Looking For Murder

Looking For Murder
Apakah Hanya Mimpi?



Di sebuah gereja kecil di pinggir kota Osaka, pada hari itu terlihat ramai dari biasanya. Mereka yang datang berpakaian rapi dan elegan dengan warna putih yang mendominasi. Ya pada hari itu, mereka datang bukan untuk beribadah, melainkan untuk ikut serta menjadi saksi bersatunya dua insan yang saling mencintai dalam ikatan suci pernikahan. Setelah serangkaian janji suci yang mereka ucap dihadapan para saksi, kedua mempelai berlutut di depan pendeta. Jemaat yang datang berdiri mendengarkan dengan hikmat prosesi selanjutnya. Pendeta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kepala kedua mempelai untuk melakukan pemberkatan. Kemudian ia berkata :


“Hiduplah menurut janjimu, hayatilah tugas dan tanggung jawabmu dan terimalah berkat Tuhan. Allah, Bapa Tuhan Yesus Kristus yang telah memanggil dan mempersatukan kamu dalam perkawinan ini, akan memberkati kamu dan memenuhi rumah tanggamu dengan kasih karunia Roh Kudus, supaya dalam iman, pengharapan dan kasih, kamu hidup suci dan bahagia selama-Iamanya.” Pendeta berhenti berkata sejenak.“ Sekarang kalian sudah sah sebagai pasangan suami istri.“ Pendeta mengangkat kedua telapak tangannya, dan kedua mempelai pun berdiri. “Silahkan cium pengantinmu."


Sepasang pengantin itu terlihat malu-malu. Saling menatap dengan penuh cinta. Salah satu dari mereka meraih pinggang pasangannya. Wajahnya mendekat. Dengan lembut bibir merah itu mengecup bibir pink milik kekasih hatinya. Aroma manis strawberry dari bibir sang kekasih, menimbulkan efek candu. Melepaskan kecupan itu sesaat, kemudian mengecupnya kembali. Lembut. Untuk beberapa saat mereka tenggelam dalam perjamuan yang memabukkan. Wajah putih bersih itu merona kemerahan. Hati mereka berdua menghangat karena bahagia.


Diiringi lagu Beautiful In White, dengan bergandengan tangan, keduanya berjalan perlahan meninggalkan altar pernikahan.


So as long as I live I love you


Will have and hold you


You look so beautiful in white


And from now ‘til my very last breath


This day I’ll cherish


You look so beautiful in white


Tonight


Menggenggam buket bunga kecil di tangan mereka masing-masing yang diberikan oleh pengiring pengantin. Sahabat dan kerabat berdiri di sepanjang jalanan mereka sambil menabur kelopak bunga beraneka warna. Mereka yang berbahagia terlihat cantik dengan senyuman merekah dibibir. Seorang mengenakan gaun rendan v neck, model kerut di pinggang berbahan brokat dengan lengan terompet berwarna putih memberikan kesan antik dan seksi. Seorang lagi mengenakan dress simpel model mermaid sepanjang lutut dengan aksen tali di pinggang. Tak ketinggalan sepatu heels putih menghiasi kaki-kaki jenjang mereka.



Ya.. itu bukan pernikahan biasa. Pernikahan dua anak manusia yang tidak berbeda jenis. Penyatuan cinta Hikari Nobou dan Fumiko Sora. Dengan wajah penuh kebahagian, pasangan yang sedang dimabuk asmara itu melangkah keluar menuju mobil pengantin yang telah menunggu mereka di depan gereja.


Begitu tiba di tangga gereja, sebuah mobil datang dengan kecepatan tinggi dan berhenti di depan mobil pengantin. Seorang pria yang mengenakan penutup wajah turun dengan cepat dari dalam mobil, menarik paksa Sora. Genggaman tangan mereka terlepas. Sora menggapai-gapai memohon pertolongan. Ia didorong masuk ke dalam mobil. Dalam hitungan detik mobil meninggalkan gereja begitu Sora telah berada di dalamnya.


“Hei...!!” Hanya kata itu yang sempat keluar dari bibir Hikari. Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Mereka yang hadir pun hanya bisa terpaku tanpa sempat berbuat apa-apa. Refleks Hikari melempar buket bunga yang ada dalam genggamannya, dan berlari menuju mobil pengantin, duduk di belakang kemudi. Tanpa membuang waktu ia melajukan kendaraannya, mengejar pria yang telah menculik wanita yang telah sah menjadi istrinya itu. Rasanya, waktu berjalan begitu lambat. Arah yang dituju pun tidak ada ujungnya. Kemanapun ia berkendara, jejak Sora tidak terlihat. Seakan-akan wanitanya dan pria penculik itu telah raib ditelan bumi. Rasa putus asa menyelubungi hatinya.


