Looking For Murder

Looking For Murder
Watashi Mo Daisukidesu, Fujimaru-san 1



Keiko mengambil ponsel yang ada di saku jas putihnya. Di layar ponselnya terpampang nomor orang yang telah membuat wajahnya memerah beberapa hari yang lalu. Berusaha menyingkirkan rasa ragu yang disebabkan permasalahan pribadi di antara mereka, Keiko melakukan panggilan pada Takagi. Di tangannya telah ada hasil uji DNA mendiang mantan adik iparnya, Adriana dan hasil uji DNA cairan kering yang menempel di baju Clarisha. Untuk kepentingan penyelidikan korban Clarisha, ia dan Sora harus bekerja keras siang dan malam, agar hasil uji laboratorium cepat keluar.


“Halo Dokter, Takagi di sini."


“Halo, Detektif. Bisakah kau ke ruanganku. Aku ingin menyerahkan hasil uji DNA mendiang Adriana dan korban Clarisha."


“Aku tidak bisa menemui mu. Saat ini aku sedang menghadiri rapat dengan komandan Hajime.”


“Baiklah kalau begitu. Aku akan kirimkan saja ke alamat email mu.”


“Baiklah."


“Sebentar." Keiko kemudian mengirim data itu ke alamat email Takagi.


Tak lama kemudian, notifikasi email masuk ke ponsel Takagi.


“Sudah masuk, Dokter. Sebentar aku lihat dulu. “ Takagi membuka email dari telepon pintarnya.


“Hmm.. Aku mengerti, Dokter. “


“Baiklah. Apakah ada yang ingin kau tanyakan ?”


“Aku sekarang berada dalam rapat bersama team penyidik. Bisa kau jelaskan laporan ini ?"


“Bisa, Detektif.”


“Sebentar. Mohon izin Komandan, di ujung telepon ada Dokter Keiko. Beliau akan menjelaskan hasil uji lab mendiang Adriana dengan korban Clarisha.” Ucap Takagi meminta izin pada Komandan Hajime.


“Lanjutkan..” Jawab Komandan Hajime.


“Dokter Keiko silahkan penjelasannya."


“Baik. Begini...” Keiko menjelaskan panjang lebar hasil uji DNA yang telah ia lakukan bersama rekannya.


🧑‍🔬🧑‍🔬🧑‍🔬


Setelah menyelesaikan penjelasannya, sambungan telepon itu pun terputus. Tak lama kemudian Takagi mengirimkan pesan singkat pada Dokter Keiko.


“Dokter, apa malam ini kau ada waktu?”


“Aku belum tahu, ada apa?”


“Malam ini aku berencana mengajak mu makan malam di tempat pertama kita makan waktu itu. Apa kau bersedia?”


“Apakah ada yang sedang kau rayakan?”


“Tidak ada. Cuma ingin mengajakmu makan malam. Sudah lama kan, kita tidak makan malam bersama.”


“Baiklah. Kalau begitu kita bertemu di sana.”


“Kau naik taksi saja. Nanti pulangnya aku yang akan mengantarkan mu."


“ Baiklah. Sampai jumpa. ”


🍜🍜🍜


Sudah 2 jam Keiko berada di restoran Tsuru Ton Tan, kedai makan yang mereka sepakati untuk bertemu. Sambil menunggu Takagi, Keiko telah memesan teh hijau dan beberapa cemilan. Entah sudah berapa puluh kali Keiko melakukan panggilan telepon pada Takagi. Tapi ponsel pria itu tidak dapat dihubungi.


“Aku memang bodoh. Satu jam pertama ketika polisi itu tidak dapat dihubungi, seharusnya aku langsung pulang saja. Entah mengapa aku masih menunggunya di sini.” Ada perasaan kesal dan kecewa bercampur menjadi satu yang Keiko rasakan. Keiko memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi ia memasukkan ponselnya ke dalam tas.


“ Keiko, benarkan itu kau?” Keiko yang sedang sibuk dengan tasnya menoleh ke arah suara seseorang yang tiba-tiba memanggil namanya.


“Geo?”


“Sedang apa kau di sini?”


