Looking For Murder

Looking For Murder
Yana, Aku Mohon. Jangan Menolakku Kali Ini



Yana berdiri menghadap jendela besar sambil bersidekap di ruangan yang dahulu pernah digunakan oleh mendiang suaminya, Benjiro Nobou. Dengan kepergian suaminya itu, Yana harus mengambil alih tanggung jawab yang dahulu diemban Benjiro.


Tap .. Tap .. Tap.. Langkah kaki terdengar mendekat dan berhenti di samping Yana pria itu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana panjang yang dikenakannya.


"Apa yang kau pikirkan ?" Teramae membuka pembicaraan mereka.


"Waktu begitu cepat berlalu. Benjiro corp telah menjadi milikku sepenuhnya. Sebentar lagi putriku pun akan bebas. Tanggung jawabku akan semakin besar. Aku ingin menghabiskan banyak waktu bersama Hikari, putriku. Menebus waktu-waktu kebersamaan kami yang hilang. Aku khawatir tidak punya waktu untuk melakukan itu semua disebabkan kesibukan ku yang kian bertambah." Jawab Yana tanpa menoleh pada pria di sampingnya itu.


"Yana.."


"Hmmm.. "


"Aku bersamamu selama ini. Selalu ada di sampingmu. Bahkan setelah kau menikah dengan mendiang Benjiro pun aku selalu ada untukmu." Teramae menghela nafas. "Yana. Berbagi bebanlah bersamaku." Ucapan Teramae membuat wanita itu menoleh padanya.


Teramae mengeluarkan sebuah box kecil warna biru tua dari dalam saku celananya. Sambil berlutut pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu membuka kotak kecil yang digenggamnya. Sebuah cincin emas bertahtakan berlian berwarna biru tersemat di sana.


"Ya na. Kekkon shite kudasai .. ? ( Yana, maukah kau menikah dengan ku ?)


Yana menatap Teramae dengan tatapan tak percaya. Pria yang berpuluh tahun selalu bersamanya itu, melamarnya dengan cincin bermahkota batu termahal di dunia. "Begitu berartikah diriku di mata Teramae?" Tak terasa air bening mengalir begitu saja dari sudut matanya.


"Aku telah menunggumu begitu lama. Yana.. aku mohon jangan menolakku kali ini."


"Oh.. Teramae..." Yana tak dapat berkata-kata. Jujur dalam hatinya, ia tidak pernah merasakan getaran seperti yang ia rasakan pada Benjiro, ketika ia bersama Teramae. Tapi rasa nyaman yang Teramae tawarkan padanya selama ini tidak mampu Yana tolak. Tatapan mendamba yang Yana lihat dari sorot mata Teramae, mengusik relung hatinya. Apa lagi yang aku harapkan dari seorang pria di saat usiaku yang tak lagi muda ini? Apa yang telah Teramae berikan selama ini, sudah lebih dari cukup.


"Iya. Aku mau. " Ucap Yana pelan.


"Oh.. Sayang. Terimakasih." Teramae bangkit dan meraih tubuh Yana dalam dekapannya. Erat. Berputar-putar di tempat seperti komidi putar. Kedua kaki Yana terangkat dan ikut berputar mengikuti gerak tubuh Teramae. Yana bergeming melihat reaksi Teramae yang begitu bahagia.


"Terimakasih sayang, terimakasih." Teramae melepaskan dekapannya, kemudian ia mengambil cincin indah yang telah ia persiapkan sejak lama itu dan menyematkannya di jari manis Yana.


"Pas sekali." Ucap Yana melihat cincin indah yang tersemat di jemari tangannya.


"Bolehkah aku meminta ciuman ku? " Ucap Teramae malu-malu. Yana menatap pria yang baru saja menjadi tunangannya itu. Tiba-tiba pikiran jahilnya menyeruak. Yana mengetahui kalau Teramae belum pernah melakukan hal itu sebelumnya. Yana ingin menguji seberapa hebat Teramae melakukannya. "Boleh." Jawab Yana dengan senyum menggoda. Keduanya saling bertatap dengan jarak yang sangat dekat. Semakin lama tatapan itu semakin dalam dan saling mengunci. Sampai akhirnya Teramae maju selangkah, mengikis jarak antara di antara mereka. Satu tangannya mengusap pipi kemerahan milik Yana, dan tangan yang lain merengkuh pinggang Yana, membawanya semakin dekat.


