
Keiko meninggalkan tempat itu sambil memeluk lunch box miliknya. Ia memilih kembali ke ruangannya. Menyelamatkan hatinya yang merasakan perih.
“Dokter Keiko !!” Dokter Masao memanggil sembari mempercepat langkahnya. Keiko refleks memutar tubuhnya begitu mendengar seseorang memanggil namanya.
“Kenapa pergi. Kau tidak ikut perayaan ulang tahun Takagi ?”
“Ramai sekali di sana. Nanti saja” Sambil tetap berjalan menuju ruangannya.
“Oh begitu. Kau membawa apa itu?”Tanya Masao menunjuk dengan matanya pada lunch box yang ada dalam pelukan Keiko.
“Oh ini. Bukan apa-apa” Keiko mempercepat langkah kakinya.
“Kalau tidak ada yang akan memakannya, untukku saja, Dok. Aku kebetulan belum sarapan” Masao ikut mempercepat ayunan kakinya mensejajarkan posisi tubuhnya dengan Keiko.
“Dokter Masao yang terhormat. Ini bekal makan siangku. Aku memasaknya dengan susah payah. Dan aku lagi dalam mode tidak ingin berbagi dengan mu”. Keiko berhenti di depan pintu ruang kerjanya sembari membuka pintu. Melangkah masuk dengan cepat dan meletakkan lunch box di atas meja.
Masao mengikutinya masuk dan duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Keiko.
“Kenapa kau pelit sekali. Apa kau tidak kasian padaku. Kalau nanti aku sakit dan aku tidak bisa merawat Takagi mu lagi, bagaimana ?”
“Di kantin kan banyak makanan enak. Kenapa kau ingin sekali memakan makanan milikku?".
Tatap Keiko sambil duduk bersidekap.
“Aku ingin mencoba makanan buatan mu. Aku yakin itu pasti enak sekali”.
“Kenapa kau yakin sekali? Apa kau tidak takut nanti akan sakit perut? Makanan itu menu yang aku sesuaikan dengan seleraku. Di dalamnya telah aku tambahkan bubuk cabe papper x*”. Tatap Keiko tajam.
Masao menelan ludahnya. Wajahnya seketika memucat. “Benarkah? Aku baru tahu kau ternyata penyuka makanan pedas”.
“Banyak yang kau tidak ketahui tentang aku Dokter. Kalau kau berani memakannya, silahkan. Aku tidak menjamin kau akan baik-baik saja. Dan aku tidak mau bertanggung jawab jika hal buruk menimpamu” Keiko menyodorkan lunch box nya kepada Masao.
“Tidak jadi kalau begitu. Aku belum siap mati muda, Dok” Masao mendorong kembali lunch box itu kepada pemiliknya.
Keiko tertawa mendengar jawaban dan ekspresi Masao.
“Kenapa kau tertawa, apa yang lucu?”.
“Wajahmu yang ketakutan itu, lucu sekali begitu mendengar kata cabe”.
“Aku pernah memiliki pengalaman buruk dengan buah mengerikan yang kau sebutkan itu, Dok.” Ungkap Masao murung.
“Benarkah?”
“Hum. Waktu itu Aku menerima tantangan teman-tamanku untuk memakan ramen pedas level 5. Karena malu dikatakan pengecut, aku menyanggupinya. Akibatnya, aku harus mendapat perawatan di rumah sakit selama satu minggu".
“Sudah lama sekali. Waktu aku masih duduk di bangku sekolah menengah”.
Masao memandang lekat wajah Keiko.
"Dokter, kau tahu kalau kau itu cantik sekali".
Keiko terkejut mendapat pujian yang tiba-tiba itu. Ia berusaha menanggapinya dengan wajar. "Aku tau. Banyak yang bilang begitu". Jawab Keiko dengan ekspresi percaya diri.
"Seharusnya jawaban mu tidak seperti itu, Dok"
"Lalu aku harus jawab apa? Oh ya? Begitu maksud mu?".
"Ia. Kau harus menjawabnya dengan oh ya? Kemudian diikuti ekspresi wajah memerah".
Keiko memutar matanya. "Kau itu seperti remaja korban dorama** saja, Dok".
Drrrttt. Tiba-tiba ponsel Masao di dalam saku celananya bergetar. Masao mengambil ponsel itu dan melihat layar ponselnya yang menyala.
“Sebentar. Aku angkat telepon dulu”.
“Silahkan, Dokter”.
Masao menyentuh tombol hijau di layar ponsel. “Ya Halo. Masao di sini. Hmm.. Baiklah. Aku segera ke sana” Masao menyimpan kembali ponsel di dalam saku celananya.
“Well. Pembicaraan kita harus diakhiri, Dok. Tugas negara telah memanggil” Masao bangkit dari duduknya dengan wajah kecewa.
“Semangat, Dok”.
“Senang sekali kita bisa ngobrol seperti ini. Lain kali boleh aku mengajakmu keluar, makan malam mungkin?”
“Aku tidak tahu, Dok. Kau tau pekerjaan kita seperti apa. Aku tidak berani berjanji padamu”.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan menantikan saat itu. Aku pergi dulu” Masao pun berlalu meninggalkan Keiko dengan rasa gundah di hatinya yang sedari tadi ia sembunyikan.
***
* Cabai paling pedas memiliki level kepedasan lebih dari 1.000.000 SHU. SHU atau Scoville Heat Unit sendiri adalah ukuran tingkat kepedasan cabai yang diperkenalkan oleh Wilbur Scoville. Skala SHU menunjukkan jumlah capsaicin, zat penghasil rasa pedas yang terkandung pada sebuah cabai.
Pepper X (3.180.000—3.200.000 SHU)
Gelar cabai terpedas di dunia jatuh pada pepper X. Cabai ini disilangkan oleh 'Smokin' Ed currie. Tingkat kepedasannya sekitar 3,18 juta SHU atau sekitar 31 kali lebih pedas daripada cabai rawit biasa. Dilansir Oddity Central, Ed mencoba memformulasikan pepper X lebih dari 10 tahun yang lalu dengan menyilangkan berbagai varietas cabai yang ada. Karena tingkat kepedasannya melebihi 3.000.000 SHU, cabai ini sangat berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi. Karena itulah, pepper x dijual dengan aturan ketat.
** Drama televisi Jepang (テレビドラマ terebi dorama) atau dorama (ドラマ) adalah program drama yang ditayangkan di stasiun televisi Jepang. Jaringan televisi utama di Jepang memproduksi serial drama dalam berbagai tema, misalnya kehidupan sekolah, komedi, misteri, dan kisah detektif.