“Aku hendak makan malam. Apakah Kau sendirian?”


“Seperti yang kau lihat.”


“Boleh aku duduk di sini?”


“Kau sepertinya sedang menunggu seseorang. Teman mu tidak datang ya.. Kalau begitu ayo sekalian saja kita makan bersama.”


“Maaf ini sudah malam. Aku tidak ingin terlambat bekerja besok pagi."


“Ayolah. Sudah lama kita tidak makan bersama. Ku mohon.”


Hati Keiko luluh begitu melihat tatapan mata Geo yang memandangnya penuh harap.


“Baiklah. Tapi sebentar saja."


“Tentu. Setelah makan kau boleh langsung pulang." Geo tersenyum senang.


Mereka kemudian memesan makanan andalan kedai makan itu yaitu mie udon dan seafood. Di tengah santap malam mereka, Geo memesan beberapa botol sake. Ia menuangkan sake ke o-choko* dan memberikannya ke Keiko.


“Aku tidak minum, Geo."


“Ayo lah sedikit saja.“


“Besok aku harus bekerja, Geo."


“Sedikit saja. Makan makanan Jepang tidak enak kalau tidak sambil minum sake."


“Baiklah sedikit saja." Dengan terpaksa Keiko meneguk minuman alkohol hasil fermentasi yang berbahan utama beras dan ragi beras, serta air itu dengan sekali teguk. Begitu sake masuk ke tubuhnya, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Pipi putih Keiko berlahan memerah.


“Geo sepertinya aku mulai mabuk."


Keiko memijit pelipisnya sambil memejamkan mata.


“Kau payah sekali. Baru sekali teguk sudah mabuk."


“Kau memang tidak tau apa-apa tentang aku, Geo. Tiga tahun pernikahan kita, kau anggap angin lalu.”


“Kenapa kau mengatakan hal itu? Dari ujung rambut sampai ujung kakimu sudah aku jelajahi.”


“Kau mesum sekali. “


“Aku memang orang yang sangat mesum, Kei. Kalau aku orang baik-baik, aku tidak akan menyakiti dirimu begitu rupa. Maafkan aku, Kei." Wajah Geo tertunduk lesu.


Keiko tertegun mendengar perkataan Geo. Hati kecilnya bertanya apakah pria yang sudah berstatus mantan suaminya itu, sungguh-sungguh menyesali perbuatannya ?


“Tidak usah kau pikirkan. Semua sudah berlalu. Ayo kita minum lagi."


“Kau mabuk Kei, sudah jangan minum lagi.”


“Aku minum baru satu o-choko. Ayo tuang lagi.” Keiko menyodorkan wadah sakenya ke arah Geo.


“Baiklah. Tapi ini yang terakhir.”


Geo menuangkan sake ke o-choko milik Keiko. Dengan sekali teguk, wanita itu menghabiskan sake yang ada dalam genggamannya.


“Kei. Apakah saat ini ada seseorang yang kau sukai?”


“Tentu saja.” Jawab Keiko dengan wajah memerah karena sake.


“Siapakah pria yang beruntung itu?”


“Pria sialan yang telah berjanji padaku untuk datang malam ini. Aku menunggunya selama 2 jam lebih. Tapi sampai sekarang dia belum datang juga.”


“Berarti tidak ada kesempatan bagiku untuk kembali padamu. Aku menyesali semua perbuatan ku di masa lalu. Tak bisakah kau beri aku kesempatan?”


“Kau pria brengsek, Geo. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama bersama mu. Ahh .. kenapa semua pria yang aku sukai brengsek. Sungguh malang nasibku.” Keiko tertawa. Kepala Keiko tertunduk di atas meja dengan tangannya menggenggam wadah sake.


“Keiko.. “ Suara seseorang memanggil nama Keiko. Geo menoleh ke arah datangnya suara.


🍶🍶🍶


* O-choko : Wadah tradisional yang hadir dalam berbagai macam bentuk, ukuran, warna, dan material. Karena ukurannya relatif lebih kecil, orang-orang seringkali mengisi ulang sake dengan wadah ini, sehingga cocok untuk acara-acara yang lebih intim dan bersahabat.