Looking For Murder

Looking For Murder
Fumiko Sora 1



Hai hai jumpa lagi dengan author kacang gagal hiatus 🤭. Aku mencoba untuk melanjutkan sesuatu yang katanya "gantung". Seperti yang sudah aku sampaikan, kalau konsepnya aku bikin begitu. Looking For Murder aku artikan mencari pelaku pembunuhan. Segala sesuatu yang dicari kan tidak harus ketemu 🤭. Ya sudahlah, demi kau dan si buah hati ... 🚶🚶🚶🚶 (apa hubungannya 🙄) Bismillah aja lah...🚶🚶🚶. Mohon sabarnya diperlebar ya.. Cz aku slow update... Aku butuh semedi dulu, cari kang Ilham yang lagi banting tulang cari segenggam emas dan sebongkah berlian. Happy reading all...


🌸🌸🌸


Setelah beberapa bulan belakangan disibukkan membantu kasus yang sedang ditangani oleh kepolisian Osaka, hari ini Sora bisa pulang lebih cepat. Pukul 9 malam, Sora sudah berada di lobi rumah sakit, menunggu Hikari yang berjanji akan menjemputnya kali ini. Kondisi Hikari sendiri sudah jauh lebih baik. 2 bulan ia tidak bisa bergerak bebas karena paha kanannya yang tertembus kunai mengalami retak dan harus digips.


Tut Tut tut...


Sora mengambil ponsel yang berada dalam jas kerjanya. Ia tersenyum begitu melihat siapa yang menghubunginya. Dengan cepat ia menyentuh tombol hijau yang ada di layar ponselnya.


“Halo sayang, kau sudah di mana?”


“Aku di depan rumah sakit.”


“Baik. Sebentar lagi aku ke sana. Aku sudah di lobi.”


Sora menutup panggilan itu, dan segera menyimpan ponselnya ke dalam jas kerjanya.


Dengan langkah lebar, Sora bergegas ke luar rumah sakit. Senyumnya langsung mengembang begitu melihat mobil sang kekasih sudah menunggunya di depan rumah sakit. Sora mendekati mobil Lexus broken white itu. Kaca mobil turun berlahan begitu Sora mendekat. Wajah cerah Hikari menyambut kedatangan Sora.


“Hai.. “ Sapa Sora riang.


“Naiklah.” Ajak Hikari.


Tanpa banyak bicara Sora membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Hikari diikuti kaca mobil berlahan naik begitu pintu mobil menutup sempurna.


“Kita ke mana dulu?"


“Langsung pulang saja, aku lelah sekali.”


“Tidak mau makan dulu?”


“Makan di rumah saja lebih enak.”


“Mau beli di mana? Biar sekalian kita mampir.”


“Masak saja yuk.”


“Masak apa? Kita mampir di supermarket dulu?”


“Seadanya saja. Kalau tidak salah di rumahku ada ramen. Masak ramen saja."


“Sungguh tidak mau makan yang lain?"


“Ramen lebih enak .”


“Ya sudah terserah kamu.” Hikari menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil Sora bergelayut manja di lengan Hikari, sesekali Hikari mengecup pucuk kepala Sora dengan lembut.


20 menit kemudian mereka tiba di apartemen Sora. Dengan bergandengan tangan mereka naik ke unit milik Sora yang ada di lantai 2. Begitu tiba di unit milik Sora, Hikari merebahkan tubuhnya di sofa.


“Aku mandi dulu.” Sora langsung menuju kamarnya. Tidak ingin sang kekasih menunggunya terlalu lama, Sora membersihkan dirinya dengan cepat. Mengenakan baju kaos berwarna biru muda longgar yang menutup sampai ke paha atasnya dan rambut panjang sebahu yang terurai basah, Sora keluar dari kamarnya.


“Kau sedang membuat apa, sayang?”


“Secangkir coklat panas, untukmu.” Hikari sedang mengaduk coklat panas dalam gelas keramik motif dorayaki. Ia kemudian menyerahkannya pada Sora. “Minumlah dengan hati-hati, masih panas.”


Perlahan Sora menyeruput cairan coklat yang masih panas itu.


“Auuu..” Bibir Sora memerah akibat coklat panas yang di seruputnya.


“Kan sudah aku bilang, masih panas.” Hikari mengambil gelas coklat panas itu dari tangan Sora dan meletakkannya di atas meja dapur.


“Mana yang sakit.” Hikari menyentuh bibir Hikari dengan ibu jarinya. “Perih ya?"


“Huum.” Dengan wajah memelas.


Hikari yang memiliki tubuh lebih tinggi dari Sora kesulitan melihat bibir Sora yang terluka. Ia mengangkat tubuh Sora, mendudukkannya di atas meja counter dapur. Memiringkan wajahnya mendekat ke wajah Sora. Ibu jarinya menyentuh dagu Sora. Dengan lembut ia mengecuuup bibir Sora yang terluka. Mata Sora sayu menatap wajah Hikari yang tak berjarak dengannya. Kecuuupan lembut Hikari mampu meredakan rasa sakit di bibirnya. Refleks kedua lengan Sora menggantung di leher Hikari. Memejamkan matanya menikmati sentuhan manis yang diberi Hikari padanya. Deesaaahan pelan terdengar dari mulut Sora. Tangan kanan Hikari mengusap perlahan paaha Sora yang terbuka. Deesaaahan Sora semakin dalam.


“Astagaaa.. Apa yang kalian lakukan !!”


