
Dengan langkah gontai, Shuji pulang ke rumah orang tuanya. Uang yang diselipkan Ayumi di saku celana, hanya bisa dipandanginya dengan sedih. Matanya berkaca-kaca mengingat kenyataan yang baru saja terjadi.
“Ibu aku pulang” Teriaknya begitu sampai di rumah.
Shuji membuka sepatu dan langsung menuju ke kamar ibunya. Keadaan masih sama seperti tadi pagi. Bubur yang ia tinggalkan, masih dalam keadaan utuh.
“Ibu. Kau tidak memakan makananmu?” Wanita itu masih membisu
“Ibu aku mohon, jangan seperti ini. Bicaralah”. Shuji mengusap pipi ibunya dengan derai air mata.
Mendengar tangisan putranya, wanita itu menoleh dan menatap dengan sedih.
“Shuji, hiduplah dengan baik. Maafkan Ibu” Ucap wanita 40an itu tiba-tiba.
“Maksud Ibu apa?”
Wanita itu mengambil uang yang ia selipkan di dalam kasur. Ada robekan disisi kasur yang sengaja di buatnya. Beberapa lembar uang di ambilnya.
“Ambil ini. Tolong belikan Ibu roti isi daging. Hanya ini yang Ibu punya”.
Shuji mengusap matanya yang basah.
“Baiklah, Bu” Shuji beranjak dari sisi ibunya. Tiba-tiba ibunya menggenggam pergelangan tangannya.
“Shuji, berjanjilah kau akan hidup dengan baik”.
“Kenapa Ibu berkata begitu?”
“Berjanjilah”.
“Baiklah, Bu. Aku berjanji”.
Ibu tersenyum mendengar ucapan Shuji, dan melepaskan genggaman tangannya.
“Pergilah. Ibu lapar sekali”.
“Baiklah, Bu. Aku akan segera kembali”
Shuji bergegas keluar. Dengan setengah berlari dia pergi ke toko roti yang ada di ujung blok. Setelah mendapat roti pesanan ibunya, Shuji bergegas pulang.
“Ibu, aku sudah pulang”
Ia bergegas kembali ke kamar Ibu. Tapi, ia tidak mendapati wanita itu di sana.
“Ibu... “ Shuji memanggil-manggil ibunya. Tetap tidak ada jawaban.
“Ibu.. di mana kau. Aku membawa roti pesanan mu. Ini masih panas, Bu”. Ia meletakkan roti itu di atas nakas.
“Ibu, apa kau di dalam?” Shuji mengetuk pintu kamar mandi.
Tidak ada jawaban. Dengan ragu, ia membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci itu.
Kriet..
“Ibuuuu..!!!"
Betapa terkejutnya Shuji, mendapati ibunya terbujur di lantai kamar mandi dengan bersimbah darah. Darah segar mengalir dari pergelangan tangan kirinya, berlahan masuk ke saluran pembuangan air. Sebuah pisau dapur tergeletak tak jauh dari sana.
“Ibu kenapa kau tega melakukan ini padaku”
Tangis Shuji pecah, begitu mendapati ibunya sudah tidak bernyawa.
***
Di depan makam sang ibu, Shuji hanya bisa membisu. Bantuan dari suatu yayasan kremasi untuk penyelenggaraan jenazah sampai ke pemakaman, sangat meringankan bebannya.
Berhari-hari setelah pemakaman, Shuji belum ingin masuk sekolah. Semangatnya seakan menguap, setelah kepergian wanita pelindungnya.
Hari itu, ia memutuskan untuk kembali ke sekolah, setelah teringat janji yang dia ucapkan sebelum kematian ibunya. Pergi ke sekolah berarti harus kembali menghadapi Ayumi. Namun, Shuji tidak punya pilihan lain.
Sejak kematian ibunya, Shuji tinggal seorang diri di rumah mereka. Sesekali ayahnya datang, hanya untuk meminta uang, tapi ia segera pergi setelah tidak mendapati apa yang ia inginkan.
Seminggu 3 kali dia melakukan tugasnya melayani Ayumi dan Ayumi pun menepati janjinya. Bahkan ia juga menanggung biaya hidup dan kelanjutan pendidikan Shuji.
Waktu berlalu, tak terasa pada hari itu adalah tahun ke dua kuliahnya, bersamaan dengan kasus yang menimpa Ayumi. Wanita itu di tangkap dan dijebloskan ke penjara. Ada perasaan lega sekaligus sedih di hati Shuji. Lega karena terbebas dari jerat Ayumi, sedih disebabkan sumber pendapatannya hilang. Mau tak mau ia harus bekerja. Pekerjaan apa yang harus ia lakukan, sementara tubuhnya telah terbiasa bekerja dengan hanya mengandalkan "pedang".
Ia mencoba menebar jerat cinta melalui media sosial. Meng-upload foto dan video yang sedang melakukan gym dengan mengekspose dadanya yang bidang. Pancingannya berhasil. Beberapa tante-tante kesepian menghubunginya secara pribadi. Mereka kemudian melakukan hubungan diam-diam. Setiap Tante tidak mengetahui kalau Shuji juga bermain dengan tante-tante yang lain. Dengan rayuan mautnya, dia berhasil meyakinkan bahwa tiap tante adalah istimewa. You the only one.
Seperti hari itu, Shuji sedang melayani istri seorang pejabat. Dengan dalih personal trainer, Shuji sukses keluar masuk rumah pribadi milik sang pejabat.
Di lain hari, Shuji juga menjadi personal trainer plus plus istri seorang pengusaha.
Melalui media sosial juga, ia berkenalan dan akrab dengan Andriana. Mereka sering ngobrol lewat chat pribadi. Pada suatu hari, Adriana menghubunginya bahwa ia sedang dalam perjalanan ke Osaka. Ia minta dicarikan apartemen untuk menetap di Osaka. Dengan koneksi yang dimiliknya, Shuji berhasil mendapatkan apartemen yang diinginkan Adriana. Shuji juga membantu Adriana memilih kampus terbaik sesuai keinginan wanita itu.
Hari itu Shuji bebas. Dalam arti tidak ada layanan kepada para pelanggan dan pekerjaan kamuflasenya di rumah sakit sebagai perawat ruang gawat darurat juga sedang libur. Ia menelpon Adriana untuk mengajak perempuan itu minum di club malam. Mereka berjanji akan bertemu di Bar Nayuta.
Bar yang populer sebagai “apoteker nokturnal”, bertema gotik, menawarkan koktail khusus yang dibuat oleh para ahli mixology berdasarkan permintaan dan selera tamu. Bar Nayuta tersembunyi di lantai lima sebuah bangunan di sudut yang menambah suasana gelap dan retro. Dengan tempat duduk hanya untuk 20 orang, Bar Nayuta terasa eksklusif namun tanpa biaya tambahan dan menampilkan pertunjukan DJ hampir setiap malam. Bar Nayuta adalah tempat yang sempurna untuk menemukan orang-orang modis yang mencari keindahan bersama dengan minuman mereka - Google.
***