
Upacara pemakaman di keluarga Nobou berlangsung lebih lama, menyusul kematian Benjiro yang tiba-tiba. Jenazah Benjiro disandingkan dengan jenazah putranya Yusa. Kelelahan jelas terpancar dari wajah Yana. Tidak ada lagi air mata yang membasahi pipi dan mata indahnya. Yana terlihat berusaha tegar menyambut para pelayat yang tidak kunjung usai. Kematian Yusa disusul dengan berpulangnya Benjiro membuat Yana mengerti arti keluarga yang sesungguhnya. Walaupun semasa hidupnya, Benjiro banyak menorehkan luka di hatinya, namun bagaimana pun juga ia adalah ayah dari kedua anaknya. Berpuluh tahun Yana menyandang nama keluarga Nobou dibelakang namanya sendiri. Tidak semudah itu ia akan dengan rela hati melepaskan. Keputusan cerai yang ia ambil atas prahara rumah tangganya, bukan karena tidak ada lagi sedikit pun rasa cinta di hatinya untuk Benjiro, tetapi semata-mata ia hanya ingin mereka berdua berhenti untuk saling menyakiti.
🥀🥀🥀
Di bawah guyuran hujan, penguburan abu jenazah Benjiro dan Yusa dilakukan di kompleks pemakaman milik keluarga Nobou di pinggir kota Osaka, beberapa hari kemudian. Berlindung di bawah payung yang dipegang Hikari, Yana memeluk dua pasu yang berisi abu jenazah Benjiro dan Yusa, sebelum diletakkan di dalam makam. Tetesan air hujan yang membasahi bumi, seakan mewakili suasana hatinya saat itu. Teramae berdiri di samping Yana dengan memegang payungnya sendiri. Pria baik hati itu dengan setia selalu berada di dekat Yana baik dalam keadaan suka apa lagi pada saat duka.
Dengan mendekap erat tubuh ibunya, mata Hikari memindai orang-orang yang hadir di pemakaman saat itu, mencari sosok Sora. Sampai proses pemakaman berakhir pun, wujud Sora tidak pernah terlihat. Telah berbulan-bulan ia tidak pernah bertemu dan mendengar suara kekasih hatinya itu, sejak terakhir kali mereka bertemu ketika Sora mengunjunginya di penjara. Hikari telah mencoba berkali-kali menelepon Sora, tetapi nomor ponselnya tidak dapat dihubungi. Ia juga telah mengutus seseorang menemui Sora di apartemennya, tapi wanita itu sudah tidak tinggal lagi di sana. Orang suruhannya pun telah mencari ke rumah sakit tempat Sora bekerja, tetapi wanita itu tercatat telah resign dari sana. Hikari merasakan putus asa. Apalah dayanya yang masih terkurung di dalam jeruji besi. Ingin rasanya ia mencari tau keberadaan Sora sampai ke ujung dunia sekalipun dengan tangannya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kenyataan yang ia temui saat ini, hampir sama dengan mimpinya. Sora bak hilang ditelan bumi.
🍀🍀🍀
Dengan menggunakan baju tahanan, Shuji meringkuk di sudut sel kantor polisi. Bagai berada di dalam mimpi, Shuji merasa dunianya berbalik 180°. Rasa ingin tahunya malam itu, membawa dia ke dalam jurang penyesalan yang dalam. Ucapan sang ibu sesaat sebelum menemui ajal, terngiang kembali di telinganya.
"Shuji. Berjanjilah kau akan hidup dengan baik." (Bab 32)
"Maafkan aku, Ibu." Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Shuji baru paham saat ini maksud dari pesan terakhir sang ibu padanya. Ibunya mengharapkan ia hidup menjadi orang baik, bukan hidup atas kebaikan orang-orang. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Apakah ia harus menyusul ibunya ke alam baka? Tidak. Ibunya pasti tidak menginginkan hal itu terjadi pada dirinya. Ia berpesan bahwa Shuji harus hidup menjadi orang baik. Bukankah untuk menjadi orang baik, tidak berarti tak pernah melakukan kesalahan? Semua orang pernah melakukan kesalahan. Kuncinya adalah mengakuinya, belajar, dan maju terus. Ya....Ia akan maju terus. Umurnya pun masih sangat muda. Masih banyak kesempatan untuk menjadi orang baik. Jalan masih panjang. Jika dia terus berjalan, ia tidak akan tahu, hal besar apa yang telah menunggunya di ujung jalan. Shuji menghapus air matanya. Tekadnya sudah bulat. Ia akan menghadapi semua. Bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan.
