Looking For Murder

Looking For Murder
Lagi-Lagi Sora



Kita kembali ke waktu Sora disekap.


Hari sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sudah lebih dari 2 jam berlalu sejak terakhir kali Sora memutuskan panggilan telepon mereka. Pada satu jam pertama, Hikari masih belum segelisah ini. Perasaannya mengatakan bahwa Sora masih dalam perjalanan pulang. Dengan ponsel masih dalam genggamannya, Hikari menunggu Sora mengabarinya sambil duduk dengan resah di ruang utama rumah keluarga Nobou. Hikari saat itu sedang menemani ibunya nyonya Yana Nobou yang sedang berbicara via telepon dengan pengacara mereka Takeshi Teramae, untuk merencanakan bantuan hukum yang akan mereka berikan pada Yusa.


“Kenapa Sora belum mengabari ku juga?” Hikari berulang kali mengecek ponselnya. “Sebaiknya aku menghubunginya.” Hikari kemudian melakukan panggilan suara pada Sora. Panggilan suaranya diabaikan, ponsel Sora dalam keadaan sibuk.


“Sora sedang menghubungi siapa? Tidak biasanya ia menelepon pada jam-jam segini.” Hikari menunggu selama 15 menit. Pada menit ke 16, ia kembali menghubungi Sora. Namun kondisi sama yang Hikari dapatkan. “Dia sedang menelepon siapa? Kenapa lama sekali?” Hikari mengecek keberadaan Sora dengan aplikasi yang ada di ponselnya. Aplikasi itu mendeteksi GPS yang ada di ponsel Sora. “ Dia mau ke mana? Itu bukan rute menuju ke apartemennya?” Hikari melihat posisi keberadaan Sora melalui layar ponselnya. Sora terlihat berputar-putar di sekitar wilayah padat penduduk. Hikari mengerutkan keningnya. “Aneh sekali.”


“Hikari ayo bantu Ibu menyiapkan keperluan pribadi Kakakmu.”


“Besok saja, Bu. Ini sudah malam.”


“Kau ini..” Dengan wajah marah dan mata mendelik.


“Iya Bu Iya... “ Hikari menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Kemudian ia mengikuti ibunya naik ke lantai dua menuju kamar Yusa. Begitu tiba di kamar Yusa, Yana mengambil tas ransel dari dalam lemari, mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan pribadi lainnya.


Sementara itu Hikari duduk tepi tempat tidur Yusa dan kembali tenggelam dengan ponselnya.


“ Kau ini. Main hp terus. Kenapa kau tidak membantu Ibumu ini. Apa gunanya kau duduk di sana.”


“ Ada sedikit masalah, Bu.”


“Masalah apa lagi?”


“Sora Bu..”


“Ada apa lagi dengan gadis itu?”


“Dia tidak mengangkat panggilanku. Ponselnya sibuk. Dari GPS aku melihat dia menjauh dari apartemennya.”


“Mungkin ada pekerjaan mendadak. Kau kan tahu dia seorang dokter forensik. Profesi yang tidak mengenal waktu. Kau ini seperti tidak mengerti saja.”


“Aku tau. Tapi kenapa perasaan ku tidak enak ya, Bu?”


“Kau ini terlalu berlebihan. Sudah bantu Ibu. Yusa lebih membutuhkan perhatian dari kita keluarganya.” Tidak ada jawab dari bibir Hikari.


“Hikari !! Kau dengar perkataan Ibu ?!!”.


“Iya, Bu..” Dengan berat hati, Hikari menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Kemudian membantu Ibunya berkemas-kemas.


☘️☘️☘️


Awak media sedang menunggu keterangan resmi dari pihak berwajib di luar gedung setelah kedatangan Yusa ke kantor itu. Beberapa jam kemudian tiba-tiba mereka di kejutkan oleh kedatangan rombongan polisi yang menggiring 5 orang pria dengan tangan diborgol masuk ke dalam kantor. Seketika suasana menjadi ricuh begitu seorang wartawan elektronik mengenali salah seorang tersangka.


“Beri jalan !! Beri jalan !!” Seorang polisi mengurai kerumunan wartawan yang mengerubungi para tersangka.


“Mohon penjelasannya, Pak !!” Ucap salah seorang pewarta.


“ Tunggu pernyataan resmi dari pimpinan. Biarkan kami melaksanakan tugas.” Ucap salah seorang petugas pada para wartawan. Setelah itu ia bergegas masuk ke kantor polisi mengikuti rekan-rekannya yang lain.


Sementara itu, Sora dibawa Kaoru ke rumah sakit untuk mendapat perawatan intensif. Dokter Keiko sudah menunggu di lobi rumah sakit dengan brangkar stretcher IGD di samping mereka, beserta dua orang perawat dan seorang dokter spesialis penyakit dalam. Ia berlari begitu melihat mobil Kaoru tiba.


