sempurna oleh sang ayah, hanya bisa terdiam bingung di kamarnya.
“Apa yang terjadi, Nanny?”
Nanny dengan lembut mengusap kepala Yusa dan mengatakan bahwa ia berhasil membuat sang ayah tersenyum. Yusa diam termangu. Ia tidak merasa telah melakukan sesuatu. Ingatan terakhirnya adalah saat ia tidur di malam hari dengan Nanny di sampingnya.
Yusa yang kurang kasih sayang sejak kecil dari kedua orang tuanya, mendapatkan sedikit kasih sayang dari pengasuhnya. Wanita paruh baya itulah yang dengan sukarela menghapus air mata di pipinya, memberikan pelukan saat Yusa butuhkan tempat menghilangkan perasaan sedih, takut, kecewa, dan marah. Ia juga dengan sukarela mendengarkan setiap celoteh yang keluar dari mulut mungil Yusa tanpa interupsi dengan penuh minat.
“Yusa sayang, kemarilah”. Wanita lembut itu akan merentangkan tangannya begitu Yusa kembali ke kamar setelah “belajar” bersama ayahnya.
Wanita itu juga yang mengobati luka-luka di tubuh Yusa akibat cambukan sang ayah saat dia dengan keterbatasan pengetahuan, melakukan hal yang salah menurut ayahnya.
Pada saat-saat itulah, Nanny, begitu Yusa memanggilnya, dengan sangat sabar memandikannya, menyuapi dan meninabobokan sampai ia tertidur.
Hati Yusa hancur ketika sang pengasuh meninggal dunia saat ia berusia 7 tahun. Jiwanya seakan ikut bersama jasad Nanny yang terbakar dan menjadi abu.
Belakangan Yusa baru mengetahui, bahwa pengasuhnya itu telah lama mengidap penyakit kronis yang telah menggerogoti tubuhnya. Dokter telah lama menyarankan untuk melakukan perawatan dan pengobatan di rumah sakit. Namun, karena rasa sayangnya yang begitu besar pada Yusa, ia memilih untuk terus bekerja agar bisa menemani hari-hari majikan kecilnya yang suram. Ia mengabaikan rasa sakit ketika bersama Yusa, agar bisa menghibur dan menguatkan jiwa Yusa yang rapuh. Sampai pada suatu ketika, tubuh ringkih itu pun menyerah dengan penyakit yang telah bersemayam di raganya. Ketika pagi hari, Yusa yang terbangun dari tidurnya, mendapati sang Nanny tidur dan tidak bangun lagi dalam posisi duduk dengan kepala beralaskan tangan di ranjang Yusa. Yusa yang tidak mengerti hanya bisa memandangi para asisten rumah tangga ayahnya beramai-ramai menggotong tubuh pengasuhnya itu, ke rumah belakang khusus pelayan. Di sanalah mereka melakukan ritual upacara pemakaman, kemudian membawa jenazah ke krematorium.
Sungguh terpukul jiwa Yusa. Saking terpukulnya ia tidak bisa berkata-kata. Tanpa ada air mata yang menetes di pipinya.
Pada saat jenazah di masukkan ke krematorium, tubuh kecil Yusa berlari menuju peti yang berlahan masuk ke lubang besar. Sebuah tangan besar dan kuat menyentak tubuh kecilnya dan menariknya ke belakang. Pandangannya seketika kabur, berlahan memudar dan gelap.
Tangan yang menariknya itu adalah tangan Sota. Ren yang menyaksikan kejadian itu hanya diam. Ren mengatakan, Sota mengantikan Yusa selama beberapa waktu. Hingga Yusa tersadar sudah berada di bangku kelas 2 sekolah dasar.
🗼🗼🗼