Looking For Murder

Looking For Murder
Tomaru !!



Sebuah mobil Lexus RX 350 berwarna putih menyusuri pekatnya malam di kota Osaka. Mobil itu melaju dengan kencang begitu keluar dari pusat kota. Suasana jalanan yang ramai berlahan mulai lengang. Kendaraan yang berpapasan dengan mobil itu pun berlahan mulai jarang. Pohon-pohon di pinggir jalan seakan-akan berlari berkejaran mengikuti kecepatan laju mobil. Tiba di pertigaan, mobil putih itu berbelok ke kanan, terus melaju membelah sepinya jalanan. Semakin lama semakin jauh berjalan, berbelok kembali ke kiri memasuki jalanan tak beraspal. Mobil berjalan berlahan. Roda mobil berputar beradu dengan bebatuan, bagai alunan musik perkusi di tengah malam. 10 menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya Eropa dengan pagar besi yang tinggi menjulang di sekeliling rumah. Di bagian dalam pagar dilapisi dengan pagar hidup berjenis Japanese Holy*.



Seorang wanita keluar dari dalam mobil, membuka 2 buah pintu gerbang besar yang saling bertautan, menutup akses orang yang tidak berkepentingan memasuki kediaman itu. Setelah pintu gerbang terbuka, wanita itu berlari kecil menaiki mobilnya kembali. Mobil berlahan memasuki halaman rumah yang luas mengikuti jalur mobil yang sudah di beri aspal. Halaman rumah dipenuhi oleh guguran daun momiji. Bunyi dedaunan kering yang beradu dengan ban mobil sayup terdengar mengiringi kedatangan mereka.


Rumah besar itu terlihat kurang terawat. Lampu taman dan teras rumah pun tidak menyala. Bunga-bunga di halaman seperti kehilangan semangat hidupnya. Suasana gelap dan mencekam tergambar dari aura sekitar rumah itu. Waktu itu sudah lebih tengah malam, wanita muda berambut hitam panjang dengan mengenakan pakaian serba hitam dan jaket kulit hitam keluar dari mobil mewah itu, diikuti oleh seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas lengkap dengan jaket coklat yang masih terlihat tampan.


"Untuk apa kau membawa ku ke sini !!" Ucap pria paruh baya itu dengan ketus.


Pria paruh baya itu adalah Benjiro Nobou. Rumah besar yang ia datangi saat ini adalah rumah peninggalan kedua orang tuanya. Ayah Benjiro seorang pensiunan tentara berpangkat Jenderal. Ayahnya Akimitsu Nobou yang mewariskan sifat keras dan disiplin pada anak semata wayangnya. Sejak pulang dari perang Okinawa yang membawa sejumlah luka fisik mau pun psikis, ia semakin dingin dengan keluarganya. Tubuhnya lumpuh, harus bergantung dengan kursi roda. Jiwa nya tertekan, menanggung kesedihan yang mendalam akibat kehilangan sebagian besar prajurit terbaiknya. Dentuman bunyi meriam, desingan peluru dan teriakan kematian anak buahnya, selalu membayangi sepanjang sisa hidupnya. Akibatnya keluarga yang menjadi korban. Karena tidak tahan dengan keadaan itu, istri sang Jenderal terlebih dahulu mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di kamar mandi. Beberapa bulan kemudian Jenderal Akimitsu menyusul istrinya dengan menembakkan pistol di kepalanya.


Setelah kepergian ke dua orang tuanya secara tragis, Benjiro muda memutuskan untuk pergi merantau, dan meninggalkan rumah besar keluarga mereka. Setelah menikah dan mampu membangun kerajaan bisnis sendiri, Benjiro pernah sekali membawa keluarganya untuk berkunjung beberapa waktu ke rumah itu. Merenovasi beberapa bagian rumah yang rusak. Setelah itu dibiarkan begitu saja. Ia tidak ingin berlama-lama di rumah yang menjadi tempat kematian kedua orang tuanya. Benjiro memiliki amarah yang terpendam kepada kedua orang yang telah menghadirkannya ke dunia. Mereka lebih memilih mengakhiri hidup dan meninggalkan dirinya sendiri.


"Ayah lihat saja". Jawab Hikari dengan wajah datar.


Lampu dan mesin mobil masih dibiarkan menyala.


"Ayah mau tunggu di sini atau ikut aku ke dalam?"


"Aku ikut kau ".


"Ya sudah kalau begitu. Tunggu sebentar, Ayah".


Hikari kembali ke dalam mobil. Ia mengambil sebuah senter yang tersimpan di dalam dashboard, kemudian mematikan mesin mobil dan menutup pintunya. Sambil berjalan ia menyalakan senter.


"Kenapa tidak mau menyala?" Hikari mengetuk-ngetuk sedikit senter besar dengan pegangan itu ke telapak tangannya yang lain.


"Kenapa senter rusak kau bawa-bawa !!". Ucap Benjiro yang mulai kesal.


"Nah, kan hidup". Hikari tersenyum senang. "Ayo Ayah".


Mereka kemudian berjalan beriringan menuju teras rumah. Hikari mengambil kunci rumah dari dalam saku celananya. Memasukkan ke dalam luubang kuncinya. Ceklek. Krieeet.. pintu pun terbuka. Mereka kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Terlihat ruang tamu luas dan gelap menyambut kedatangan mereka. Hikari berjalan menuju tombol lampu. Seketika lampu menyala tak lama kemudian. Suasana yang berbeda terpampang nyata di hadapan mereka. Bagian dalam rumah terlihat bersih dan terawat.


"Siapa yang telah menempati rumahku?".


"Stt. Diam Ayah. Kau ikuti saja aku".


Mau tidak mau Benjiro menutup mulutnya. Ia mengikuti langkah kaki Hikari yang berjalan lebih dalam masuk ke dalam rumah.


"Awasi langkah kakimu Ayah. Jangan sampai kita ketauan".


"Kenapa aku harus mengendap-endap di rumahku sendiri!!".


"Ayah. Aku mohon, ikuti perkataanku". Hikari mulai terlihat frustasi atas sikap Ayahnya.


"Ayo Ayah ikuti saja aku". Hikari tidak ingin berdebat kusir dengan Ayahnya. Ia terus melangkah masuk melewati dapur, menyusuri lorong di belakang dapur, dan berhenti di depan sebuah pintu.


"Tomaru (berhenti) !!!". Seorang pria mendekap erat tubuh Benjiro, tangan kirinya menodongkan kunai ke arah leher pria tua itu.


...****************...


*Sesuai dengan namanya tanaman ini masih merupakan saudaranya American Holy tapi memiliki ukuran yang lebih tinggi dengan batang yang berduri.


** Hari ini, ketika bab aku upload, merupakan hari ke 7 aku bed rest di rumah sakit. InsyaAllah, besok ada sedikit tindakan dengan sakit ku. Mohon do'anya agar semua lancar dan tidak ada efek domino yang mengikuti. Love u all.. 🥰🥰🥰