
Sudah 2 bulan berlalu sejak pencarian terhadap Yusa di hutan Aokigahara dihentikan, polisi mencari kemungkinan lain, dengan memasukkan Yusa ke dalam daftar pencarian orang dan mengeluarkan surat pencegahan dan penangkalan (cekal), sehingga Yusa tidak bisa masuk atau keluar dari wilayah Jepang.
Pagi itu di kantor kepolisian Osaka, Geo datang meminta kepastian atas nasib pelaku pembunuhan adiknya.
“Pelaku sudah diketahui, kenapa belum juga ditangkap !?” Geo bertanya dengan penuh emosi.
“Kami sedang berusaha, Tuan. Bersabarlah.” Jawab Kaoru.
“Sampai kapan?”
“Ada apa ini?” Takagi baru saja tiba di kantor, mendapati ada keributan kecil di front office kantor kepolisian Osaka.
“Tuan Geo, apa kabar? Sudah lama sekali ya, kita tidak bertemu?”
“Maaf Detektif, aku sedang tidak ingin berbasa-basi dengan mu.”
“Baik, Tuan. Bagaimana kalau kau ikut ke ruanganku.”
“Ayo..” Geo yang tidak sabar, berjalan mendahului Takagi. Begitu tiba di depan pintu kantor Takagi di lantai 2, Geo berhenti. Menunggu Takagi membukakan pintu untuknya.
“Mari Tuan silahkan masuk.” Takagi membuka pintu, dan mempersilahkan Geo masuk. Geo pun masuk dan langsung duduk di kursi yang ada di depan meja Takagi.
“Kenapa kalian lambat sekali menangkap pelaku pembunuhan adikku?” Tanpa basa-basi, Geo langsung pada pokok permasalahan yang ia ingin tanyakan.
“Kami sedang berusaha, Tuan. Kami juga sudah memasukkan tersangka ke dalam daftar pencarian orang, dan melakukan pencekalan. Begitu juga dengan apartemen tersangka dan rumah kedua orang tuanya, masih terus kami awasi. Jika sewaktu-waktu Yusa kembali, kami langsung menangkapnya. Begitu ada perkembangan terbaru, akan langsung kami kabarkan padamu.”
“Jawaban klasik. Aku sudah bosan mendengarkannya. Jangan salahkan aku, jika aku bertindak sendiri.” Geo berdiri dari kursinya dan melangkah keluar ruangan.
“Tuan jangan berpikir untuk melakukan hal-hal yang melanggar hukum. Karena aku tidak akan segan-segan menangkap mu jika terbukti bersalah.”
Geo hanya tersenyum sinis pada Takagi. Kemudian ia pergi meninggalkan ruangan itu.
Takagi menghela nafasnya. Ia berusaha memaklumi apa yang dirasakan Geo. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan. Apalagi yang pergi untuk selamanya dengan cara yang tidak wajar adalah adik kandungnya sendiri. Bertahun-tahun Takagi juga pernah merasakan kesedihan yang tak bertepi, karena pelaku tabrak lari putrinya masih berkeliaran di luar dan menghirup udara bebas. Di tengah keputusasaan itu, seakan-akan Tuhan menjawab do'a-do'anya. Atas bantuan Satoshi Nomura, ia memperoleh jalan keluar (ada di bab 28 dan 45). Pelaku tabrak lari putrinya berhasil diserahkan oleh Satoshi dan saat ini sedang menjalani proses peradilan.
🐢🐢🐢
Sementara itu jauh 407,5 km dari kota Osaka, seorang pria terlihat keluar dari dalam hutan Aokigahara. Pria itu adalah Yusa.
Begitu sampai di luar, Yusa merasakan kelegaan luar biasa. Buru-buru ia berlari menyeberangi jalan menuju halte. Sialnya, bus yang akan ditumpanginya baru saja pergi lima belas menit yang lalu. Ia berdiri seorang diri di halte tak berpenghuni. Memandang Aokigahara tepat di hadapannya. Entah mengapa, angin di luar malah sangat kencang, di dalam hutan pohon tidak bergerak sama sekali. Ia merapatkan mantel dan menggoyang-goyangkan kaki agar tidak kedinginan. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Bus belum datang juga.
Dengan hati gelisah Yusa menunggu bus yang belum juga tiba, ia teringat kembali dengan peristiwa yang baru saja dialaminya. Sota yang saat itu menguasai tubuh Yusa, membawa tubuh Yusa pergi, setelah gagal melakukan bunuh diri (bab 61). Ia merasakan perasaan tidak nyaman akibat dikelilingi pohon-pohon berbaris rapat yang hampir menutupi cahaya matahari dan meredam suara-suara bising. Hutan ini tampak mengerikan, gelap, dan terlalu sunyi. Seolah-olah ada sebuah pintu tak terlihat yang menutupi.
Sota yang berjalan dengan langkah cepat, karena “mereka” sepertinya hanya memiliki waktu sejam sebelum gelap. Setiap kali berhenti untuk beristirahat, langsung timbul perasaan gelisah disebabkan kesunyian yang memekakkan telinga. Sota berjalan dengan langkah berat, supaya suara sepatunya bergema, seraya menemani berjalan dalam kesunyian.
Dari sudut pandang kanan matanya, ia melihat tali plastik terikat ke batang pohon di kedalaman hutan. Lalu ia teringat sebuah tulisan di internet yang mengatakan, hutan Aokigahara akan mencoba untuk menggoda mu masuk dan membuatmu selalu ingin menelusurinya hingga kamu tersesat di dalamnya. Ia merinding teringat hal itu. Saat itulah Sota memutuskan untuk kembali ke belakang.