Seorang wanita paruh baya beserta seorang wanita muda berdiri di depan pintu dapur dengan ekspresi terkejut. Dua sejoli yang sedang dibakar api asmara refleks memandang ke arah datangnya suara.


Wajah Sora langsung memerah. Ia turun dari meja counter dan berjalan ke arah 2 orang wanita yang baru datang itu.


“Ini rumah rumah anakku. Apa salahnya aku datang untuk menjenguk anak perempuan ku..”


“Anak? Masihkah kau menganggap aku sebagai anakmu, Nyonya Fumiko Nori yang terhormat !!”


“Kakak. Jaga ucapanmu !!!" Wanita muda di samping Nyonya Nori menyela.


“Tutup mulutmu !! Jangan ikut campur dengan hal-hal yang bukan menjadi urusanmu !!” Sora semakin naik darah.


“Kau keterlaluan, Kak. Aku ini adikmu dan dia itu Ibumu. Pantaskah kau berkata begitu dengan keluarga mu?!!”


“Keluarga? Keluarga apa yang dengan teganya menyerahkan anak gadisnya dengan maniac seeeks hanya demi keinginan kalian !!!”


“Ibu kan sudah minta maaf. Itu kesalahan yang tidak disengaja.”


“Tidak disengaja katamu? Mudah sekali mulut kotor mu berkata begitu !!!”


“Cukup !!” Nyonya Nori berteriak menengahi kedua anaknya yang sedang terlibat perang mulut.


“Sora sayang. Ibu minta maaf atas kesalahan Ibu. Sampai kapan kau akan menyimpan dendam yang berkepanjangan seperti ini. Peristiwa 2 tahun yang lalu itu tak bisakah kau lupakan ?”


“Lupakan? Begitu mudah kau ucapkan kata itu. Kau tidak tau bagaimana penderitaan ku selama ini. “


“Sora. Maafkan Ibu..” Nyonya Nori mendekat sambil mengulurkan tangannya meraih tangan Sora. Tangan Nyonya Nori yang hampir menyentuhnya ditepis dengan kasar.


“Kau berhak minta maaf, tapi aku tidak punya kewajiban untuk memaafkan mu.”


“Sora..” Ucap Nyonya Nori tak percaya.


“Keluar !!!” Usir Sora.


“Kak !!!”


“Aku bilang keluar !! Kau juga Fuji bawa Ibu mu keluar dari rumahku. Dan jangan pernah kalian menampakkan batang hidung siaalan kalian lagi di hadapanku !!”


“Kau keterlaluan, Kak !!”


“Maafkan aku Nyonya. Kalian tidak dengar ucapan Sora.” Hikari menuntun Nyonya Nori dan Fuji ke arah pintu keluar.


“Lepaskan. Aku bisa jalan sendiri !!” Fuji menghempaskan genggaman tangan Hikari.


“Gara-gara kau, anakku sekarang menjadi anak durhaka. Dasar manusia jadi-jadian.”


“Jangan sampai aku berbuat kasar ya, pada kalian berdua. Aku bisa meminta pengacaraku untuk menuntut kalian atas tuduhan memasuki properti orang lain tanpa izin. Dan kalian bisa dihukum kurungan selama 2 tahun.” Ucapkan Hikari cukup ampuh membuat nyali ibu dan anak itu ciut.


“Huh.. Ayo Fuji kita pergi saja."


“Awas saja kau nanti...” Fuji mengancam Hikari sambil menunjuk wajah wanita itu.


Setelah kedua orang yang tidak diinginkan itu pergi, Hikari menutup pintu apartemen dan menguncinya. Segera ia melangkah masuk dan mendapati Sora duduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya dengan kepala tertunduk.


“Sayang kemarilah.” Hikari berjongkok di hadapan Sora. Ia meraih Sora ke dalam dekapannya.


Sora mengangkat wajahnya, melepaskan rangkulan pada kedua kakinya, ia merentangkan kedua tangan, kemudian masuk ke dalam pelukan Hikari. Air mata berlahan menetes dari mata indahnya, perlahan turun di kedua pipinya. Air mata itu kemudian mendarat dengan mulus di daada Hikari yang sukses membuat baju kaos yang dikenakannya basah. Hikari bangun dengan menggendong Sora yang masih berada dalam pelukannya. Ia membawa Sora ke sofa kemudian duduk di sana. Cukup lama Sora menangis sesenggukan di dalam dekapan Hikari. Dengan sabar Hikari membiarkan Sora melepaskan semua sesak di dadanya tanpa menyela apapun. Hingga tangis itu pun mereda.


“Sayang, bawa aku pergi dari sini.” Dengan suara bergetar Sora memohon pada Hikari.


“Kemana?” Tanya Hikari lembut.


“Kemana saja. Aku tidak ingin tinggal di sini lagi.”


Hikari cukup paham apa yang dirasakan Sora. Wanita yang pernah mengalami trauma berat ini tidak ingin bertemu lagi dengan ibu dan adik kandungnya yang telah menyebabkan luka yang mendalam di hatinya. Pertemuan yang tanpa direncanakan tadi, cukup mampu membuat luka yang nyaris sembuh itu terkoyak lagi.


“Baiklah. Besok akan aku urus kepindahan mu.”


“Terimakasih sayang. Kau memang yang terbaik.” Ucapan tulus Sora mempererat dekapannya pada wanita yang menjadi penyelamat hidupnya.


🌿🌿🌿


Ada yang masih ingat dengan Fuji ? 🏃🏃🏃