“Bagaimana keadaannya ?”


“Dia baik-baik saja, Dok.”


Tim medis segera menaikkan Sora ke atas tempat tidur dorong itu. Kemudian mereka segera membawa Sora ke ruang instalasi gawat darurat.


“Dokter, aku minta dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Ada kandungan obat yang mereka berikan pada Sora. Aku takut itu membahayakan dirinya.”


“Baik. Percayakan semua pada kami.”


Keiko beserta tim segera menuju ruang pemeriksaan di instalasi gawat darurat. Kaoru duduk di kursi tunggu depan pintu IGD. Mengusap kasar kedua wajahnya, hatinya gelisah bercampur lega. Gelisah karena ia merasa seperti seorang pencuri. Lega. Entahlah lega untuk apa. Rasanya seperti seperti baru saja melepaskan suatu beban berat. Melelahkan tapi puas. Bayangan kejadian panas yang baru saja terjadi antara ia dan Sora kembali menari di pelupuk mata. Teriaakan, desaahan, ekspresi Sora ketika bersamanya, menunjukkan sisi lain Sora yang belum pernah ia lihat. Sungguh hatinya dipenuhi oleh rasa yang beraneka ragam. Satu hal yang Kaoru tidak tau, bagaimana nanti ia harus bersikap jika Sora sudah lepas dari pengaruh obat.


Krieeet.. Pintu ruang IGD terbuka. Dokter Keiko keluar dari dalam ruang rawat.


“ Aku sudah mengambil beberapa sampel. Kita tunggu saja hasilnya. Begitu keluar aku akan segera menyerahkannya padamu. Akan aku usahakan secepatnya.”


“Baik, Dok.”


“ Aku ke laboratorium dulu. ”


🍁🍁🍁


Bersamaan dengan kasus Yusa, kasus yang melibatkan anak pengusaha penyedia jasa pengiriman barang ekspor impor pun ikut bergulir. Pada pukul 10 pagi, polisi melakukan jumpa pers yang menghadirkan kelima tersangka. Billy Takasimura yang berada paling depan, masuk ke ruang pers conference. Komandan Hajime yang di dampingi beberapa stafnya, memberikan penjelasan terkait kasus penyekapan yang menimpa seorang dokter forensik yang berinisial FS. Komandan Hajime menjelaskan keterlibatan masing-masing pihak yang dihadirkan polisi. Polisi juga mengungkapkan adanya unsur dendam yang melatarbelakangi peristiwa itu. Semua berawal dari peristiwa dua tahun yang lalu, yang melibatkan tersangka utama dan korban FS.


Tidak ada raut penyesalan yang ditunjukkan oleh tersangka utama. Wajah congkaknya menatap lurus ke arah media. Seakan-akan apa yang dilakukannya adalah hal biasa. Ia begitu yakin bisa terbebas dari jerat hukum dengan uang yang dimiliki orang tuanya. Demikian menurut pakar mikro ekspresi yang ia ikut berkomentar di suatu acara bincang-bincang. Sementara 4 tersangka yang lain hanya tertunduk lesu. Menyesal sudah tiada guna. Mereka hanya orang suruhan yang bekerja demi uang.


Begitu pers release dari kepolisian ditayangkan, tak berapa lama kemudian muncul penyataan resmi dari orang tua Billy, Tuan Masa Takashimura. Ia menyatakan penyesalan dan permohonan maaf yang mendalam terhadap korban FS. Ia juga berjanji akan membantu biaya pengobatan dan pemulihan korban. Mengenai putranya ia berjanji tidak akan ikut campur dan menyerahkan sepenuhnya terhadap hukum yang berlaku.


Mengetahui ayahnya tidak ingin menggunakan uang dan kekuasaan untuk mengintervensi penegak hukum terhadap kasusnya, Billy bertindak cepat. Ia tidak ingin menjalani hukuman puluhan tahun di penjara sendirian. Melalui pengacaranya, Billy Takasimura melakukan tuntutan balik pada Sora dan Hikari Nobou atas tuduhan penganiayaan berat.


...****************...


Terima kasih untuk Dama, Eno, Tuty, Dania, Ecka, Nury, Fajar, Madam, Neni, Sunny, Dee, Nur, Khadina, Fii, Anita, myfamily, Mulya Ni, Lisna, Monde, Kyy, Gimbul, Usnani, Febri Yanti, Monica Lora, yang sudah meramaikan kolom komentar. (Semoga gak ada yang kelewat, jangan iri lagi ya..🤭). Dan juga para reader yang sudah meninggalkan jempolnya tiap bab maupun yang diam-diam baca tanpa meninggalkan jejak apapun (aku tau kalian ada 😁). Terimakasih sudah mampir di karya recehku. Terimakasih sudah menunggu 🥰🥰 . Jangan ditunggu ya next bab, cz aku bukan merpati yang tak pernah ingkar janji..