Ceklek... Pintu sel dibuka. Seorang perwira polisi berseragam berdiri dengan gagahnya di depan pintu sel.
"Shuji Tetsuya, kau ada tamu."
Tanpa banyak kata, Shuji bangkit dan mengikuti langkah perwira polisi itu, yang menuntunnya masuk ke dalam sebuah ruangan. Begitu pintu dibuka, Shuji melihat Nyonya Yana Nobou bersama dengan Pengacara Teramae telah menunggunya. Ia melangkah dengan cepat menuju kursi tempat Yana berada. Shuji yang terlihat berantakan dengan pakaian tahanan yang melekat ditubuhnya, bersimpuh di kaki Yana memohon maaf atas kesalahan besar yang telah ia lakukan. Dengan tangan bersidekap, Yana menatap Shuji dengan ekspresi dingin.
"Kenapa kau membunuh suamiku." Tanya Yana tanpa basa basi.
"Ampuni kesalahanku, Nyonya.." Jawab Shuji dengan kepala tertunduk.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku.."
"Aku salah, Nyonya." Jawab Shuji dengan suara bergetar.
"Hanya karena kau memergoki suamiku bercinnta dengan wanita itu, kau membunuhnya?"
"Dia menghinaku dengan kata-kata brengsek. Dan memukulku terlebih dahulu. Begitu juga dengan wanita itu. Menatapku dengan tatapan merendahkan. Harga diriku pada saat itu, jatuh sejatuh-jatuhnya."
"Kau ada dendam apa dengan suamiku?"
Shuji mengangkat wajahnya, menatap ke arah Yana yang memandangnya tanpa ekspresi. Sejurus kemudian, Shuji menundukkan wajahnya kembali.
"Tidak ada, Nyonya. Aku tidak punya dendam apapun dengan Tuan Benjiro."
"Kalau begitu, kau pasti punya amarah terpendam dengan wanita itu."
"Shuji. Shuji. Aku mengenal dirimu dengan baik. Kau cemburukan dengan Suamiku ? "
"Atas dasar apa, aku harus cemburu pada suami Nyonya?"
"Kau pikir aku tidak tau, masa lalumu dengan wanita itu. Kalau kau mau tau, aku yang menyuruh Clarisha untuk putus dari mu. Karena pada saat itu, Clarisha sedang meniti karir. Aku tidak ingin, karirnya terganggu hanya karena masalah percintaan. Tapi aku tidak menyangka, setelah itu dia malah bermain api dengan suamiku."
Mata Shuji membulat mendengar penuturan Yana. Ia tidak menyangka, ternyata putusnya hubungan dirinya dengan Clarisha, ada campur tangan Yana di dalamnya.
"Apa kau masih mencintainya, Shuji?"
Shuji menundukkan kepala mendengar pertanyaan Yana.
"Diamnya kau, ku anggap mengiyakan."
"Kau tau konsekuensi dari perbuatanmu itu?"
Teramae menyela pembicaraan mereka.
"Aku tau, Tuan."
"Kau akan menghadapi tuntutan 10 tahun penjara." Ucap Teramae kemudian.
"Aku terima apapun itu untuk menebus semua kesalahanku."
"Mengingat hubungan baik kita selama ini, aku tidak akan membiarkan kau sendiri menghadapi semua tuntutan. Teramae akan menyiapkan pengacara untuk mendampingimu di pengadilan."
"Terimakasih atas semua kebaikan hati Nyonya."
Tanpa berkata-kata lagi, Yana membalikkan tubuhnya, dan pergi meninggalkan ruang interogasi itu. Tek... Tok... Tek .. Tok.. Langkah kaki Yana menggema di lantai kantor. Teramae menyusulnya kemudian. Tetapi ketika Yana telah berada di depan pintu, Shuji yang masih dalam posisi berlutut menghadap ke kursi tempat Yana duduk tadi, dengan lantang bersuara.
"Kalau memang Nyonya mengetahui siapa diriku, kenapa Nyonya mendekatiku?"
Pertanyaan Shuji, mampu menghentikan langkah kaki Yana.
"Kenapa memangnya kalau aku mendekatimu? Bukankah tidak ada yang dirugikan ? Semua atas azas manfaat. Kau memanfaatkan uangku dan aku memanfaatkan tubuhmu. Impaskan?" Ucap Yana tanpa menoleh pada Shuji.
Kemudian Shuji mendengar kembali langkah kaki Yana menjauh. Semakin jauh. Hingga menghilang di ujung lorong.
...****************...