Ia mengarahkan tatapan hanya tertuju pada kedua bola mata indah Yana. Memandang dengan tatapan memuja dan penuh cinta. Hingga akhirnya Yana memejamkan kedua matanya. Dengan pelan dan selembut mungkin Teramae menundukkan wajahnya mengecuup sekilas, merasakan manisnya bibir merah Yana. Seulas senyuman tersungging di bibir Teramae. Dengan halus ia meluumat bibir wanita dalam pelukannya itu. Memeluknya semakin rapat hingga tak berjarak. Begitu ia merasa tidak ada penolakan dari Yana, perlahan ia mengigit kecil bibir Yana memancingnya agar membuka mulut nya. Dan benar saja, perlahan bibir Yana mulai terbuka. Dengan lembut Teramae menyusupkan lumba-lumba kecilnya ke dalam bibir manis itu menjelajah dan menyesap sebanyak mungkin. Yana tampak pasrah. Bahkan kedua lengannya menggantung di leher Teramae agar ia tidak terjatuh akibat ciuuman yang lembut nan panas itu. Semakin lama ciuuman itu semakin dalam. Paguutan di bibir mereka berhenti ketika oksigen di paru-paru mereka menipis. Keduanya terengah dengan dahi saling menempel. Yana membuka kedua matanya. Dalam hati ia berkata... Bibirnya, aroma nafasnya, semua beraroma mint. Sepertinya semua yang ada di dirinya akan menjadi candu bagiku.


"You are willy good kisser." Pujian Yana, sukses membuat Teramae tertunduk malu.


🍀🍀🍀


Tok..Tek... Tok.. Tek... Tok...


Dengan langkah Yana tegas menyusuri koridor rumah sakit jiwa. Di belakangnya, Teramae mengukuti. Tepat depan sebuah kamar berjeruji yang berada di sudut ruangan, Yana menghentikan langkahnya.


"Benar di sini kamar rawatnya?" Tanya Yana pada Teramae.


"Menurut Kimi managernya, memang di sini."


Tak berapa lama kemudian seorang wanita yang mengenakan pakaian perawat datang mendekat.


"Ada yang bisa aku bantu, Nyonya?"


"Boleh aku mengetahui siapa wanita yang di dalam sana?"


"Mohon maaf, kalau boleh aku tahu, Tuan dan Nyonya ini siapa ya? Karena kami tidak bisa menyampaikan identitas pasien yang ada di sini ke sembarang orang. Hal itu menyangkut privasi pasien kami."


"Aku Yana Nobou. Dan ini pengacara ku, Takeshi Teramae. Dari informasi yang kami peroleh, kalau di sini adalah kamar rawat artis ku, Clarisha. Apakah itu benar?"


"Iya benar, Nyonya. Pasien yang di dalam sana itu adalah Nona Clarisha."


"Bolehkah aku mengetahui bagaimana kondisinya saat ini?"


"Ya seperti yang Nyonya lihat. Sejak pertama masuk ke sini, beberapa bulan yang lalu, Nona Clarisha sudah seperti itu. "


"Menurut diagnosa dokter yang merawatnya, dia sakit apa?"


"Depresi berat, Nyonya."


"Kenapa hal itu bisa terjadi?"


"Kemungkinan besar karena dia tidak sanggup menerima keadaan yang saat ini terjadi. Sehingga jiwanya terguncang."


"Apa karena kematian suamiku Benjiro dan komentar netizen yang menyerangnya di sosial media ?" Tanya Yana dengan tatapan tajam.


"Kemungkinan memang demikian, Nyonya. Kalau Nyonya ingin mengetahui lebih detail, anda bisa menanyakan langsung kepada dokter yang merawatnya."


"Aku rasa tidak perlu. Kedatanganku ke sini, sebenarnya untuk memastikan keadaan Clarisha. Karena walau bagaimanapun juga, dia itu model yang masih terikat kontrak dengan perusahaanku. Berikan perawatan yang terbaik padanya. Soal biaya, kalian bisa mengajukan pada perusahaan kami. Oh iya. ini kartu namaku." Yana mengambil sebuah kartu dari dalam handbag miliknya. " Kalau ada apa-apa, hubungi aku di nomor yang tertera di sini."


"Baik, Nyonya."


"Kalau begitu kami permisi dulu. Masih ada pekerjaan lain yang harus segera kami selesaikan."


"Baik. Nyonya. "


Yana dan Teramae pun undur diri, meninggalkan rumah sakit menuju lapas wanita untuk menjemput Hikari pulang. Ya pada hari itu, Hikari mendapatkan kebebasannya, setelah pembebasan bersyarat yang diajukan Teramae dikabulkan oleh kejaksaan. Sesudah terlebih dahulu Hikari menjalani 2/3 masa tahannya, dari 3 tahun masa hukuman yang harus ia jalani.


Setelah kebebasan Hikari, Yana dan Teramae menggelar pernikahan sederhana yang hanya mengundang rekan-rekan bisnis mereka. Tidak ada bulan madu setelah pernikahan digelar. Mereka sepakat untuk menundanya sampai kondisi Hikari benar-benar stabil dan bangkit dari keterpurukan akibat ditinggalkan kekasihnya, Sora.


Untuk itu Yana memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan fokus menjadi ibu rumah tangga. Ia melimpahkan tugas dan tanggung jawabnya di perusahaan pada sang suami. Pasangan pengantin baru ini bertekad, mereka akan mengembalikan orientasi seksuual putri mereka sesuai dengan kodratnya, dengan menciptakan lingkungan rumah tangga yang hangat dan penuh cinta.


...****************...