Looking For Murder

Looking For Murder
Kiyoharu Yusa = Ren Takashi = Sota Fukushi 3



Keesokan harinya, Dokter Saito bertanya, ”Maukah anda bertemu dengan yang lainnya?”


"Kalau anda menghendaki begitu.” Yusa menyerah.


“Aku akan memperkenalkan pertama kali dengan Sota.” Kata dokter pada Yusa yang sudah tidur nyenyak karena pengaruh hipnotis. Sota dipanggil. Dia Diam saja. Dokter menunggu. Kemudian suara Yusa terdengar tenang.


“Aku melihatnya.“ Saat itu benar-benar penuh arti. Karena saat itulah untuk pertama kalinya Yusa memiliki kesan dalam penglihatannya tentang salah satu dari pribadi-pribadinya yang lain. Cara Yusa melihat merupakan petunjuk bahwa Yusa bukan menderita psikosis. Sota tidak terlihat melayang-layang di udara, tidak merupakan penglihatan halusinasi melainkan hanya nampak dalam jiwa Yusa. Perkenalan dengan pribadi yang sedang tidur itu, yang sekarang sedang bersama-sama dalam alam ketidaksadaran, berlangsung mudah.


“ Anda melihatnya? Sekarang katakan kepada ku mengapa anda meninggalkannya di belakang ?”


“Karena dia tidak mau menurut apa yang aku katakan.” Ini adalah suatu konsep yang menarik. Suatu pengungkapan adanya jurang pemisah antara pengarahan dari kesadaran dan pelaksanaannya oleh ketidaksadaran.


“ Bagaimana pendapat anda mengenai hal itu sekarang?”


“Aku kira pendapat ku itu sekarang keliru. “ Kemudian Yusa menambahkan “Sota mengulurkan kedua tangannya pada ku, dan ku kira dia menginginkan ku.”


“Bagaimana pendapat anda tentang dia?” Suara dokter terdengar rendah. “Apakah anda menyukainya ? Apakah anda mau bersama dengan Sota sekarang?”


“ Ya. Aku mau dia. Dia milik ku.”


“Sota akan bersama anda.” Dokter menawarkan hubungan dengan Sota.


“Aku menginginkannya.” Yusa mengulangi.


“Dia seusia mu. Dan dia akan menolong mu.” Dokter menerangkan .


“Saya memerlukan pertolongannya.” Yusa mengakui.


“Sekarang bagaimana perasaan anda?”


“Lebih bahagia !” Dengan suara yang hanya sedikit lebih keras dari pada bisikan.


“ Nah Yusa. Ren juga ada di sini. Apakah kau ingin menemuinya?”


“Aku ingin menemui Ren.” Jawab Yusa tanpa ragu.


“Dia telah mengajariku banyak hal walaupun aku belum pernah berjumpa dengannya. “


“ Ia juga telah banyak menolong kita. Dengan menceritakan hal-hal yang lain tidak ketahui atau tidak dapat dikatakan oleh yang lain.” Dokter menjelaskan.


Kemudian Yusa bertanya “ Apakah Ren teman ku ?”


“Hai.” Kata Ren.


“Ren. Ini Yusa.” Ren diam.


“Apakah dia mau berteman dengan ku?” Tanya Yusa.


Dokter meneruskan pertanyaan itu pada Ren.


"Ren apakah kau mau berteman dengan Yusa?"


Dari Ren terdengar jawaban gembira. “Aku ingin sekali.“


“Kalian berdua teruslah bersahabat.“


Tiba-tiba air mata membanjiri mata Yusa. Pemuda yang hampa jiwanya ini menangis karena mempunyai teman dalam dirinya sendiri.


Di antara air mata itu terdengar penegasan dokter. “ Ren adalah bagian dari diri anda. Mengapa Yusa, anda meninggalkannya di belakang ?”


“Aku tidak meninggalkannya. Kalau aku tidak bisa melakukan sesuatu, Ren lah yang melakukannya. Aku tidak meninggalkannya”


“Ren adalah bagian dari diri anda. Dan anda akan sangat menyukainya.”


“Mereka datang padaku dengan suka rela.” Kemudian terdengar pengajuan penerimaan “Mereka adalah aku juga.” Diam lagi. Kemudian Yusa berkata.“ Aku mau pulang itulah keinginan ku.”


“Baiklah. Sekarang aku akan menyentuh siku anda. Kalau anda terbangun, anda Sota dan Ren akan bersama-sama untuk seterusnya, dan tidak akan terpisahkan lagi. Sekarang anda akan bangun. Satu. Anda akan bangun dua, dua, dua. Sekarang bangunlah.Tiga.”


🎐🎐🎐


Dalam setiap analisis masa-masa kemajuan selalu diikuti oleh masa-masa kemunduran.


Tekanan-tekanan yang terjadi di rumah dan di sekolah, membuat Yusa tidak bisa meneruskan terapinya.


Peristiwa pelecehan yang dialami Yusa di sekolah yang dilakukan oleh ibu guru Gina Ayumi, Yusa dibantu oleh Sota. Sota lah yang telah menggantikan posisi Yusa melayani guru mesum itu. Dorongan agresif dalam diri Sota, sekali lagi menyelamatkan Yusa. Sota menghadapi guru Ayumi selama Yusa bersekolah hingga lulus.


Hingga peristiwa menyeramkan itu terjadi....


☕☕☕


Yuk ngopi dulu, serius amat bacanya. Pusing gak baca bab ini ? Aku aja yang nulisnya pusing.... 😩. Lanjut besok ya ? 🤭. kalo gak lupa..🏃🏃🏃🏃