Ketika berjalan menuju jalan pulang, Sota melihat seorang perempuan muda, seorang asing bukan warga Jepang. Wanita itu berdiri diam. Tangannya sedang menyisir rambutnya. Pemandangan yang tak biasa itu membuat Sota takut melihatnya dan hampir saja lompat. Perempuan itu menoleh ke arah Sota dan tersenyum. Sota tersenyum balik dan menganggukkan kepala kepada perempuan itu, kemudian melanjutkan langkahnya. Sota berpikir, apa yang dilakukan wanita itu merupakan suatu hal yang ganjil dilakukan di dalam hutan. Tak berapa lama kemudian, dia merasakan kehadiran aneh datang di belakangnya. Ia tidak punya waktu untuk bereaksi sebelum dia diangkat dan terlempar ke tanah yang diselimuti akar dan lumut. Hantaman itu membuatnya tidak sadarkan diri, tampak seolah-olah telah mati. Yurei* itu rupanya puas mengira dia telah membunuh Sota dan ia langsung menghilang.
Beberapa lama kemudian, Yusa terbangun dengan merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Tertatih-tatih ia berjalan mencari jalan keluar, hingga ia merasa lelah. Ia merasakan seperti berputar-putar di tempat, jalan keluar tidak juga ia temukan. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat seorang biksu berjalan di depannya. Yusa mempercepat langkahnya mendekat ke arah biksu.
“Permisi Bhante (sapaan akrab untuk biksu)." Yusa memberanikan diri menyapa biksu itu.
“Amida Nyorai (Buddha dengan cahaya tidak terbatas). Ada apa anak muda.” Sambil menautkan tangan kanannya ke dada, tangan kirinya sedang menggenggam O-Juzu atau O-Nenju (tasbih dalam agama Buddha)**.
“Bisakah kau menolongku ?”
Biksu itu memandang Yusa dari atas hingga ke bawah tubuhnya.
“Apakah kau sedang tersesat anak muda?”
“Benar Bhante.”
“Baik. Ikuti aku.” Biksu berjalan pelan di depan Yusa. Mereka melewati pohon-pohon besar dan rapat yang berusia ribuan tahun. Berjalan tanpa henti, selama hampir satu jam. Tak berapa lama kemudian, dari kejauhan Yusa melihat jalan raya membentang di hadapannya di balik rimbun pepohonan. Biksu itu berhenti berjalan 10 meter dari tepi jalan.
“Kau sudah melihat jalan itu? Aku sampai di sini mengantarkan mu. Hiduplah dengan baik anak muda. Amida Nyorai (Buddha dengan cahaya tidak terbatas).” Menautkan tangan kanannya ke dada sambil menundukkan kepalanya.
“Terimakasih Bhante.” Yusa membungkukkan tubuhnya. Kemudian ia melangkah meninggalkan biksu itu. Baru beberapa langkah Yusa beranjak, refleks ia membalikkan tubuhnya. Namun Yusa tidak menemukan biksu yang telah menolongnya berada di tempat ia meninggalkannya tadi.
🌳🌳🌳
*Yūrei (幽霊) adalah figur dalam cerita rakyat Jepang, yang sepadan dengan hantu.
** Umat Buddha di negara Jepang mengenal dengan nama Juzu atau Nenju yang mana keduanya diawali dengan huruf O yang menyatakan sebuah kehormatan sehingga menjadi O-Juzu atau O-Nenju. Budaya Cina mengenal tasbih ini dengan nama zhu shu yang memiliki fungsi sama untuk menghitung dalam pelafalan mantra.
Juzu digunakan secara berbeda-beda untuk Sekolah agama Buddha yang berbeda, tetapi salah satu penggunaan utama adalah untuk menghitung doa atau sujud. Ini juga merupakan simbol yang berfungsi mengenali seseorang yang mengikuti jalan agama Buddha. Setiap sekolah agama Buddha jenis Juzu tersendiri. Ukuran kecil untuk pergelangan tangan dan yang lainnya berukuran besar. Tasbih ini dapat terbuat dari tulang, kristal, kayu pohon Bodhi, bambu, karang atau bahan lainnya. Jumlah tasbih ini berbeda-beda namun yang paling umum adalah seratus delapan. Seratus delapan mewakili seratus delapan keinginan duniawi.
Arti Dari Juzu
Nichiren Shu Juzu memiliki seratus delapan tasbih dalam satu lingkaran dengan lima jumbai, tiga di satu sisi dan dua di sisi lain. Selain seratus delapan, ada beberapa tasbih khusus. Dua tasbih besar mewakili Buddha Shakyamuni dan Buddha Taho. Empat tasbih yang lebih kecil di lingkaran utama mewakili empat Bodhisattva dari bawah alam. Juzu juga mewakili orang tersebut. Jumbai mewakili kepala, lengan dan kaki. Ini mengingatkan bahwa kita terdiri dari seratus delapan keinginan.
Ada beberapa jenis Juzu yang digunakan oleh Nichiren Shu. Jenis-jenis ini berbeda jumbainya. Pertama, digunakan oleh pengikut awam dan memiliki lima jumbai dengan bola masing-masing ujung. Kedua, digunakan oleh para imam dan memiliki renda dengan jumbai di atas bola pada ujungnya. Ketiga, memiliki jumbai seperti yang pertama, namun lebih panjang. Jenis ketiga digunakan oleh para imam yang melakukan berkat khusus, yang disebut berkah Kito.
Mohon koreksi jika ada kesalahan. Yang menanyakan kabar Takagi, itu sudah aku munculkan walau sedikit 🤭. Salam kalian sudah aku sampaikan pada Takagi. Alhamdulillah dia sehat. Takagi titip salam buat reader semua. Katanya dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Insya Allah akan muncul kalau lagi senggang...🚶🚶🚶