"Sayang. Kau di mana?"


Dengan derai air mata yang membasahi pipinya, Hikari terus melajukan mobilnya entah kemana. Suasana sekelilingnya seakan suram dalam kegelapan yang tak bertepi.


Teng.. Teng.. Teng ...


Suara jeruji besi dipukul dengan keras. Hikari terbangun dari tidurnya. Meraba pipinya yang basah dengan air mata, Hikari berusaha bangun dan mengumpulkan kesadarannya.


"Hikari Nobou !!" Suara keras sipir penjara memanggil namanya, membantu Hikari membuka matanya dengan lebar.


"Ada telepon dari Nyonya Yana Nobou. Penting !!"


"Baik, Pak."


Hikari segera turun dari atas tempat tidur, menuju pintu sel yang telah terbuka. Seorang sipir pria telah menunggunya di depan sana. Begitu keluar dari pintu sel, ia berjalan mengikuti pria berseragam itu menuju ruang penjaga. Sepanjang jalan Hikari tidak bisa menebak hal penting apa yang ingin ibunya sampaikan, sehingga wanita yang telah melahirkannya itu menghubunginya di waktu yang tidak biasa. Di dalam kepalanya berkelebat potongan-potongan kejadian di dalam mimpinya. Sora sang kekasih hati pergi meninggalkan dirinya entah kemana.


"Silahkan, Nona. Nyonya Nobou telah berada di ujung telepon." Ucap petugas jaga yang telah menunggunya di sana, sambil memberikan ganggang telepon pada Hikari.


Menarik kursi yang ada di dekatnya kemudian mendudukinya, Hikari mempersiapkan dirinya serileks mungkin, untuk menerima kabar apapun dari ibunya.


"Ya, Bu. Aku di sini."


Tangis Yana pecah, begitu suara Hikari terdengar di telinganya.


"Ibu. Apa yang terjadi padamu?" Deg. Jantung Hikari berdegup kencang. Berbagai pikiran buruk menyelubunginya. Apa hal buruk telah terjadi pada keluarga mereka? Kakaknya Yusa ? Benjiro sang ayah? Kekasihnya Sora ? Apakah ini semua ada kaitannya dengan mimpinya? Ada apa ini? Tangis sang ibu menambah buruk suasana hatinya.


"Ibu. Katakan padaku. Ada apa?"


Tidak terdengar jawaban apapun dari Nyonya Nobou. Sejurus kemudian terdengar suara seorang pria meminta izin untuk mengambil alih telepon.


"Halo Nona Hikari. Teramae di sini."


"Ya, Tuan Teramae. Apa sebenarnya yang telah terjadi ? Kenapa Ibuku sampai menangis?"


Dengan suara tenang, Teramae menjelaskan situasi yang saat ini terjadi. Tentang kematian kakaknya Yusa. Tentang keberangkatan mereka menuju Tokyo untuk meminta penjelasan pada aparat penegak hukum sekaligus menjemput jenazah kakaknya itu. Teramae meminta pada Hikari untuk mempersiapkan diri dalam beberapa hari ke depan, mereka akan menyelenggarakan pemakaman Yusa. Teramae berjanji akan mengurus segala sesuatunya agar ia diizinkan untuk menghadiri pemakaman sang kakak.


Hikari terduduk lesu di kursi begitu sambungan telepon itu terputus.


"Kami ikut berduka cita, Nona." Ucap seorang sipir penjara.


"Terimakasih, Pak." Jawab Hikari tanpa melihat ke arah penjaga itu.


"Nona, waktu anda sudah habis ." Ucap sipir yang menjemputnya tadi.


Tanpa banyak bicara, Hikari bangun dari duduknya, dan berjalan mengikuti sipir, untuk kembali ke dalam selnya. Langkah Hikari seakan-akan tidak menapak. Kepergian Yusa yang begitu mendadak, sungguh memukul hatinya. Tidak ada air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Hikari sedih. Ia juga kehilangan. Tapi rasa sedih tidak harus diisyaratkan dengan air mata, bukan? Apakah hal itu disebabkan karena ia dan Yusa tidak begitu dekat secara emosional? Entahlah. Yang Hikari khawatirkan saat ini adalah ibunya. Rasa sayang yang teramat sangat pada sang ibu, membuat Hikari sedih karena tidak bisa menemani disaat-saat sulit seperti saat ini.


...****************...